Foto aerial simpang susun Adiwerna ruas Tol Pejagan-Pemalang di Tegal, Jawa Tengah, Jumat (18/5/2018). (Antara - Hafidz Mubarak A)

Solopos.com, KLATEN -- Tim survei mulai turun ke desa-desa di Klaten yang bakal dilintasi tol Solo-Jogja-Kulonprogo. Tim tersebut datang untuk survei lapangan.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, tim tersebut mendatangi pemerintah desa dan mengajukan pertanyaan ke aparatur desa. Desa-desa yang didatangi di antaranya di Kecamatan Karanganom dan Ngawen.

Kepala Desa Beku, Kecamatan Karanganom, M. Mudrik, mengatakan survei dilakukan sekitar dua pekan lalu. “Terakhir itu satu orang. Saya ditunjukkan gambar satelit soal wilayah yang rencananya dilewati jalan tol di Desa Beku,” kata Mudrik saat ditemui Solopos.com di Beku, Kamis (25/10/2018).

Survei itu terkait data kondisi area yang rencananya dilewati jalan tol. Ia mencontohkan data tersebut seperti keberadaan bangunan.

“Lokasi yang akan dilewati itu ada apa saja? Ada situs bersejarah atau tidak, ada makam atau tidak, apakah ada masjid atau perumahan? Pertanyaannya sebatas itu, tidak sampai menanyakan soal harga tanah,” jelasnya.

Mudrik menuturkan dari gambar yang ditunjukkan mayoritas lokasi yang dilintasi berupa sawah meski ada sebagian rumah serta makam. Total panjang jalan tol yang rencananya melintasi Desa Beku sepanjang 1,2 km dengan lebar 90 meter hingga 120 meter.

Soal kelanjutan dari hasil survei tersebut, Mudrik belum mengetahui termasuk soal kapan sosialisasi ke warga. Disinggung gambaran jalan tol yang akan melintasi wilayahnya, ia menuturkan dari informasi yang ia terima berada di darat.

“Tol layang itu katanya di Jogja. Namun kepastiannya seperti apa saya sendiri juga tidak tahu,” urai dia.

Ia mengatakan kedatangan tim tersebut bukan kali pertama. Sekitar dua bulan lalu, tim sudah mendatangi pemerintah desa setempat.

Tim berasal dari Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk survei lapangan jalan tol Solo-Jogja-Kulonprogo.

“Beberapa warga memang ada yang sudah tanya apakah jalan tol akan lewat Beku atau tidak. Saya jelaskan apa adanya,” ungkapnya.

Selain Desa Beku, tim survei mendatangi desa lainnya di Kecamatan Karanganom seperti Desa Ngabeyan, Desa Troso, serta Desa Jungkare. Kepala Desa Jungkare, Ananti, membenarkan ada tim yang mendatangi desanya dan menjelaskan rencana jalan tol akan melintasi Desa Jungkare.

“Memang sudah ada yang datang ke sini. Namun, saya belum sampaikan ke warga karena memang belum ada sosialisasi langsung ke warga,” kata Ananti.

Rencana pembangunan jalan tol juga bakal melewati wilayah Kecamatan Ngawen. Salah satunya Desa Gatak. Informasi yang dihimpun Solopos.com, rencana pembangunan jalan tol mayoritas melintasi lahan persawahan di desa tersebut.

Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Gatak, Maryono, mengatakan kedatangan tim sebatas pemberitahuan ke pemerintah desa soal rencana pembangunan jalan tol.

“Yang datang itu satu orang. Soal asalnya dari mana saya tidak tahu. Jalan tol itu kan masih sebatas rencana. Bisa saja bergeser-geser lokasinya. Soal nantinya seperti apa saya sendiri tidak tahu karena itu kewenangan pemerintah sana,” jelas dia.

Kepala Bappeda Klaten, Sunarno, mengaku belum ada pembahasan atau surat resmi terkait rencana proyek jalan tol Solo-Jogja-Kulonprogo yang rencananya mulai dibangun pada 2019. Hal itu termasuk surat tembusan survei oleh tim Kementerian PUPR.

Lantaran hal itu, ia menjelaskan Pemkab belum bisa menyampaikan lebih lanjut rencana pembangunan jalan tol termasuk potensi lahan yang dilewati. “Kalau sudah ada suratnya tentu akan kami kaji [daerah yang dilewati],” kata Sunarno.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten