Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air PK-LQP berhasil ditemukan Senin (14/3/2019) pukul 08.40 WIB. (Istimewa-Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut/Pushidrosal)

Solopos.com, JAKARTA -- Seorang pilot ketiga menjadi penyelamat dalam penerbangan Lion Air beregistrasi PK LQP, beberapa jam sebelum pesawat  Boeing 737 MAX 8 jatuh ke Laut Jawa pada 29 Oktober 2018 lalu.

Dilansir Bloomberg, seorang pilot yang sedang tak bertugas menjadi penyelamat seluruh kru dan penumpang setelah mengatasi masalah dalam penerbangan Lion Air PK LQP itu dari Denpasar ke Jakarta pada 28 Oktober 2018.

Berdasarkan dua orang sumber yang terlibat dalam investigasi jatuhnya Lion Air, pilot tersebut kebetulan menumpang dalam penerbangan dan duduk di kursi cadangan dalam kokpit.

Pilot tersebut mampu mendiagnosis masalah dengan tepat dan menonaktifkan sistem kontrol penerbangan yang mengalami malfungsi. Pilot itu lalu meminta kru untuk memutus arus listrik ke motor yang menggerakkan hidung pesawat ke bawah. Pesawat pun berhasil mendarat dengan selamat di Jakarta.

Keesokan harinya, dalam penerbangan dai Jakarta ke Pangkalpinang, pesawat tersebut disebut mengalami masalah yang sama sesaat setelah lepas landas. Akhirnya pesawat tersebut jatuh dan menewaskan seluruh 189 orang di dalamnya.

Fakta ini dapat menjadi petunjuk baru dalam penyelidikan kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air. Hasil penyelidikan awal pada kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines pun menunjukkan adanya kemiripan dengan kecelakaan Lion Air. Kehadiran pilot ketiga ini belum pernah diungkapkan sebelumnya oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Lion Air, serta Boeing.

“Semua data dan informasi yang kami miliki di penerbangan dan pesawat telah diserahkan ke KNKT. Kami tidak dapat memberikan komentar tambahan pada tahap ini karena penyelidikan yang sedang berlangsung atas kecelakaan itu," kata juru bicara Lion Air Danang Prihantoro melalui telepon, seperti dilansir Bloomberg.

Laporan KNKT mengatakan pesawat mengalami beberapa kegagalan pada penerbangan sebelumnya dan belum diperbaiki dengan benar. Namun perwakilan Boeing menolak untuk mengomentari penerbangan sebelumnya.

Sistem keamanan--yang dirancang agar pesawat tidak naik terlalu curam mengalami stall--itu telah dicek oleh penyelidik kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines. Sensor yang rusak diyakini telah membuat komputer pesawat Lion Air berpikir bahwa pesawat perlu menurunkan hidung secara otomatis untuk menghindari stall.

Sejak 13 Maret, regulator penerbangan AS (FAA) melarang operasi seluruh pesawat Boeing 737 Max setelah ditemukannya kemiripan masalah pada kecelakaan Ethiopian Airlines 10 Maret lalu dengan kecelakaan Lion Air.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten