Terbit 1855 dan Beraksara Jawa, Inilah Surat Kabar Pertama di Kota Solo

Surat kabar Bromartani yang berbahasa dan beraksara Jawa disebut terbit kali pertama di Solo pada 1855.

Bayu Jatmiko Adi
Minggu, 17 Oktober 2021 - 15:51 WIB

SOLOPOS.COM - PAMERAN NASKAH KUNO- Naskah kuno koleksi khusus Perpustakaan Nasional RI di pamerkan di Balai Soedjatmoko, Toko Buku Gramedia, Solo, Rabu (16/11/2011). Pameran tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan minat masyarakat untuk lebih memahami ke-Indonesiaan melalui naskah kuno dan buku-buku langka. (JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya)

Solopos.com, SOLO — Solo menjadi salah satu daerah yang memiliki peran penting dalam sejarah pers nasional.

Kota Solo disebut sebagai kota pertama yang memunculkan koran lokal modern.

Hal tersebut disampaikan penulis buku Sarekat Islam Surakarta 1912-1923, Adityawan Suharto.

Dia mengatakan sekitar 1849, sudah muncul surat kabar Bromartani. Ada pula yang menyebutkan, surat kabar berbahasa dan beraksara Jawa tersebut terbit kali pertama di Solo pada 1855.

Baca Juga: HARI PERS NASIONAL : Ini Sejarah Surat Kabar Pertama Milik Pribumi “Medan Prijaji”

“Tapi masih ada campur tangan Belanda. Kemudian di Batavia ada Bintang Timoer, Bintang Barat. Kemudian mulai tumbuh subur sejak kemunculan Djawi Kando pada sekitar 1895. Pertama milik orang Belanda tapi sudah mulai berbahasa Melayu.”

“Kalau koran pribumi asli, ya semenjak Sarekat Islam itu, yang pertama adalah [surat kabar] Sarotomo milik SI [Sarekat Islam] yang kantornya di Purwosari,” kata dia, Sabtu (16/10/2021).

Dia mengatakan untuk menunjukkan eksistensi SI saat itu, munculah koran Sarotomo. “Itu adalah koran pertama kali SI sekitar April 1912, sayangnya saya tidak menemukan bukti [terbitan] perdana yang asli dari Sarotomo. Saya hanya menemukan di 1914,” lanjut dia.

Baca Juga: Tergerus Media Online, Surat Kabar Tertua di AS Berhenti Terbit

Baru setelah itu muncul surat kabar lain seperti Doenia Bergerak, Islam Bergerak dan sebagainya. Bukan hanya itu, menurut Adityawan, Solo menjadi kota yang memunculkan koran Islam modern, yakni Medan Moeslimin.

Menurut Adityawan, koran atau surat kabar saat itu memiliki dua bentuk. Ada yang bentuknya sebagai opini, bukan seperti berita pada umumnya. Kemudian kedua koran dengan sasaran pembaca adalah para tokoh di zaman itu.

Saat itu koran merupakan bentuk identitas kelompok. Bahkan saat itu di Solo juga ada kelompok wartawan Indlandsche Journalisten Bond (IJB) yang berkantor di daerah Purwosari.

Baca Juga: HUT KE-272 KOTA SOLO : Rekonstruksi Sejarah Solo dalam Tarian Kolosal Boyong Kedhaton

Kelompok tersebut mengumpulkan wartawan-wartawan dari berbagai surat kabar untuk mengkritisi pemerintah dengan nama anonim.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif