Kategori: Nasional

Tidak Jajan Kuliner di Luar Tapi Tertular Covid-19, Tokoh Ini Berbagi Kisahnya


Solopos.com/Tika Sekar Arum

Solopos.com, JAKARTA -- Penyintas Covid-19, Hamid Abidin, menuturkan kisahnya bisa tertular virus corona jenis baru itu gegara tak tertib saat menyantap makanan atau kuliner.

Padahal, pria yang juga Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia tersebut tidak jajan kuliner di luar kantornya. Dalam tulisan yang dikutip Solopos.com dari laman covid19filantropi.id, Hamid mengatakan awalnya tak menduga dia terpapar Covid-19.

Meski tertular Covid-19, dia mengaku tak mengalami gejala layaknya sebagian besar orang yang terjangkiti virus ini, seperti demam, batuk, atau kehilangan kemampuan indra penciuman dan perasa.

Siap-Siap, Pemprov Jateng akan Gelar Tes Covid-19 Acak di Objek Wisata Saat Libur Panjang

“Saya optimistis tidak terpapar karena semua gejala Covid-19 tidak saya alami. Tak ada panas dan demam tinggi, batuk-batuk atau kehilangan [kemampuan] indra penciuman dan perasa. Hanya ruas jari tangan dan kaki sedikit nyeri,” kata dia seperti dikutip Sabtu (24/10/2020).

Namun, begitu hasil tes swab keluar dan positif, mau tak mau dirinya harus melakukan isolasi mandiri.

Bagaimana Hamid tertular Covid-19? Dia mengatakan hal itu berawal saat dia mengikuti rapat di sebuah kantor di kawasan Depok pada awal Oktober 2020. Rapat itu digelar tatap muka karena dirasa lebih efektif dan produktif daripada meeting virtual.

Derita Warga Miskin Myanmar Makan Ular & Tikus Selama Lockdown

Makan Siang

Rapat hanya diikuti empat orang di ruang tertutup dengan menerapkan protokol kesehatan. Selain menjaga jarak, semua peserta rapat memakai masker. Bahkan ada yang menggunakan masker dan face shield sekaligus.

Penerapan protokol kesehatan itu buyar ketika makan siang datang. Saat itulah dia diduga tertular Covid-19. “Yang membuat kami sedikit lengah adalah kehadiran beragam camilan dan makan siang yang disediakan di ruangan rapat. Itu ritual rutin dan bagian terpenting dari sebuah meeting,” imbuh dia.

Saat makan itulah, peserta rapat beberapa kali membuka masker untuk minum dan mengudap camilan. Bahkan, mereka membuka masker cukup lama saat makan siang sambil melakukan berbincang santai.

Keren! Pedagang di Pasar Sragen Ini Beralih Jualan Online hingga Dilirik TKW

“Empat hari setelah meeting tersebut, saya dapat info bahwa salah satu peserta rapat positif Covid-19. Saya beserta semua peserta rapat dan penghuni kantor memutuskan menjalani tes swab. Hasilnya, beberapa orang dinyatakan positif,” ujar dia.

Menurut Hamid, kejadian ini menjadi pelajaran berharga bahwa kegiatan makan bersama berpotensi besar menjadi ajang tertular Covid-19. Makan bersama ini tidak harus makan/jajan di restoran, namun bisa juga saat makan di lingkungan kerja.

“Saya awalnya beranggapan bahwa ini [penularan] hanya bisa terjadi di restoran atau rumah makan. Nyatanya, saya tidak terpapar saat makan di restoran, tapi justru saat makan bareng di sebuah ruang rapat yang tertutup dengan salah seorang yang positif Covid-19. Karena, justru saat makan itulah kita membuka masker dalam waktu relatif lama. Apalagi makannya sambil ngobrol, sementara jarak dengan masing-masing orang tidak terlalu jauh,” jelas dia.

Share
Dipublikasikan oleh
Tika Sekar Arum