Kondisi terowongan di Cokro Kembang, Daleman, Tulung, Klaten, Kamis (16/1/2020). Terowongan di zaman Belanda itu akan dijadikan sebagai destinasi wisata baru di Cokro. (Solopos.com/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN – Terowongan De Suiker Fabriek Tjokro Toelong alias terowongan Pabrik Gula (PG) Tjokro Toeloeng di zaman Belanda itu muncul kembali. Belum diketahui pasti, terowongan itu merupakan bagian dari bungker atau bagian dari drainase pembuangan limbah di PG Tjokro Toeloeng.

PG Tjokro Toeloeng diyakini warga setempat sebagai pabrik gula tertua di Jawa setelah pabrik gula di Brebes. PG Tjokro Toeloeng dibangun di zaman penjajahan Belanda, yakni tahun 1840. Pabrik tersebut hancur setelah Jepang berkuasa di Tanah Air. Saat ini, lahan bekas pabrik gula itu berdiri Pasar Cokro, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten.

Gelson Fernandes, Wonderkid Baru Tottenham

Setelah sekian lama terpendam di dalam tanah di bawah rumah warga, terowongan bersejarah tersebut diungkap warga Dukuh Cokro Kembang, Daleman, Tulung, Klaten. Selama puluhan tahun, sejumlah warga di Cokro Kembang tak menyadari di bawah fondasi rumahnya “bercokol” terowongan bersejarah.

Lokasi terowongan berada sekitar 6,25 meter dari permukaan tanah. Terowongan yang sudah dibuka kembali oleh warga Cokro Kembang sepanjang hampir 100 meter. Pangkal terowongan ini diduga berpusat di bekas PG Tjokro Toeloeng yang saat ini dibangun Pasar Cokro. Terowongan berdinding batu bata kuno itu bermuara ke Kali Pusur. Jarak Pasar Cokro dengan Kali Pusur berkisar 500 meter.

Hingga sekarang, warga baru membuka secara manual akses ke terowongan sepanjang hampir 100 meter. Mulut terowongan memiliki diameter 1,6 meter. Semakin ke dalam, ruangan terowongan semakin membesar. Pascamemasuki terowongan sepanjang 17 meter, diameter terowongan mulai membesar, yakni berkisar 2,5 meter. Tinggi terowongan kurang lebih 2,5 meter.

Terowongan ini memiliki tiga cabang. Warga baru membuka satu cabang utama sepanjang hampir 100 meter. Satu cabang lainnya dalam kondisi tertutup beton. Cabang lainnya masih tertutup lumpur. Terowongan ini berdinding batu bata. Ketebalan konstruksi terowongan berkisar satu meter, baik di bagian kanan, kiri, dan atas bangunan.

Meski terpendam rumah warga, terowongan ini masih utuh. Di atas terowongan dibungkus pasir setebal kurang lebih satu meter. Selanjutnya, diberi pelapis beton dan diuruk tanah. Terowongan ini persis berada di bawah beberapa rumah warga Cokro Kembang, yang masing-masing rumah memiliki luas sekitar 400 meter persegi.

Ngeri, Ada Buaya Liar Bertelur di Dekat Permukiman Warga

Penemuan terowongan ini kali pertama dilakukan Danang Heri Subiantoro bersama warga lainnya, Wawan, 25 November 2019 lalu. Danang kemudian memberi tahu warga. Mereka kemudian bergotong royong untuk membersihkan terowongan. Mereka berpendapat terowongan ini bisa menjadi destinasi wisata baru.

“Rumah warga di sini sudah bersertifikat. Ini diharapkan dapat mendongkrak ekonomi warga. Ini tidak ada kepentingan pribadi. Sesuai rencana, bulan Ramadan ke depan terowongan ini bisa dibuka untuk umum,” katanya.

Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Daleman, Pardi, mendukung penuh upaya warga menjadikan terowongan sebagai destinasi wisata. “Setiap pekannya, warga di sini gotong royong membersihkan terowongan. Diharapkan, terowongan itu menjadi objek wisata yang khas di Cokro dan Klaten,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten