Tempuh Puluhan Kilometer demi Mencari Berkah Iktikaf di Masjid Agung Solo

Seribuan orang tampak sibuk dengan berbagai aktivitasnya di sekitar masjid. Ada yang sedang membaca Alquran, salat, zikir, bahkan terlelap di atas lantai serambi masjid. Sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan menjadi waktu spesial bagi umat Islam.

Tempuh Puluhan Kilometer demi Mencari Berkah Iktikaf di Masjid Agung Solo

SOLOPOS.COM - Warga membaca Alquran, di serambi Masjid Agung Solo, Kamis (30/5/2019) dini hari. Mereka menjalani iktikaf saat malam Ramadan. (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO–Suara lantunan bacaan Alquran terdengan pelan dan saling bersautan di serambi Masjid Agung Kasunanan Surakarta, Solo, Kamis (30/5/2019) dini hari. Seribuan orang tampak sibuk dengan berbagai aktivitasnya di sekitar masjid. Ada yang sedang membaca Alquran, salat, zikir, bahkan terlelap di atas lantai serambi masjid.

Sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan menjadi waktu spesial bagi umat Islam. Malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam lailatul qadar, ditunggu-tunggu untuk mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.

Angin dingin yang berembus cukup kencang membuat para petugas takmir masjid yang bertugas di luar mengatur parkir dengan memakai jaket tebal dan mengoleskan balsam di hidungnya. Namun udara dingin tak sampai ke dalam masjid yang dibangun di era Sinuhun Pakubuwono III itu sehingga membuat anak-anak balita dan para lansia nyaman terlelap di lantai.

Ketika waktu menunjukan pukul 02.00 WIB, jemaah mulai bangkit dan berwudu bersiap mengikuti salat malam sebanyak delapan rakaat. Setelah salat selesai, jemaah berzikir kembali. Ada juga yang beristirahat sembari memakan camilan yang dibawa dari rumah.

Di pojok sebelah timur, Tri Utama, 40, warga Kabupaten Sragen, sedang membaca Alquran lewat ponselnyaSudah sejak pukul 23.00 WIB ia berada di pojokan serambi masjid yang selesai dibangun pada 1768 itu. Menempuh jarak lebih dari 40 kilometer menggunakan sepeda motor tuanya, ia sudah dua kali beriktikaf di Masjid Agung di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Tak tampak kantuk dari mata pria berkacamata itu. Ia menyebut pada pagi harinya mengurangi segala kegiatan yang dapat menganggu staminanya. Menurutnya, lailatul qadar tidak diperoleh secara mudah, perlu perjuangan, mengusir kantuk dan rasa capek, serta memikirkan lama waktu perjalanan ia pulang kembali ke Sragen.

“Hari ini malam selawe [25] saya sengaja datang bersama rekan saya dari Sragen. Meski sangat jauh saya merasa nyaman di Masjid Agung, entah mengapa. Saya hanya tahu masjid ini memiliki nilai sejarah tinggi, tapi tidak tahu sejarahnya seperti apa. Yang jelas nyaman, lebihnya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Tak terhitung berapa kali saya iktikaf di sini, setiap Ramadan saya menempuh jarak jauh agar dapat ke Masjid Agung,” ujarnya saat ditemui Solopos.com.

Tak jauh dari Tri Utomo, Muhammad Ghozali, 40, sedang beristirahat setelah menunaikan salat malam. Ia mengaku berasal dari Jepara dan merantau di Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo. Ia sudah lima belas tahun berada di Kota Solo dan setiap malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan ia selalu berada di Masjid Agung. Bahkan, ia rela menunda mudik ke Jepara sedikit terlambat.

“Niat saya mencari keberkahan dunia akhirat untuk saya dan keluarga. Memperoleh keberkahan perlu perjuangan, tidak hanya bersantai di rumah lalu lailatul qadar datang sendiri. Segala sesuatunya memerlukan perjuangan,” ujarnya.

Waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB, hidangan sahur gratis yang disediakan takmir masjid dan sumbangan para jemaah mulai dibagikan. Di bawah lampu berwarna kuning masjid, para jemaah saling berbincang sembari menikmati hidangan sahur sederhana.

Salah satu anggota Takmir Masjid Agung Kasunanan Kota Surakarta, Muhammad Alif, saat ditemui Espos di ruang kerjanya, mengatakan sejak sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadan para jemaah mulai beriktifkaf di masjid. Menurutnya, paling banyak jemaah pada malam ganjil yang mencapai seribuan orang. Di luar malam ganjil jemaah hanya sekitar 500 orang saja. Ia memprediksi pada malam ke-27 nanti akan menjadi malam puncak para jemaah yang beriktikaf. Hal itu dikarenakan para pemudik sudah kembali ke Kota Solo.

“Takmir biasanya menyediakan 300 bungkus hidangan sahur, tapi jemaah juga banyak yang memberikan sumbangan makanan, ada yang 200 atau 300 bungkus. Insya Allah Ramadan tahun depan akan dikonsep seperti penyajian warung agar lebih menarik,” ujarnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

Pasien Covid-19 Kini Lebih Cepat Meninggal, Ini Penyebabnya

Pasien sering terlambat dibawa ke rumah sakit hingga berujung meninggal dunia.

Serapan Anggaran Penanganan Covid-19 Plupuh dan Miri Sragen Rendah, Kenapa Ya?

Anggaran penanganan Covid-19 di dua kecamatan Sragen yakni Miri dan Plupuh, masih rendah, kurang dari 30 persen hingga awal Agustus ini.

Waduh, Tingkat Keterisian Bed RS Rujukan Covid-19 Klaten Masih Tinggi Lur!

Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) RS rujukan Covid-19 Kabupaten Klaten hingga awal pekan ini masih tinggi.

Kena Prank Keluarga Akidi Tio, Kapolda Sumsel Memilih Berpikir Positif

Ada atau tidaknya dana Rp2 triliun tidak menyurutkan ikhtiar Polda Sumsel menanggulangi Covid-19.

Pasien Positif Corona Tanpa Gejala Sukoharjo Didorong Isolasi di 2 Tempat Ini

Pasien positif terpapar virus corona tanpa gejala atau bergejala ringan di Kabupaten Sukoharjo didorong menjalani isolasi di tempat khusus.

Ahli IPB: Harimau Tak Bisa Tularkan Corona ke Manusia

Kejadian penyakit pada hewan di berbagai belahan dunia sangat identik, yakni hewan tersebut tertular dari pemiliknya.

Pelayanan Kantor Kecamatan Jebres Solo Buka Lagi setelah Tutup karena 10 Pegawai Positif Corona

Pelayanan kantor Kecamatan Jebres, Solo, sudah kembali dibuka setelah sempat tutup beberapa hari karena sejumah pegawai terpapar Covid-19.

Kasus Covid-19 Tambah 22.404, Jateng Penyumbang Terbanyak

Dari kasus Covid-19 di Indonesia sebanyak 22.404 hari ini, Jateng berkontribusi 3.218.

Lima Makanan dan Minuman Ini Mampu Atasi Dehidrasi

Jangan abaikan rasa haus apalagi di musim kemarau, karena itu salah satu sinyal bahwa tubuh Anda sedang mengalami dehidrasi.

12 Daerah di Jawa-Bali Naik ke PPKM Level 4, Ini Daftarnya

Sebanyak 12 daerah naik ke PPKM Level 4, sembilan daerah turun ke PPKM Level 3, dan satu daerah turun ke PPKM Level 2.

Ada Buruh Kena PHK Belum Dapat Pesangon, FKSPN Karanganyar Mengadu ke DPRD 

FKSPN Karanganyar mengadu ke DPRD tentang masalah buruh berupa pesangon setelah kena PHK dan tali asih buruh meninggal yang belum dibayarkan.

Kelabui Petugas, Seorang Napi Lapas Madiun Kabur

Seorang narapidana atau napi Lapas Klas I Madiun bernama Peprianto kabur dari penjara dengan cara pura-pura ke kamar kecil untuk kencing.