Tergagap-Gagap lalu Bisa
Retno Winarni (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Seorang kawan lewat Whatsapp menanyakan apakah e-learing di SMAN Kerjo, Karanganyar, berjalan efektif?  Saya jawab tidak maksimal. Kemampuan dan daya dukung siswa, guru,  dan sekolah untuk pembelajaran daring di SMAN Kerjo memang belum terbentuk dengan baik.

Sejak  pandemi Covid-19 melanda negeri ini, pembelajaran tatap muka di ruang kelas tak bisa dilakukan. Sesuai dengan surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang ditujukan kepada gubernur, wali kota, dan bupati di Indonesia orientasi pembelajaran diubah menjadi proses belajar di rumah.

Pada pertengahan Maret lalu Gubernur Jawa Tengah  meliburkan semua sekolah di Jawa Tengah.  Saat itu siswa Kelas XII SMAN Kerjo  sedang menempuh ujian sekolah. Masih ada tiga hari tersisa untuk menyelesaikan ujian sekolah. Mau tidak mau ujian sekolah ditunda.

Sekolah bertubi-tubi mendapat surat edaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah dan harus segera dilaksanakan. Melalui surat edaran  Nomor 443.3/08997 tertanggal 20 Maret 2020, sekolah diminta melaksanakan ujian sekolah secara daring.

Ujian sekolah dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 43 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ujian yang Diselenggarakan Satuan Pendidikan dan Ujian Nasional. Menyelenggarakan ujian sekolah secara daring adalah pengalaman baru bagi SMAN Kerjo. Pada pembahasan awal panitia ujian sekolah dan tim teknologi informasi memutuskan ujian sekolah akan dilaksanakan secara daring memanfaatkan fasilitas Google Classroom.

Soft file soal-soal ujian sekolah yang sudah tercetak dan siap diujikan akan dimanfaatkan menjadi soal ujian sekolah daring. Pada Rabu tanggal 18 Maret 2020  keputusan rapat penyelenggaraan ujian sekolah disetujui. Tim teknologi informasi langsung bekerja menyiapkan materi ujian sekolah daring. Tim teknologi informasi   hanya punya  satu setengah hari. Hari Jumat uji coba ujian sekolah  daring dilaksanakan.

Ujian sekolah daring bukan hanya kerja dan tanggung jawab tim teknologi informasi. Penyiapan siswa untuk mengikuti ujian sekolah daring adalah kerja kolektif. Dalam kerja kolektif ini dibutuhkan sinergi antara  keepala sekolah, wali kelas, guru bimbingan dan konseling, pemangku kepentingan lain, dan tentu saja siswa.

Pada Kamis tanggal 19 Maret 2020  wali kelas XII  bergerak menyosialisasikan rencana pelaksanaan ujian sekolah. Mereka bertanggung jawab mengidentifikasi kesiapan siswa, terutama berkaitan dengan  gawai  dan sambungan Internet. Sebanyak 90% siswa siap mengikuti ujian sekolah daring. Sisa 10% menjadi  tugas bersama  untuk menyelesaikan.

Dari identifikasi kendala  terpetakan ada siswa yang  tidak memiliki telepon genggam tetapi bisa meminjam dari keluarga. Ada yang sinyal di sekitar  tempat tinggal buruk dan ada yang benar-benar tidak memiliki telepon genggam dan keluarga pun tidak ada yang bisa dipinjami.

Kepekaan dan integritas wali kelas diuji dalam kondisi yang tidak mendukung seperti itu. Kamis tanggal 19 Maret 2020 itu  menjadi hari yang panjang bagi kami semua. Malam hari grup Whatsapp guru tak berhenti dengan dialog dan laporan kesiapan siswa dari tiap wali kelas XII. Akhirnya pada pukul  20.47 WIB, 247 siswa tergabung dalam grup bimbingan ujian sekolah daring. Siswa siap mengikuti ujian sekolah daring.

Sudah selesaikah permasalahan di lapangan? Ternyata belum. Saat uji coba ujian sekolah masih ada siswa yang terlambat mengikuti. Ketika informasi digali, ternyata siswa tidak memiliki kuota Internet. Ironis bukan?  Begitulah kenyataannya. Alhamdulillah, setelah melalui banyak kendala ujian sekolah daring yang pertama di SMAN Kerjo berjalan dengan lancar.

Penuh Keyakinan

Sejak pembelajaran daring diterapkan sebagai bagian dari pencegahan persebaran virus corona baru, meskipun tertatih-tatih SMAN Kerjo bisa melaksanakan. Kegiatan belajar dan mengajar daring disesuaikan  dengan surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa  sekolah diminta menyelenggarakan kegiatan belajar dan mengajar secara daring.

Pembelajaran secara daring itu harus dapat diselenggarakan dalam komunikasi atau proses yang menyenangkan yang diarahkan untuk mendorong peserta didik tetap belajar dalam suasana apa pun dan sekaligus menjaga siswa untuk tidak melakukan mobilitas di luar rumah.

Implementasi pembelajaran daring tidak bisa dipukul rata, tetapi harus menyesuaikan  dan  mempertimbangkan kondisi masing-masing sekolah, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar siswa di rumah. Saya saat ini memanfaatkan fasilitas Google Classroom untuk pembelajaran daring.

Semangat yang saya usung adalah menjawab tantangan dan situasi yang tidak memungkinkan pembelajaran tatap muka. Belajar dari pengalaman siswa kelas XII dalam menghadapi ujian sekolah daring, saya sudah siap dengan segala risiko ketidaksiapan siswa. Ternyata benar, tantangannya masih sama. Ada beberapa siswa yang tidak memiliki gawai dan keterbatasan kuota Internet.

Di samping kendala penyiapan teknologi, penyesuaian materi juga harus dilakukan. Saat ini pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XI telah masuk pada materi bermain drama. Dalam kondisi umum setelah penyampaian materi drama saya biasanya akan membagi kelas menjadi beberapa  kelompok dan menyiapkan pementasan drama kelas atau membuat film pendek sebagai tagihan.

Kali ini dalam situasi darurat ketika pembelajaran daring diarahkan agar siswa tidak berkelompok dan melakukan tugas secara individu, saya mengubah tugas pentas drama kelompok menjadi tugas membuat monolog. Siswa saya minta menyusun naskah monolog pendek lalu membuat video monolog dan mengirim penyelesaian tugas kepada saya atau mengunggah di  Youtube. Tantangan baru bagi saya dan bagi siswa.

Sekelumit cerita persiapan dan pelaksanaan ujian sekolah daring  dan pembelajaran daring di atas  bisa menjadi gambaran bahwa memulai sesuatu yang baru memang tidak mudah. ”Keterpaksaan” membuat guru dan siswa harus melewati garis batas kemampuan mereka.

Keterpaksaan dan  tergagap-gagap jika tetap dilakukan dengan penuh keyakinan serta semangat berani mencoba maka akhir dari proses itu adalah ”bisa”. Alah bisa karena biasa. Apabila suatu pekerjaan telah terbiasa dilakukan, tidak terasa lagi kesukarannya.

 

 

 

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho