Kategori: Sragen

Terancam Luapan 3 Sungai, Warga Sragen Kota Tak Tidur 2 Malam Karena Khawatir Banjir


Solopos.com/Tri Rahayu

Solopos.com, SRAGEN -- Banjir masih menggenang dan merendam areal persawahan di Dukuh Tugu RT 001/RW 012, Desa Tangkil, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, Jumat (5/2/2021) pagi. Ketinggian air di jalan masih sekitar 20 cm.

Areal persawahan seluas 5 hektare terancam gagal panen karena sudah dua hari terakhir terendam air. Tanaman padi itu sudah menguning dan tinggal sepekan lagi siap panen.

Sejumlah bocah menaiki sepeda angin menerobos air. Mereka bermain-main dengan air yang berwarna kecokelatan itu. Ada pula warga yang memanfaatkan genangan air itu untuk mencuci motor di pinggir jalan.

Baca Juga: Cek Covid-19 Dengan GeNose Sudah Tersedia Di Stasiun Solo Balapan Loh, Tarifnya Rp20.000

Warga Tangkil, Sragen Kota, Agung Priyanto, 50, mengatakan rumahnya yang masih tergenang banjir. Di dalam rumahnya air masih di atas mata kaki. Semua perabot elektronik dan perabot rumah tangga lainnya sudah tertata di atas almari.

Kursi-kursi sudah tersusun termasuk tempat tidur sudah bersih. Agung bersiap menghadapi banjir itu sejak dua hari lalu, Rabu (3/2/2021). Pada Rabu sore sempat terjadi luapan tetapi masih menggenangi persawahan.

Agung Priyanto, 50, melihat kondisi rumahnya yang masih tergenang air luapan pertemuan Sungai Garuda dan Sungai Mungkung, Dukuh Tugu RT 001/RW 012, Desa Tangkil. Sragen Kota, Sragen, Jumat (5/2/2021) pagi. (Solopos/Tri Rahayu)

Lokasi rumah Agung terhitung paling rendah. Lingkungan itu hanya berjarak 400 meter dari pertemuan aliran Sungai Garuda dan Sungai Mungkung. Sementara jarak lingkungan dengan Sungai Bengawan Solo sekitar 700 meter.

Baca Juga: Air Sungai Bengawan Solo Hampir Meluap, Warga Pilang Sragen Santuy Jemur Kain Batik

Luapan 3 Sungai

Praktis lingkungan Dukuh Tugu, Sragen Kota dan sekitarnya sering kali menjadi langganan banjir luapan tiga sungai itu. “Air mulai masuk rumah pada Kamis [4/2/2021] pukul 20.00 WIB. Ketinggian air sampai 40 cm-50 cm di dalam rumah. Namun, sejak Jumat, pukul 03.00 WIB, air mulai surut perlahan. Hingga sekarang masih di atas mata kaki,” ujar Agung kepada Solopos.com, Jumat pagi.

Agung tak yakin meskipun dikuras menggunakan pompa disel ketinggian air bakal berkurang karena air di sekitar rumah masih tinggi dan bisa merembes masuk lagi.

Tak jauh dari rumah Agung, tampak sejumlah warga duduk-duduk di lincak kayu di teras rumah. Mereka memandangi air yang menggenangi tanaman padi sampai tak terlihat ujung tanamannya.

Baca juga: Gerakan Jateng di Rumah Saja, Pelaku Usaha Hiburan Malam Solo Kompak Tutup Total

Warga Dukuh Tuguh, Sragen Kota, lainnya, Totok Sutarno, 60, mengatakan air masuk perkampungan dan meninggi sejak Kamis pukul 22.00 WIB dan mencapai puncaknya pada Jumat pukul 00.00 WIB.

Totok senang pada pukul 02.00 WIB mendapat kiriman nasi bungkus dari Kepala Desa Tangkil Suyono. Totok sedikit lega karena sejak Subuh air di rumahnya sudah surut.

“Dua hari, dua malam, kami tidak tidur karena siaga dan waswas saat hujan turun di daerah hulu Bengawan Solo, Garuda, dan Mungkung. Ya, khawatirnya seperti 2007 lalu, air datang tiba-tiba sampai atap rumah. Kalau Solo atau Karanganyar hujan sudah pasti saya tidak tidur. Kami masih hujan lagi, kami masih khawatir,” kata Totok.

Baca Juga: Pria Meninggal Sambil Menggenggam Plastik Es Teh Di Pinggir Sawah Bendosari Sukoharjo

Bersiap Mengungsi

Totok mengakui Dukuh Tugu, Sragen Kota, memang langganan banjir luapan sungai. Totok yang masih tinggal di tanah kas desa itu pun sudah antisipasi dan bersiap untuk mengungsi bila hujan terus terjadi di daerah hulu sungai.

“Kami persiapan sudah dua hari terakhir. Semua perabot, elektronik, dan lainnya sudah ditaruh di atas meja atau lemari. Bagi kami yang sudah langganan banjir ya hanya bisa pasrah,” katanya.

Baca Juga: Jateng Di Rumah Saja, Solo Terapkan SE PPKM Dengan Prokes dan Sanksi Lebih Ketat

Kepala Desa Tangkil Suyono masih terus memantau bersama Bhabinkamtibmas di seputaran Tugu. Dari catatan Suyono ada tiga rumah yang tergenang air pada Kamis malam hingga Jumat dini hari. Hingga Jumat pagi, katanya, hanya tinggal rumah Agung yang masih tergenang.

“Dampak yang paling parah pada lahan pertanian. Ya, tak bisa dibayangkan padi yang tinggal panen sepekan langsung tergenang air selama dua hari. Dimungkinkan gagal panen,” ujarnya.

Share
Dipublikasikan oleh
Suharsih