Kabag Pemerintahan Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Rina Wijaya, panik dan menghubungi seseorang lantaran gerimis mulai mengguyur lokasi perkemahan pejabat di Taman Sukowati Sragen, Sabtu (27/4/2019) malam. (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Kemah para aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Sragen di Taman Sukowati Sragen (S2), Sabtu (27/4/2019) malam, berakhir sebelum waktunya. Ratusan ASN yang mengikuti kegiatan itu berhamburan pulang begitu hujan deras turun, begitu pula Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati dan pejabat lainnya.

Awalnya, kemah berlangsung meriah diiringi musik Koes Plus-an. Ada 157 tenda biaya yang dipinjam dari Kwarcab Pramuka Sragen dan dua tenda VIP yang terletak di dekat pintu masuk sisi utara Taman S2. Rencananya, ada 765 orang yang akan menginap di tenda-tenda itu. Mereka terdiri atas pejabat eselon IV, III, dan II dari 51 organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkab Sragen.

Satu tenda diisi lima orang pejabat yang diatur oleh Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Sragen. Di sisi barat embung, ada band ala Koes Plus Sragen yang menghibur mereka di panggung mini.

Bupati dan sejumlah pejabat baru mulai berdatangan selepas pukul 19.30 WIB Tak lama kemudian, Yuni menyoroti setiap taman buatan OPD yang menghiasi pinggir embung. Nama-nama tanaman dan nama OPD diperiksa dan dibacanya. Hingga lampu senternya menyoroti seorang pejabat yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.

Pada pukul 20.30 WIB, petugas protokol meminta para pejabat berkumpul di ruang sarasehan. Ujaran petugas protokol berulang-ulang diserukan sampai lebih dari enam kali dengan jeda tertentu. Namun tak semua pejabat segera duduk lesehatan di tempat yang disediakan. Hingga acara dimulai pun belum semua pejabat terkondisinya.

Giliran Bupati naik ke panggung untuk berpidato juga terganggu. Ia enggan memulai pidatonya sebelum semua pejabat terkondisinya duduk di tempatnya. “Coba Pak Sekda cek mereka supaya mereka mau maju, tidak berdiri di belakang!” ujarnya.

Pukul 22.30 WIB, gerimis mulai turun per lahan. Ada yang bertahan di bawah kajang sambil bernyanyi. Ada yang tetap duduk lesehan di depan tenda. Kabag Pemerintahan Setda Sragen Rina Wijaya tampak panik karena guyuran air gerimis mulai

Ia menghubungi beberapa rekannya dengan ponselnya untuk bersiap-siap. Hingga akhirnya pukul 23.30 WIB hujan turun. Hujan deras menguyur hebat pada pukul 24.00 WIB. Tenda yang semula isi, kosong semua. Mereka kembali ke rumah masing-masing termasuk Bupati sendiri. “Naga-naganya hujan semakin deras, ya aku pulang,” ujar Rina.

Wabup Dedy bertahan di bawah kajang permanen di taman baca buatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) hingga hujan reda. Ada pula yang bertahan di tenda pos kesehatan milik Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen.

Di tenda itu ada Kepala DKK Hargiyanto yang asyik bermain kartu dengan bawahannya. Kendati air hujan menggenang di tenda, mereka tetap bertahan karena ada kursi dan tempat tidur. “Saya bertahan sampai pukul 02.00 WIB [Minggu, 28/4/2019]. Ada lima orang termasuk saya. Pak Prapto dan Pak Slamet yang bertahan sampai pagi,” kata Hargiyanto.

Dedy pun bertahan hingga pukul 02.00 WIB. Hingga akhirnya seorang sekretaris dinas, Warjimin, mengeluh waktunya yang sudah dinihari. Dedy sempat melihat kondisi di dalam tenda, ternyata banyak binatang melata yang masuk tenda, seperti kelabang, cacing, yang masuk tenda. “Jadi tenda memang tidak bisa digunakan. Akhirnya pulang,” ujar Dedy.

Keesokan harinya, semua tenda basah kuyup. Ada beberapa tenda yang ambruk. Termasuk tenda VIP yang tidak layak ditempati karena basah dan airnya tembus sampai permukaan dalam tenda. Kendati demikian, Bupati cukup puas dengan antusiasme ASN yang ikut.

“Kebersamaannya berhasil tetapi kemahnya yang tidak berhasil karena hujan. Kalau tidak hujan pasti lebih meriah lagi,” katanya saat ditemui wartawan, Minggu pagi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten