Tentang Pulang, Tentang Rumah
Ayu Prawitasari/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Pulang memiliki banyak makna. Saat saya masih kecil, pulang berarti rumah berukuran 70 meter persegi, tempat bapak, ibu, dan dua adik saya tinggal. Saya merindukan rumah lengkap dengan bayangan yang saya hadirkan selama jam pelajaran di sekolah tentang menu makan siang.

Di antara mendengarkan guru berceramah di depan kelas yang tak menarik sama sekali, lamunan saya justru lebih asyik. Lamunan itu benar-benar sibuk mengonstruksi rencana menonton TV, bercerita asyik dengan ibu dan bapak, membaca buku cerita yang belum selesai, bermain boneka, dan segala hal menyenangkan yang akan saya lakukan sesampai di rumah.

Ibu memang tak selalu ada rumah. Ibu bekerja dari pagi sampai siang, kadang membawa beberapa lembar kertas, pertanda ada pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah. Kadang wajahnya cemberut karena pekerjaan di kantor begitu menguras energi, namun lebih banyak wajah itu tersenyum, mengundang anak-anaknya berbagi cerita.

Bapak juga demikian. Tak selalu bapak bisa saya gambarkan seperti rumah dengan segenap isinya yang selalu menyenangkan. Bapak terkadang murung, diam, marah, dan membuat rumah seperti terkurung awan mendung.

Bapak lebih sering membuat rumah disinari langit yang cerah dengan dongeng-dongeng, dengan segudang pengalaman, dengan pelukan yang menenangkan, dan segala pembelaan ketika kami--anak-anaknya--takut dan merasa sendirian.

Orang tua adalah rumah. Satu-satunya tempat untuk pulang dan mengistirahatkan badan. Orang tua seperti pohon yang melindungi anak-anak dari badai. Di mata anak-anak kecil, orang tua haruslah kuat, sehat, gembira, dan mempunyai kesabaran seluas samudra.

Saya setuju bahwa anak-anak yang kuat lahir dari orang tua yang kuat pula. Memang ada anak dari keluarga berantakan yang sukses. Kekuatan itu bukan urusan finansial (meski itu juga termasuk). Orang tua harus bahagia agar bisa memberikan kebahagiaan kepada anak-anak mereka. Kalau diri sendiri tak bahagia, bagaimana bisa membahagiakan orang lain?

Menjadi Mercusuar

Ibu dan bapak harus orang yang sehat fisik dan psikis. Mampu menahan emosi saat anak bertingkah. Bersedia mendengarkan saat anak bicara. Berbicara saat anak-anak terdiam. Berani mendebat anak pada saat yang tepat. Tertawa bersama saat anak-anak merasa bahagia. Menjadi mercusuar saat anak-anak terombang-ambing di tengah lautan.

Semua itu tak ada yang instan. Penuh percobaan yang gagal. Percobaan sepanjang hayat. Pikiran saya sebagai orang tua saat saya masih memiliki orang tua (meski sudah tak lengkap) adalah perasaan sebagai anak. Saya sering marah pada saat yang tidak tepat sehingga membuat anak-anak saya bersedih.

Marah untuk hal-hal yang sepele, melihat rumah berantakan misalnya. Mana ada anak kecil yang tidak membuat rumah berantakan dengan segala mainan mereka? Saya juga marah saat anak-anak mengganggu saya yang sedang bekerja di rumah meski saya tahu rumah bukanlah kantor dan saya sendirilah yang mencampuradukkan.

Saya marah ketika anak-anak memainkan telepon seluler, sementara saya sendiri pun sibuk dengan telepon seluler saya. Saya tertawa saat anak-anak menceritakan teman mereka yang nakal dengan wajah sedih, padahal itu beban mereka.

Saya mengabaikan teguran mereka dengan pandangan congkak bahwa mereka masih kecil. Saya mengeluhkan pekerjaan di depan mereka dan menganggap mereka tak punya beban. Saya mengomel saat mereka ingin ke toilet untuk kali ketiga di mal sementara kami sekeluarga baru saja satu jam di sana.

Masih banyak lagi kelakuan saya yang sungguh kekanak-kanakan sementara mereka membutuhkan orang dewasa sebagai orang tua, sebagai tempat pulang, dan sebagai tempat bersandar. Apakah saya menyesal dengan segala kelakuan itu? Tentu saja!

Mengulang

Penyesalan tak cukup kukuh untuk membuat saya tak tergelincir lagi di kesalahan yang sama. Meminta maaf, melanjutkan hidup, melakukan kesalahan, meminta maaf lagi, begitu seterusnya. Pantas atau tidak sebenarnya saya menjadi orang tua mereka?

Jawaban itu saya dapat dari gadis kecil, usia enam tahun, anak kedua saya. Waktu itu saya menjemput dia pangkalan bus, dini hari. Dia dan kakaknya baru pulang dari rumah kakek mereka (bapak saya) di Jawa Timur. Saya menitipkan mereka selama dua pekan. Itu tradisi liburan yang kami tetapkan supaya anak-anak mandiri.

“Jadi bagaimana liburanmu?”

Seneng banget. Tapi, aku kangen Mama. Aku pengin pulang,” jawab gadis kecil itu sambil memeluk saya. Sungguh seketika itu saya tak bisa berkata-kata. Hanya bisa membalas pelukannya. Saya sadar ini bukan tentang pantas atau tidak pantas menjadi orang tua.

Ini adalah tentang cinta, pulang, dan rumah. Saat memiliki anak, kita secara otomatis menjadi orang tua dengan segala kekurangan dan kelebihan. Tugas kita memberikan yang terbaik dalam hari-hari yang penuh upaya dan kesalahan agar rumah selalu hangat dan nyaman.

Wajar suatu kali ada hujan, pasti ada pelangi sesudahnya. Dalam perjalanan pulang bersama dua anak saya itu, saya tiba-tiba teringat puisi Theroresia Rumthe yang berjudul Berumah Tangga. Sebuah puisi yang menceritakan rutinitas rumah tangga, seperti memasak air, membuatkan sarapan, menyiapkan seragam, memandikan anak, mengantar anak ke sekolah, menjemput, memeluk ketika ada yang menangis, bersabar ketika marah, dan melakukan hal yang sama pada keesokan harinya.

Terdengar membosankan? Bisa iya dan bisa tidak, tergantung pada kondisi kejiwaan kita. Satu hal yang saya percaya dari pandangan Rumthe tentang berumah tangga yakni konsep tentang cinta dan  bahwa cinta adalah pekerjaan mengulang.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho