Tiongkok Era Revolusi Industri 4.0
Suwarmin/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (12/8/2019). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Harian Umum Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id. 

Solopos.com, SOLO -- Pesawat yang saya tumpangi, Cathay Dragon, melayang-layang di atas Kota Hangzhou, Rabu (7/8). Waktu itu, Rabu menjelang sore, Cathay Dragon laksana naga terbang yang hendak hinggap di Bandara Internasional Hangzhou. 

Dari dalam pesawat, pemandangan Kota Hangzhou seperti barisan kotak-kotak, yang awalnya kecil, lalu lama-lama membesar. Barisan kotak-kotak itu lama-lama kelihatan jelas sebagai bangunan apartemen, gedung bertingkat, tower, berbaris-baris sangat rapi.

Sudah lama saya mendengar Tiongkok bukan lagi Negeri Tirai Bambu, tapi telah bertransformasi menjadi negeri tirai beton. Tiongkok memang telah bertiwikrama menjadi negara adidaya ekonomi dunia. Tiongkok bukan hanya berani berperang dagang head to head dengan Amerika Serikat.

Tiongkok bahkan unggul jauh dalam neraca perdagangan. Sampai Jumat (9/8), posisi perdagangan Tingkok dengan Amerika Serikat surplus 11,1% untuk keunggulan Tiongkok. Amerika Serikat menerapkan kebijakan kenaikan tarif atas barang-barang dari Tiongkok.

Pada satu semester tahun ini, neraca perdagangan Tiongkok  masih surplus US$168,5 miliar atas Amerika Serikat. Secara keseluruhan, menurut catatan China Daily, ekspor Tiongkok dalam tujuh bulan pertama tahun ini tumbuh 4.2 % year on year senilai 17,41 triliun yuan atau setara US$2,47 triliun.

Bandingkan dengan neraca perdagangan Indonesia semester pertama tahun ini yang menurut bisnis.com defisit US$1,93 miliar. Kemakmuran ekonomi Tiongkok itu membuat masyarakatnya makin kaya, pembangunan infrastruktur berjalan sangat cepat. Gedung pencakar langit menghiasi berbagai kota di Tiongkok. Jalur tol dan kereta api cepat dibangun di mana-mana.

Kemegahan Hangzhou seolah-olah mewakili kegagahan ekonomi Tiongkok. Inilah kota yang menggabungkan romantisme lama dengan modernitas yang serbadigital. Romantisme Tiongkok lama diwakili West Lake, danau tua yang dulu sering kali menjadi tempat persinggahan para pujangga Tiongkok dan beberapa kali dikunjungi kaisar Tiongkok untuk berwisata.

Era baru diwakili ribuan tower bangunan gedung, hotel, perkantoran, dan apartemen. Hangzhou melampau kota-kota di negara paling maju sekalipun. Hangzhou mempunyai pasar tradisional dengan sistem pembayaran yang serbadigital.

Perdagangan Digital

Semua pedagang terdata secara digital, ditandai dengan barcode di depan toko yang bisa dibaca siapa saja. Khusus pedagang unggas, pada kaki unggas dipasang barcode yang bisa melacak kapan ayam atau itik disembelih, siapa penyembelihany, di mana disembelih, dan seterusnya.

Di kota ini, juga di kota besar lainnya, tak ada lagi sepeda motor berbahan bakar minyak. Semua motor yang berlalu lalang adalah motor listrik. Bagi Anda yang suka bersepeda, banyak sepeda tersedia di dekat halte-halte bua atau tempat strategis lainnya yang bisa dipakai siapa saja, cukup dengan memindai barcode di bagian kunci sepeda. 

Di Hangzhou ada pula Fly Zoo Hotel, hotel dengan fasilitas artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan nomor wahid di dunia. Di Fly Zoo Hotel  orang bisa check in tanpa dibantu resepsionis. Tamu bisa meminta layanan robot untuk berbagai urusan, seperti mematikan lampu, membuka tirai jendela, atau mengambilkan barang.

Ada pula robot yang bisa meracik minuman bak bartender restoran. Hanzhou merupakan markas Alibaba Corp., perusahaan dagang eletronik atau dagang-el (e-commerce) nomor satu di dunia yang kini terus berkembang ke seluruh dunia dengan segala bisnis turunannya.

Alibaba tidak sendirian memimpin ekonomi Tiongkok. Ada Tencent dan Huawei yang tak kalah gemilang. Huawei kini menjadi pemain utama di lebih dari 170 negara di dunia dan semakin berada di depan dengan prakarsa teknologi seluler generasi kelima atau 5G.

Tak mengherankan banyak muncul mobil tanpa pengemudi (driverless car) atau pabrik-pabrik yang dijalankan robot dengan presisi sempurna. Huawei kini menjadi poros perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Teknologi yang dikuasai Huawei telah mendorong isu teknologi menjadi isu geopolitik yang panas.

Tiongkok berada di barisan depan pemegang teknologi AI dan e-commerce yang menjadi penanda peradaban modern. Memang ada beberapa catatan minor, seperti kebanyakan fasilitas toilet umum di negeri itu yang kotor. Hal yang sama  juga terlihat pada kebanyakan mobil yang melintas di jalan raya, meskipun banyak yang merupakan mobil Eropa keluaran terbaru.

Bahasa

Lalu lalang sepeda motor listrik juga tak dilengkapi dengan helm pengaman yang memadai. Rendahnya penguasaan bahasa Inggris warga Tiongkok menjadi salah satu yang menonjol. Mungkin karena faktor bahasa inilah, sebagai negara dengan jumlah pendudukan terbesar di dunia, Tiongkok merasa berhak menentukan bahasanya sebagai bahasa internasional sehingga bangsa lain yang harus mengikuti.

Hal ini pula yang terlihat saat Tiongkok mengooerasikan sendiri otoritas Internetnya. Tak ada Whatsapp, Google, Facebook, Instagram, atau Twitter. Yang ada adalah Wechat, Renren, Tencen, Baidoo Tieba, Sina Weibo, dan lain-lain.

Bagaimana kita yang sebenarnya tergolong bangsa besar di dunia (paling tidak dari sisi junlah penduduk) harus menempatkan diri dalam belantara kemajuan global yang kini di depan mata? Membiarkan diri kita ikut arus dengan berpacu sebagai masyarakat konsumen, berebut membeli yang serbabaru buatan negara lain, atau mencoba membuat sesuatu yang baru?

Menjadi masyarakat atau bangsa pencipta teknologi bukanlah perkara mudah. Kita masih sibuk berkutat pada isu-isu yang tidak produktif yang  mendorong kita menjadi bangsa yang semakin kerdil.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom