Tutup Iklan
Ilustrasi anak-anak bermain handphone (HP). (singaporemotherhood.com)

Solopos.com, SOLO -- Pakar keamanan siber nasional Amerika Serikat (AS) yang mengampu divisi tertinggi alias bidang industri pelayanan keuangan dan pemerintahan, Theresa Payton, membagikan pengalaman mendidik ketiga anaknya agar bisa berseluncur aman di rimba digital.

Penulis buku Protecting Your Internet Identity: Are You Naked Online? yang kini bertugas di Gedung Putih ini menjadi manager untuk perusahaan proteksi sibernya sendiri bernama Fortalice Solutions.

Payton menyebutkan banyak orang tua tidak mengerti bahaya apa yang mengintai -dampak-memakai-senjata-bohong-berulang-kepada-anak" title="Ini Dampak Memakai Senjata Bohong Berulang kepada Anak">anak ketika mereka bermedia sosial atau memberikan akses koneksi internet kepada buah hatinya.

“Seperti pola asuh kebanyakan, ketika anak online, kita wajib tahu mereka mau ke mana saja atau apa saja yang dilakukan anak. Salah satu dinding pertahanan paling aman, tentu saja lewat orang tua,” jelas dia kepada Huffingtonpost, baru-baru ini.

Dia melanjutkan orang tua perlu tahu apa saja yang diakses anak ketika online. Caranya dengan ikut dalam alam mereka, berada di platform yang diakses anak, mencoba games mereka, terhubung dengan media sosialnya, mengarahkan anak memberi tahu orang tua apa saja akun beserta password mereka.

“Bikin semacam kesepakatan. Orang tua tidak akan memata-matai tapi memberikan mereka kepercayaan asalkan anak bisa berkomitmen menjaga kesepakatan,” tuturnya.

Menurut Payton, orang tua juga perlu mengedukasi anak-anaknya. Seiring perkembangan GPS, beberapa aplikasi bisa mengakses pergerakan penggunanya. Selain itu, -tips-menjadi-orang-tua-ideal" title="10 Tips Menjadi Orang Tua Ideal">anak-anak zaman sekarang juga suka menandai lokasi tertentu di media sosial ketika sedang jalan bersama teman-temannya. Penandaan lokasi tersebut bisa jadi celah keamanan buat anak.

Memata-Matai Anak

Orang tua yang mengawasi anaknya ketika mereka mengakses internet sudah tepat. Namun anak-anak biasanya melihat hal tersebut sebagai praktik memata-matai anak.

“Di situlah pentingnya meletakkan fondasi aturan keluarga. Lebih cepat lebih baik. Biarkan anak tahu orang tua ingin membagikan pengalaman berinternet. Kayak pas membantu anak mengerjakan PR,” katanya.

Agar anak nyaman dan tidak merasa terintimidasi atau dimata-matai, orang tua perlu menyampaikan kalau mereka akan mengecek akun anaknya secara berkala. Sebelumnya terlebih dulu bangun dialog dengan si kecil soal monitoring tersebut. Sampaikan tujuannya demi keamanan berinternet.

Payton berpesan pada orang tua untuk tidak lalai menjaga keamanan pribadi keluarga ketika berseluncur di dunia maya. Orang tua perlu paham bagaimana setiap unggahan bisa mengekspos informasi personal. Jalinan informasi tersebut membentuk jejak digital permanen.

Banyak orang tidak berpikir, setiap unggahan hari ini suatu ketika bisa dilacak kembali. Terkadang tujuannya untuk mengecek latar belakang ketika melamar pekerjaan atau kuliah.

“Unggahan foto anak kita di status update mungkin segera hilang setelah hari berganti, tapi sebenarnya itu tetap ada, tersimpan di sebuah rimba siber,” ujar dia.

Salah satu ancaman nyata yang mengancam anak zaman sekarang adalah sexting dan revenge porn. Dampak instannya tentu saja terkait perisakan siber atau dipermalukan di dunia maya.

“Kita juga perlu berdialog dan berlaku sopan di dunia maya. Sama seperti keseharian kita,” katanya.

Payton juga mewanti-wanti para orang tua agar mengajarkan anaknya soal membangun citra digital, tujuannya untuk menghindari hal tidak diinginkan di kemudian hari. Ajarkan soal persona digital tersebut sebelum anak punya alamat surel pribadi, akun media sosial, bila perlu sebelum pegang telepon pintar.

Aturan Jalan Terus

Ketika melakukan riset untuk buku anyarnya, Payton menemukan fakta banyak anak-anak mengobrol lewat video atau teks di kamarnya sendiri. Lebih dari setengah anak melakukan aktivitas ini sembari duduk di atas kasur. Dan tidak ada orang tua terlihat mengawasi selama mereka mengobrol.

“Aku selalu berpesan kepada anak-anak boleh mengerjakan PR di kamar. Kalau mau bermedia sosial ya gunakan ruang keluarga. Aku selalu memonitor aktivitas ini. Bahkan ketika sedang tidak ada di rumah. Aturan tetap jalan terus.”

Selain itu, Payton mengatakan yang tak kalah penting, orang tua perlu mengedukasi anak dalam berjejaring di media sosial.

Saat mengajar anak berumur 12 tahun sampai di kampus, dia pernah bertanya, “Jika kalian mendapatkan teman dari temannya teman, kalian terima apa enggak?”.

Ternyata mayoritas anak menjawab menerima. Alasannya sungkan kalau menolak jaringan pertemanan. Padahal prinsip orang asing bisa jadi berbahaya tak hanya berlaku di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

“Pastikan anak-anak tahu bahwa chat room sangat terbuka lebar, gampang digunakan, dan jadi celah melakukan kejahatan bagi orang berniat tidak baik atau pedofil,” kata dia. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten