TENTANG ISLAM : Nota Tak Sesuai Kenyataan, Halal atau Haram?
Ilustasi struk belanja (Livinggreenmag)

Tentang Islam diasuh oleh H. Muhammad Amir, S.H., C.N., Ketua Majelis Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo. Tentang Islam juga dimuat di subrubrik Ustaz Menjawab Khazanah Keluarga Harian Umum Solopos, setiap Jumat.

Solopos.com, SOLO — Demi memenuhi kebutuhan hidup yang meroket, seorang warga di Klaten membuat nota penjualan palsu. Harga di nota penjualan tersebut sengaja dilebihkan dari standar harga yang sebenarnya.

Bagaimana Islam memandang persoalan pembuatan nota penjualan palsu ini? Simak jawaban ustaz Muhammad Amir yang pernah dimuat di Harian Umum Solopos edisi Jumat, 22 Mei 2015.

Pertanyaan

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Pak Ustaz, saya karyawan toko besi dan bangunan di Klaten. Saya bekerja di toko itu hampir delapan tahun. Oleh majikan saya dipercaya melayani para pembeli dan diberi kuasa untuk membuat nota/kuitansi kepada para pembeli.

Akhir-akhir ini berhubung anak saya yang akan masuk ke perguruan tinggi memerlukan biaya yang cukup besar dan gaji saya sebulan masih tetap Rp1,5 juta dan hanya cukup untuk kebutuhan keluarga, saya mengambil jalan pintas.

Saya tidak mencuri. Saya membuat nota/kuitansi penjualan dari harga yang resmi Rp600.000 saya buat Rp650.000 sehingga saya dapat bagian Rp25.000 dan si pembeli mendapat Rp25.000. Si pembeli juga pesuruh/karyawan proyek.

Dengan cara demikian setiap akhir bulan saya dapat tambahan penghasilan rata-rata Rp800.000. Pertanyaan saya Pak Ustaz, bagaimana kedudukan uang Rp800.000 yang saya terima dari hasil membuat nota yang tidak sesuai dengan kenyataan? Hukumnya bagaimana? Halal atau haram?

Mohon jawabannya sebab saya sering mendengarkan ceramah Ustaz di Masjid Raya Klaten.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. [W. Tugiman/Warga Klaten]

Ustaz Menjawab

Waalaikumsalam warahmatullaahi wabarakaatuh.

Bapak W. Tugiman yang dirahmati Allah, sesungguhnya Allah SWT selalu melihat semua amal perbuatan hamba-Nya. Malaikat Rokib selalu merekam/menulis semua amal manusia.

Nabi Muhammad SAW bersabda,”Ingat dan takutlah kepada Allah SWT di mana saja kamu berada.” Kita umat Islam harus selalu mencontoh akhlak Rasulullah SAW, yaitu sidiq, amanah, tabligh, fatonah, syukur, dan sabar.

Bapak Tugiman sadar bahwa perbuatan menulis nota/kuitansi yang tidak sesuai kondisi sebenarnya adalah suatu perbuatan dosa dan harta tersebut bila dimakan hukumnya adalah haram.

Jadi meskipun kelihatannya tidak mencuri, akan tetapi sebenarnya sama saja dengan orang meminjamkan senjata kepada orang lain dengan tujuan untuk merampok, mencuri, dan sebagainya.

Bapak Tugiman yang saya hormati, ketika Khalifah Umar bin Khatab menjadi pemimpin, ia pernah keluar kota menemani seorang penggembala kambing dan pura-pura akan membeli kambingnya seekor saja. Umar meminta kepada penggembala itu agar melapor kepada majikannya bahwa seekor kambing satu dimakan serigala.

Penggembala kambing menolak permintaan Umar karena dia takut kepada Allah. Pak Tugiman hendaknya juga ingat dan takut kepada Allah karena malaikat selalu mencatat. Allah selalu melihat amal semua hamba. Segeralah bertobat dan kapok serta tidak akan mengulangi lagi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom