Tergulung Ombak Pantai Logending, Siswa MI Asal Klaten Meninggal Dunia
Ilustrasi_Tenggelam

Solopos.com, KLATEN -- Putra Hikmah Pangestu, 12, siswa kelas VI Madrasah Ibdtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Taskombang, Manisrenggo, Klaten, meninggal dunia setelah tergulung ombak saat bertamasya di Pantai Logending, Kecamatan Ayah, Cilacap, Sabtu (15/12/2018) sore pukul 15.00 WIB.

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Putra Hikmah Pangestu sempat berusaha menyelamatkan teman dekatnya, Arya, 11, dari gulungan ombak.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, sebanyak 22 siswa kelas VI MIM Taskombang bertamasya ke Cilacap hari itu. Puluhan siswa yang didampingi sembilan pendamping itu berangkat pukul 07.00 WIB lalu mampir ke Jatijajar pada pukul 11.00 WIB.

Setelah itu, rombongan MIM Taskombang melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Logending, Kecamatan Ayah. Rombongan tersebut tiba di Pantai Logending pukul 14.00 WIB.

Selama di Pantai Logending, para siswa/laki-laki memilih bermain pasir di tepi pantai. Selang satu jam kemudian, Kepala MIM Taskombang, Wakhid, memberi kode atau menyuruh seluruh siswa agar mempersiapkan diri untuk pulang. Saat itu, para siswi justru bergabung dengan para siswa bermain pasir di tepi pantai. Selanjutnya, sembilan siswa bermain air di Pantai Logending yang sebenarnya airnya sedang surut.

“Lalu terjadilah kejadian itu [satu siswa meninggal dunia, satu siswa lainnya selamat meski dalam kondisi luka]. Arya dan Putra tergulung ombak. Awalnya, Putra sempat menolong Arya [di tengah gulungan ombak]. Mereka teriak minta tolong. Kami yang berada di pinggir pantai langsung minta bantuan ke sukarelawan,” kata Kepala MIM Taskombang, Wakhid, saat ditemui wartawan, di Taskombang, Manisrenggo, Minggu (16/12/2018).

Arya sempat melambaikan tangan sehingga memudahkan sukarelawan mengevakuasi yang bersangkutan. Sedangkan Putra langsung menghilang tergulung ombak.

Wakhid mengatakan tamasya ke Cilacap itu merupakan agenda dua tahunan yang dimiliki MIM Taskombang. Tamasya dilakukan dalam rangka liburan semester di MIM itu. “Putra ini orangnya baik. Dia sangat periang. Pascakejadian ini, kami akan menyetop kegiatan tamasya dua tahunan ini. Kami masih trauma,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Taskombang, Aris Sumarno, mengatakan pemerintah desa (pemdes) mengetahui informasi dua siswa MIM Taskombang tergulung ombak di Cilacap, Sabtu (15/12) malam. Setelah terkonfirmasi pengelola MIM Taskombang, beberapa sukarelawan Taskombang dikirim ke Cilacap.

“Kami mengirim sukarelawan ke Cilacap, Sabtu pukul 21.00 WIB. Tiba di Cilacap, Minggu pukul 03.00 WIB. Tepat pukul 05.30 WIB, kami memperoleh informasi tentang penemuan jenazah Putra Hikmah Pangestu dari tim Search and Rescue (SAR) Cilacap. 

Ayah Arya, yakni Raharjo, 40, mengaku kaget setelah mendengar kabar anaknya menjadi salah satu korban. Raharja sempat mengantar Arya ke sekolah menggunakan mobil pribadi sebelum rombongan MIM Taskombang berangkat ke Cilacap.

“Anak saya selamat. Saat ini dirawat di Rumah Sakit Islam Cupuwatu, Kalasan, Sleman. Anak saya masih mengalami sakit di leher bagian kiri. Informasinya sempat terkena perahu. Saat kejadian, anak saya infonya ditolong Putra. Anak saya dengan Putra memang berteman baik. Saat piknik itu, anak saya membawa pakaian cukup banyak,” kata Raharja, warga asal Jarakan, Kokosan, Prambanan.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom