Illustrasi LGBT (Harianjogja)

Solopos.com, SOLO -- Pondok pesantren (Ponpes) merupakan tempat para santri untuk menimba ilmu agama dan selalu identik dengan budaya religius yang penuh sopan santun. Namun, ada cerita-cerita miring terkait perilaku yang belum banyak diketahui publik, yakni perilaku homoseksual di kalangan santri pria.

Hal ini dibahas dalam sebuah video berjudul Homoseksual / Gay di Pesantren | Review buku Mairil : Sepenggal Kisah Biru di Pesantren di kanal Youtube Fuad Mubarok, Sabtu (6/7/2019) lalu. Fuad Mubarok mereview buku berjudul Mairil : Sepenggal Kisah Biru di Pesantren karya Syarifuddin terbitan P_Idea pada 2005.

Buku yang ditulis dalam format novel ini menyingkap fenomena mairil dan nyampet di ponpes. Sebagai catatan, isi buku merupakan improvisasi penulis dan bukan merupakan hasil penelitian ilmiah. Dalam buku itu, penulis menyebutkan bagi sebagian kalangan santri, dua kata tersebut sudah tidak asing lagi.

Nyampet merupakan istilah yang digunakan oleh santri untuk menyebut aktivitas seksual sesama jenis. Sementara mairil adalah perilaku kasih sayang yang diberikan antar sesama jenis dalam kehidupan sehari-hari ibaratnya orang yang sedang pacaran, termasuk hubungan seksual sesama jenis.

#JanganDitahan, Curhat Anak Broken Home Dituding Jadi Penyebab Mamanya Meninggal Bagian 1

Hubungan ini, katanya, seringkali dilakukan antara santri senior dengan santri junior yang menjadi korban. Terkadang ada pula para pengurus atau guru muda yang belum menikah menjadi pelaku dalam perilaku mairil dan nyampet. Umumnya yang menjadi korban mairil dan nyampet adalah santri yang memiliki wajah ganteng, tampan, imut, dan baby face.

Penulis menceritakan para korban terkadang tidak menyadari kalau dirinya pernah menjadi pelampiasan nafsu seks sesama jenis. Korban baru menyadari ketika bangun tidur saat mengetahui bagian pahanya basah oleh sperma. Hal ini dikarenakan para pelakunya melampiaskan hasrat seksual waktu korban tengah terlelap tidur.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada 2014 pernah membahas topik itu. Salah satu mantan santri mengetahui mairil dan nyempet sejak masuk Ponpes sekitar umur 12-13 tahun. Korban perilaku mairil ini mengaku sulit untuk menolak ajakan karena tidak berani. Sementara pelaku atau sering disebut dengan istilah warok biasanya santri senior berumur sekitar 17-20 tahun.

Kronologi 2 Ban Truk Trailer Lepas Lalu Hantam Pagar di Jajar Solo

"Tahu tentang mairil dan nyampet awal masuk pesantren, sekitar umur 12-13 tahun, jadi korban ya umur 12-13 tahun karena yang menjadi korban biasanya santri baru sedangkan seorang warok atau perilaku biasanya santri senior dan berumur 17-20 tahun," ungkap mantan santri tersebut yang tidak mau disebut identitasnya.

Ada beberapa penyebab mairil dan nyampet di kalangan santri pria. Salah satunya, kata Fuad Mubarok, adalah sulitnya interaksi antara santri pria dengan perempuan. Pasalnya, lingkungan ponpes memisahkan antara santri pria dan wanita.

"Interaksi santri putri dan putra ketat, lingkungan homogen [jenis kelamin yang sama]. Hukuman pun berat jika ketahuan ketemu. Maka dari itu, perilaku nyempet terjadi," kata Fuad.

Anggota DPR Lora Fadil Blak-Blakan Ceritakan Posisi 3 Istrinya Seranjang

Fuad mengatakan mairil dan nyampet kebanyakan terjadi pada Ponpes yang masih bersifat tradisional. Dan ia menegaskan pelaku dan korban mairil dan nyampet setelah keluar dari Ponpes menjalani kehidupannya seperti manusia normal bahkan menikah dan mempunyai keturunan.

"Kalau sudah lulus dia normal kembali karena telah menikah, mereka melakukan itu [mairil dan nyampet] karena iseng dan untuk menyalurkan libido yang memuncak," pungkasnya.

Dalam kanal Youtubenya, Fuad banyak mengunggah konten-konten dengan topik pesantren, termasuk film The Santri arahan Livi Zheng. Dalam penjelasan di profilnya, Fuad menyebut dirinya sebagai "seorang santri-mahasiswa-karyawan".


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten