Tutup Iklan
Sejumlah petugas menyosialisasikan kartu pembayaran tol nontunai. (Solopos-Dok.)

Solopos.com, SOLO -- Sulitnya mengontrol keuangan di era menjamurnya dompet digital dan kemudahan akses teknologi finansial menjadi problem masyarakat global.

Effortless Economics menyebut hal itu serupa gagap publik menyikapi penggunaan kartu kredit dan debit sebagai alat pembayaran beberapa tahun lalu. Riset Journal of Experimental Psychology: Applied pada 2008 lalu menyebut semakin gamblang mengeluarkan uang, kita jadi makin enggan berbelanja.

Masyarakat menuju era nontunai ini juga membelanjakan uangnya seperti para pengguna kartu kredit. Kontrol mereka kurang, lantaran kebiasaan mengeluarkan uang jadi lebih gampang, tanpa efek psikologis “rasa bersalah” seperti saat membayar dengan uang tunai. Dampaknya jadi impulsif.

Selain itu, publik juga kerap abai dengan biaya penyerta kemudahan keuangan di era dompet digital. Beberapa transaksi mensyaratkan bunga cukup tinggi, melebihi kartu kredit konvensional. Ongkos kemudahan seperti harga lebih mahal dibandingkan jika membeli langsung di toko juga kerap diabaikan.

Kendati punya dampak negatif, konsumen alias pengguna tetap bisa memetik keuntungan dari kemudahan keuangan di era digital seperti saat ini. Caranya dengan bijak dalam pengeluaran dan manfaatkan promo untuk kebutuhan pokok.

Metode Amplop

The Budget Mom lewat blog pribadinya membagikan pengalaman mengaplikasikan teknik pengelolaan keuangan konvensional ke era digital. Caranya dengan metode amplop.

Sebelum memulai metode amplop, ia lebih dulu merekap pendapatan dan menetapkan target total pengeluaran. Awali kewajiban keuangan dengan membayar tagihan reguler. Baru setelah itu, sisa uang bisa dianggarkan untuk berbagai variabel pengeluaran.

Sistem nontunai disebut punya benefit pelacakan pengeluaran. Dari situ, kita disarankan untuk merekap semuanya sebagai anjakan penentuan penganggaran agar lebih realistis.

Setelah ketemu besaran alokasi dana masing-masing kategori dari hasil pelacakan transaksi sebelumnya, isi atau depositkan uang sejumlah target. Sama seperti prinsip pengeluaran uang dengan metode amplop reguler, kita juga diharamkan membelanjakan uang lebih besar dari pagu yang sudah ditetapkan.

Kedisiplinan untuk tidak spontan mengisi ulang (top up) ketika pagu salah satu kategori yang dibelanjakan sudah habis, menjadi kunci kesuksesan pengelolaan uang di era digital.

Jika sudah beberapa waktu berjalan kita menemukan selalu kehabisan jatah untuk kategori tertentu, dan kita kelebihan di kategori lainnya, saatnya memeriksa kembali penganggaran. Itu pertanda untuk melakukan penyesuaian. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten