Mobil boks dan puluhan ribu stoples kosong tersimpan di Gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Kamis (13/6/2019). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Tutupnya kantor dan gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) yang berlokasi di Sidoharjo Sragen sejak pertengahan Mei 2019 lalu membuat para investor meradang. Terlebih, selama ini tak banyak yang mengetahui praktik apa yang terjadi di dalam kompleks kantor dan gudang CV MSB.

CV MSB sudah tidak lagi memakai gedung yang berlokasi di Pungkruk, Desa/Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Gedung dua lantai itu kini sudah dipakai oleh perusahaan dengan nama lain. Sedangkan di dua gudang CV MSB yang berada di Dusun Kroya, Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, sudah tidak ada aktivitas sama sekali. Lalu apa yang terjadi di dalamnya?

Meski sudah tutup, dua gudang yang masing-masing berukuran sekitar 900 meter persegi itu masih digunakan untuk menyimpan puluhan mobil boks serta ribuan toples yang sebelumnya digunakan untuk menampung semut dengan nama ilmiah Oecophylla ini. Tidak ada seorangpun di dalam gudang yang bisa dimintai keterangan.

“Dulu selama 24 jam, gudang itu tidak pernah sepi dari aktivitas. Ratusan mobil boks hilir mudik membawa semut rangrang. Gudang itu tiba-tiba tutup pertengahan Mei lalu, tepatnya saat puasa Ramadan baru jalan 10 hari,” ujar Paiyem, 47, warga yang tinggal tak jauh dari gudang itu saat ditemui Solopos.com di warung miliknya, Rabu (12/6/2019).

Sebelumnya, kepada calon investor, CV MSB berdalih hasil peternakan semut rangrang itu bakal dijadikan bahan pembuatan kosmetik di luar negeri. Namun, Subandi, 40, adik Paiyem yang pernah menjadi koordinator peternak semut rangrang CV MSB mengungkap dalih itu tak sesuai kenyataan. Dia menyadari hal itu adalah pepesan kosong yang digunakan CV MSB untuk meyakinkan calon investor.

“Pada awalnya, gudang itu tertutup untuk semua mitra. Tapi, saya pernah masuk ke gudang. Di sana, semut rangrang yang dibeli dari mitra itu dimusnahkan dengan cara disemprot cairan kimia. Setelah itu, toples itu dicuci bersih lalu diisi lagi oleh bibit baru yang didatangkan dari Jogja. Jadi, tujuan beternak rangrang itu untuk apa ya tidak jelas. Bukan untuk bahan kosmetik, bukan pula untuk diambil krotonya,” tegas Subandi.

Subandi yang bekerja sebagai sopir antarkota di Kalimantan itu juga telanjur berinvestasi sebesar Rp375 juta yang diwujudkan dalam bentuk 250 paket semut rangrang. Investasi itu dilakukan istri Subandi, Sugianti, 38, yang tergiur untuk berinvestasi kembali tanpa sepengetahuannya.

Sementara itu, Sugiyono selalu penanggung jawab CV MSB belum bisa dimintai keterangan terkait tutupnya perusahaan yang dikelolanya. Yang bersangkutan tidak mengangkat telepon dari Solopos.com. Pesan pendek yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp (WA) juga tidak terbalas.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten