Terungkap! Pabrik Pupuk Palsu Di Wonogiri Pakai Bahan Sama Untuk Semua Varian Produk
Kapolda Jateng, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel (dua dari kiri), mengecek pabrik pembuat pupuk palsu di Dusun Pule 002/RW 010, Gedong, Pracimantoro, Wonogiri, Kamis (27/2/2020). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- Salah satu pabrik pupuk palsu yang dibongkar aparat Polda Jateng di Pracimantoro, Wonogiri, diketahui menggunakan bahan sama untuk semua jenis pupuk yang diproduksi.

Pemilik pabrik memberi merek dan jenis pupuk hanya berdasar warna. Tak heran pupuk tersebut tak memberi dampak terhadap perkembangan tanaman padi.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Jumat (28/2/2020), para pemilik pabrik pembuatan pupuk diduga palsu di Wonogiri dan Gunung Kidul, DIY, menggunakan cara dan bahan yang sama dalam proses produksi.

Bahan yang mereka gunakan pun asal-asalan saja, yakni kalsit (serbuk gamping), kaolin (serbuk tanah liat), basar (batuan yang dilembutkan), serbuk arang, dan pewarna.

Eks Tukang Rosok di Klaten Kantongi Rp80 Juta/Bulan dari Jualan Sup Ayam

Penelusuran Solopos.com di pabrik milik Teguh Suparman, 54, di Dusun Pule 002/RW 010, Kelurahan Gedong, Pracimantoro, Wonogiri, tidak ada pemilahan bahan baku. Semua bahan baku ditempatkan di lokasi yang sama.

Ada tempat untuk mencampur berbagai bahan. Pabrik itu memiliki empat mesin pembuat granul atau butiran yang berbentuk seperti wajan berukuran besar. Selain itu terdapat dua oven berbentuk tabung.

Salah satu pekerja, Iswanto, 39, membeberkan bahan yang digunakan untuk membuat beberapa jenis pupuk sama saja. Prosesnya menyesuaikan jenis pupuk yang diinginkan, yakni NPK atau SP-36.

Polisi Sragen Ajari Anak-Anak Cara Melawan Penculik

Dia mencontohkan pembuatan pupuk jenis SP-36 bahan dasarnya kalsit, kaolin, dan basar dicampur dengan serbuk arang sebagai pewarna hitam. Setelah tercampur bahan dibuat butiran kecil menggunakan mesin berbentuk wajan besar yang berputar.

Pada proses itu akan menghasilkan pupuk SP-36 setengah jadi. Selanjutnya produk dioven. Setelah itu produk diayak atau disaring menggunakan alat tertentu.

Iswanto menyebutnya screen. Hasil penyaringan kemudian dikemas menggunakan kresek berukuran 50 kg/kresek. Produk diberi warna hitam agar menyerupai SP-36 asli.

Hujan Tak Mengganggu, Fondasi Bore Pile Flyover Purwosari Solo Rampung Pekan Depan

“Kalau mau bikin jenis lain bahan yang tidak dipakai hanya arang. Bahan yang sudah tercampur tinggal diberi warna saat proses pembentukan granul. Pewarnaannya dengan cara disemprotkan,” kata Iswanto diamini rekan kerjanya di pabrik, Sriyono, 36.

Selain hitam, pabrik itu juga membuat pupuk warna biru dan putih. Hitam untuk jenis SP-36, biru diberi merek Prima Plus dan Mutiara, sedangkan putih hanya kaolin tanpa campuran.

"Kaolinnya buat apa kami enggak tahu," kata Iswanto.

Dia melanjutkan proses produksi tergantung pesanan. Satu pesanan bisa mencapai beberapa ton yang dikerjakan beberapa hari.

Selama bahan tersedia produksi lancar. Pengadaan bahan dan pesanan diurus pemilik pabrik.

Tipu Ratusan Orang, Karyawan Diler Motor Nusantara Sakti Sragen Jadi Tersangka

Iswanto dan teman-temannya tak mengetahui, hanya mengerjakan perintah pemilik pabrik. Saat tidak ada order proses produksi libur.

“Saya tidak tahu pupuk yang kami buat ini palsu. Kami hanya mengerjakan sesuai perintah Pak Teguh. Hasil produksi diedarkan ke mana saja kami enggak tahu,” ucap warga Jeruk Gulung, Melikan, Rongkop, Gunung Kidul yang sudah lebih dari setahun bekerja bekerja itu.

Anggota staf perwakilan daerah penjualan Wonogiri Karanganyar Sukoharjo PT Petrokimia Gresik, Afik Dwi Warsono, menegaskan pembuatan NPK, SP-36, urea, atau pupuk lainnya menggunakan bahan khusus.

Dia menjelaskan pupuk harus mengandung unsur yang dibutuhkan tanaman sesuai standar. SP-36 mengandung pospat (unsur P), urea mengandung nitrogen (unsur N), dan NPK campuran antara unsur N, P, dan kalium (K).


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho