Petugas memeriksa hewan dan daging kurban di lokasi penyembelihan hewan kurban di kawasan Karangmalang, Sragen, Minggu (11/8). Petugas menemukan hati hewan kurban yang terjangkit cacing hati.(Istimewa/Ana Margaretha)

Solopos.com, SRAGEN — Seekor sapi kurban yang terjangkit penyakit cacing hati ditemukan di wilayah Mojokulon, Sragen Kulon, Sragen. Oleh petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sragen, hati kurban itu diminta tidak dikonsumsi melainkan langsung dikubur.

Kasi Pecegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H) Disnakkan Sragen, drh. Ana Margaretha, mengatakan tim melakukan dua kali pemeriksaan yakni antemortem dan postmortem di beberapa tempat penyembelihan hewan kurban di Sragen. Berdasar pemeriksaan antemortem, tim menemukan adanya satu ekor hewan yang berpenyakit mata atau beleken.

Tim menyarakan hewan kurban tersebut tidak disembelih lantaran belum memenuhi bersyaratan karena kondisinya dianggap kurang sehat. “Hasil pemeriksaan antemortem, semua hewan yang kami periksa dipastikan sudah powel [tanggal] giginya sehingga sudah sah untuk dijadikan kurban. Hanya ada satu yang beleken, sudah kami sarankan untuk tidak disembelih dahulu, tapi itu tergantung panitia kurban dan takmir masjidnya bagaimana,” ujar Ana kepada Solopos.com, Minggu (11/8/2019).

Berdasar pemeriksaan postmorthem, tim menemukan satu sapi kurban yang terjangkit penyakit cacing hati di wilayah Mojokulon. Petugas menemukan cukup banyak cacing sehingga bagian hati sapi itu disarankan tidak dikonsumsi. Oleh panitia, hati tersebut tidak dibagikan kepada warga tetapi langsung dikubur. “Cacing hati itu kalau dimasak memang mati. Tapi, toksin yang terkandung dalam hati itu tidak bisa hilang. Kalau hati itu nekat dikonsumsi, kami khawatir akan menular ke manusia. Jadi, sebaiknya hati itu diapkir lalu dikubur. Kalau dagingnya masih layak dikonsumsi,” jelas Ana.

Tim juga memeriksa sapi kurban yang dipersembahkan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati di Masjid Gedhe Kauman Sragen. “Berdasar pemeriksaan antemorthem dan postmorthem seekor sapi jenis limousine dari Bu Bupati kami nyatakan sehat dan layak dikonsumsi,” paparnya.

Selain dari Disnakkan Sragen, tim juga beranggotakan petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng dan Laboratorium Kesehatan Hewan Solo. Salah satu hal yang diwaspadai oleh tim adalah hewan kurban yang terjangkit penyakit antraks. Meski begitu, berdasar hasil pemeriksaan, tim tidak menemukan hewan kurban yang terindikasi penyakit antraks. “Hewan yang terjangkit antraks itu bisa dikenali pada bagian limfa. Biasanya limfanya akan membengkak jika terkena antraks. Kami tadi juga memeriksa limfa hewan kurban, semuanya kondisinya bagus,” ucap Ana.

Kepala Disnakkan Sragen, Djazairi, mengatakan pemeriksaan hewan kurban dilakukan sebelum dan sesudah disembelih. Hingga Minggu siang, dia belum mendapatkan laporan dari tim yang bertugas meninjau ke lapangan. “Kami ingin memastikan semua hewan kurban itu tidak berpenyakit sehingga layak dikonsumsi masyarakat. Salah satu penyakit yang kami waspadai ya antraks itu. Tapi, jenis penyakit itu sudah lama tidak ditemukan di Sragen,” jelasnya. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten