Tersentuh Tengkulak, Harga Tembakau di Madiun Anjlok

Harga tembakau rajang di Kabupaten Madiun anjlok mencapai Rp16.000 per kilogram pada musim tanam tahun ini karena dibeli tengkulak.

Abdul Jalil
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 15:48 WIB

SOLOPOS.COM - Petani sedang menjemur rajangan tembakau di Desa Kedungmaron, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jumat (15/10/2021). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)

Solopos.com, MADIUN — Harga tembakau di Kabupaten Madiun anjlok pada musim tanam tahun ini. Harga jual tembakau rajang kering Rp16.000 per kilogram.

Harga itu turun hampir dua kali lipat apabila dibandingkan dua tahun lalu. Ketua Kelompok Tani Tembakau Desa Kedungmaron, Kecamatan Pilangkenceng, Saji, mengatakan harga panen tembakau tahun ini anjlok. Para petani mengeluhkan kondisi tersebut karena mengalami kerugian.

Baca Juga : Bukan Makhluk Halus, Polisi Tetapkan Ayah Tiri Madiun sebagai Tersangka

“Harganya turun, tembakau rajang kering hanya Rp16.000 per kilogram. Sedangkan yang kualitasnya bagus paling mahal Rp23.000 per kilogram,” kata dia saat ditemui Madiunpos.com di Desa Kedungmaron, Jumat (15/10/2021).

Harga tembakau dua tahun lalu mencapai Rp30.000 per kilogram. Saji menyampaikan harga jual tembakau anjlok karena perusahaan yang biasanya membeli hasil panen memutus kemitraan.

Saat ini yang membeli panen tembakau hanya tengkulak perorangan. “Dulu yang membeli itu Sadana. Sejak 2019 kemitraannya dihentikan. Jadi sekarang harganya anjlok. Karena yang beli tengkulak perorangan,” jelasnya.

Baca Juga : Atlet PON XX Papua Asal Madiun Kecewa, Janji Pemkot Madiun Tak Ditepati

Selain permasalahan itu, dia mengatakan tahun ini cuaca alam tidak begitu mendukung kualitas tembakau. “Tembakau ini kan tidak suka air ya. Kemarin itu kan sering tiba-tiba hujan. Itu benar-benar mempengaruhi kualitas tembakau. Itu juga yang mempengaruhi harganya,” kata Saji.

Koordinator PPL Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pilangkenceng, Patma Ayu Dyaningrum, mengatakan harga tembakau tahun ini mengalami penurunan. Hal ini disebabkan tidak ada lagi perusahaan yang membeli hasil panen petani.

“Sekarang yang membeli hasil panen petani ya dari tengkulak. Keluhan petani tembakau di sini itu, mengenai pemasaran hasil panen,” jelasnya.

Baca Juga : Yang Mau ke Banyuwangi, KA Mutiara Timur Jalan Lagi… Catat Jadwalnya

Lahan di Kecamatan Pilangkenceng yang ditanami tembakau sekitar 40 hektare. Lahan paling banyak ditanami tembakau di Desa Ngale, yakni sekitar 25 hektare. Lahan di Desa Kedungmaron yang ditanami tembakau seluas 8 hektare.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif