Terkait Kelangkaan Pupuk, Begini Penjelasan Dinas KUKM dan Perindag Wonogiri
Ilustrasi petani memberi pupuk tanaman padinya. (Antara)

Solopos.com, WONOGIRI -- Sebagian petani di Kabupaten Wonogiri kesulitan dalam mendapatkan pupuk bersubsidi. Ada beberapa hal yang dimungkinkan menjadi penyebab kelangkaan itu.

Pasalnya, kelangkaan pupuk itu diduga disebabkan karena masa tanam pertama (MT I) pada musim penghujan kali ini serentak. Sehingga permintaan atau kebutuhan pupuk dari petani tinggi

Kapala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dan Perindustrian dan Perdagangan Wonogiri, Sunardi, mengatakan musim penghujan yang datang merata di seluruh daerah berdampak pada petani menanam secara bersamaan. Sehingga kebutuhan pupuk meningkat.

Sebulan Naik 1.000 Kasus Covid-19, Wali Kota Solo Ancam Tutup Pusat Kuliner

Belum lama ini, ia mengaku mengecek ke berbagai Kios Pupuk Lengkap (KPL) yang ada di Wonogiri. Jumlah KPL di Wonogiri ada 312 kios. Sedangkan distributor pupuk di Wonogiri ada 10 orang.

"Saat kami mengecek ke KPL memang keberadaan pupuk itu kosong. Setelah kami tanya, jawabnya pupuk akan datang besok. Jadi menurut pemilik KPL itu saat pupuk datang, petani langsung berebut. Langsung habis," kata Sunardi kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (26/11/2020).

Faktor lain, kata dia, pupuk yang dialokasikan atau yang turun tidak sesuai dengan pengajuan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Jadi antara kebutuhan yang diajukan dengan alokasi berbeda.

Alternatif

Jika petani kehabisan atau tidak mendapatkan pupuk, ia menyarankan agar petani membeli pupuk nonsubsidi. "Memang harga pupuk nonsubsidi itu lebih mahal. Namun kualitasnya lebih bagus. Sehingga hasil penen pun juga lebih memuaskan. Di sisi lain kaki juga mengimbau agar petani tidak membeli pupuk palsu," ungkap Sunardi.

Menurut Sunardi, pembagian pupuk bersubsidi bisa lebih terkendali jika dikelola sendiri oleh kelompok tani. Kelompok tani bisa mengambil pupuk secara kolektif untuk para anggotanya. Selanjutnya pupuk dibagikan secara merata kepada seluruh anggota kelompok itu.

"Jadi penyebab para petani kesulitan mendapatkan pupuk ada beberapa kemungkinan. Jika benar-benar tidak dapat kami anjurkan untuk beli yang nonsubsidi," kata dia.

Program Penanaman Mangrove BPDASHL Solo Sasar Desa Labuhan di Lamongan

Sebelumnya kuota pupuk di Wonogiri ada 61.785 ton. Dengan rincian pupuk urea 24.500 ton, NPK 21.542 ton, SP36 4.425 ton, ZA 4.718 dan Organik 6.600 ton.

Pada November, Wonogiri mendapatkan tambahan pupuk jenis Urea dan NPK. Rinciannya, 460 ton urea dan 200 ton NPK. Namun kuota SP36 dan ZA turun. Pupuk SP36 menjadi 4.269 ton dan ZA menjadi 4.690 ton.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom