Tergantung Bansos, 2 Juta Anak Indonesia Terancam Miskin
Ilustrasi kemiskinan. (Istimewa)

Solopos.com, JAKARTA — Sebagian anak Indonesia tergantung bantuan sosial, terutama pada masa pandemi Covid-19 ini. Survei mengungkapkan adanya 2,1 juta anak Indonesia terancam jatuh ke jurang kemiskinan apabila bansos dihentikan pada 2021 ini.

Deputi Direktur The SMERU Research Institute Athia Yumna menjelaskan bahwa 75,3% rumah tangga yang memiliki anak di Indonesia mengalami penurunan pendapatan khususnya, bagi yang tinggal di kawasan perkotaan. Karena itulah Athia menekankan bahwa penghentian bansos pada 2021 ini dapat menyebabkan 2,1 juta anak Indonesia jatuh miskin.

Baca Juga: Ini Keunggulan Bengalore Penyebab Elon Musk Bikin Pabrik Tesla di India

“Walau bukan jadi wajah pandemi dan relatif terhindar dari virus, mereka [anak-anak] kehilangan banyak hal. Hilangnya pendapatan keluarga, hilangnya pembelajaran, kesehatan, dan risiko lainnya,” terangnya dalam Webinar Peluncuran Laporan ‘Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi Pandemi Terhadap Rumah Tangga Indonesia’, Kamis (4/3/2021).

Dalam laporannya, Athia menyebut bahwa bansos dari kementerian/lembaga telah menjangkau 85 persen masyarakat. Sebanyak 51% menerima bantuan berbentuk tunai.

Untuk Beli Makanan

Rumah tangga yang mendapatkan bansos menggunakan uang tunai tersebut untuk membeli makanan sehari-hari, membayar tagihan listrik serta air, dan membeli pulsa. Meski begitu, satu dari tiga rumah tangga termiskin yang tinggal di perkotaan tidak menerima bantuan tunai pada Oktober dan November 2020.

Sejumlah rekomendasi turut disampaikan kepada kementerian/lembaga terkait. Terutama, dukungan terhadap anak-anak terdampak pandemi Covid-19 dengan memberikan perlindungan sosial, bantuan peningkatan gizi, dan mendukung pembukaan sekolah tatap muka secara bertahap.

Baca Juga: Peluang Bisnis Makanan Beku

Laporan hasil kerja sama antara Unicef, UNDP, Australia-Indonesia Partnership for Economic Development, dan The SMERU Research Institute ini merupakan hasil studi yang dilakukan selama Oktober–November 2020. Studi menggunakan sampel sebanyak 12.000 rumah tangga yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, secara representatif.

“Yang berbeda [dari studi ini] adalah penelitian dan survei mewakili apa yang terjadi di negeri ini. Angka-angka memberikan gambaran riil di akar rumput dengan mendengarkan pengalaman mereka,” jelas Athia.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Sumber: Bisnis



Berita Terkini Lainnya








Kolom