Macan tutul yang tertangkap di Dusun Gondang, Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, saat masih hidup dan dititipkan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau Solo Zoo. (Solopos/Mariyana Ricky P.D.)

Solopos.com, SOLO -- Penyebab kematian https://soloraya.solopos.com/read/20181222/489/960594/macan-tutul-gunung-lawu-jadi-tontonan-warga" title="Macan Tutul Gunung Lawu Jadi Tontonan Warga">macan tutul Gunung Lawu yang dititipkan di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau Solo Zoo akhirnya terungkap. Hewan berjenis kelamin betina berumur dua tahunan itu diketahui menderita sakit komplikasi.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Titi Sudaryanti, mengatakan dari hasil autopsi, macan tersebut mengalami kanker paru-paru dan radang organ dalam.

“Tapi saya enggak mengetahui penyebab penyakit itu apa ya, karena saya bukan dokter hewan,” kata dia kepada Solopos.com, Jumat (6/9/2019).

Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah (Perusda) TSTJ Solo, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santosa, membenarkan informasi tersebut. Ia memerinci https://soloraya.solopos.com/read/20190108/494/963777/macan-tutul-di-solo-zoo-diminta-segera-dikembalikan-ke-gunung-lawu" title="Macan Tutul di Solo Zoo Diminta segera Dikembalikan ke Gunung Lawu">penyakit radang itu menyerang limpa, ginjal, dan hati.

“Ya, kami sudah maksimal merawat macan tutul tersebut, sesuai prosedur yang ada. Logika sederhana, satwa yang ada semua dirawat dengan baik, tapi hukum alamnya pasti ada yang sakit dan lahir di Solo Zoo,” kata dia saat dihubungi terpisah.

Saat ini bekas kandang https://soloraya.solopos.com/read/20181202/494/956382/2-macan-tutul-di-gunung-lawu-terdeteksi-induk-anaknya" title="2 Macan Tutul di Gunung Lawu Terdeteksi, Induk dan Anaknya?">macan tutul itu masih dikosongkan. Pintu pemisah antara kandang tersebut dengan kandang harimau Sumatra di sebelahnya untuk sementara dibuka.

“Ke depan akan kami isi harimau benggala dari Semarang Zoo. Saat ini masih dalam proses administrasi. Kalau ke depan ada titipan lagi dari masyarakat atau BKSDA, kami juga masih memiliki sejumlah kandang kosong,” ucapnya.

Sebagai informasi, macan bernama latin Panthera pardus melasitu itu tertangkap di Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, akhir Desember 2018. Perangkap yang dipasang BKSDA berhasil menangkap hewan itu setelah beberapa pekan memangsa hewan ternak warga.

Sejumlah pihak sempat meminta agar hewan tersebut dikembalikan ke habitatnya, salah satunya Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu. Wacana mengawinkan macan yang mati pada Kamis (25/7/2019) itu juga sempat mencuat.

Di saat yang sama, BKSDA pernah melakukan assessment pelepasliaran. Mereka melakukan pendataan, survey habitat, dan penentuan posisi titik pelepasliaran.

Beberapa hal yang menjadi perhatian di antaranya ketersediaan pakan, populasi sejenis liar, kompetitor, dan keamanan dari gangguan manusia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten