Terungkap! Tak Ada Survei Lokasi Sebelum Siswa SMPN 1 Turi Susur Sungai Sempor
Warga berdatangan ke Sungai Sempor. di Turi, Sleman, lokasi tenggelamnya siswa SMPN 1 Turi, Jumat (21/2/2020). (Harian Jogja-Hafit Yudi Suprobo)

Solopos.com, SLEMAN – Polisi menyelidiki peristiwa maut susur Sungai Sempor, Sleman, yang mengakibatkan 10 siswa SMPN 1 Turi meninggal dunia. Dari penyelidikan itu, polisi mengetahui tak adanya survei lokasi sebelum kegiatan pramuka itu dilakukan.

Seperti diketahui, sebanyak 10 siswa meninggal dunia saat susur sungai Sempor dan 23 orang mengalami luka-luka. Awalnya, debit air di Sungai Sempor memang masih kecil. Namun kemudian ketika sebagian besar siswa berada di dalam sungai, tiba-tiba saja air yang deras datang dari atas karena di hulu sungai tersebut hujan deras.

Penanggungjawab Pengelolaan Stadion Manahan Solo Belum Dipastikan

Akibatnya, sebagian siswa meninggal dunia. Polisi pun sudah memeriksa 13 orang dan satu orang pembina Pramuka ditetapkan sebagai tersangka. Dari hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan oleh polisi, ada kelalaian dalam kegiatan itu.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto menuturkan, pembina tidak melakukan survei lebih dulu. Mereka beralasan salah satu dari tujuh pembina merupakan warga setempat sekaligus salah satu penggerak desa wisata di kawasan Sungai Sempor.

Selain itu, sebagian besar siswa yang ikut susur sungai tersebut adalah anak-anak di sekitar Sungai Sempor. Oleh karenanya, pembina menganggap siswa-siswa tersebut mengetahui seluk beluk Sungai Sempor. “Karenanya dianggap mengetahui persis lokasi susur sungai,” kata Yuli seperti dikutip dari Suara.com, Minggu (23/2/2020).

Model Seksi Ini Dilamar 50 Pria Setiap Hari

Namun, pembina lalai bahwa peserta susur sungai adalah anak-anak. Padahal, kegiatan itu seharusnya dilakukan oleh orang dewasa. Panitia juga tidak memperkirakan apakah para siswa tersebut bisa berenang atau tidak. “Dan ini akibatnya memang fatal. Seperti yang sudah terjadi,” kata Yuli.

Kegiatan susur sungai tersebut juga tidak dikoordinasikan dengan pengelola desa wisata di kawasan tersebut. Jika sebelumnya sudah dikoordinasikan, maka tentunya pengelola wisata kawasan tersebut akan melakukan pendampingan dan faktor keselamatan akan lebih diperhatikan.

Pekan Depan, Persis Solo Tantang Semen Padang

Ketika susur sungai dikoordinasikan, lanjut Yuli, tentu saja para peserta akan mengenakan pakaian yang lebih aman dan juga dilengkapi pelampung ataupun helm sebagai pelindung kepala. “Pakaian yang dikenakan juga akan disesuaikan dengan arahan, bukannya mengenakan rok panjang seperti yang dipakai oleh para korban meninggal dunia,” tandasnya.

Sumber: Suara.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho