Bangkai ikan tergeletak di tepi Sungai Bengawan Solo, di Dukuh Nglombo, Desa Tenggak, Sidoharjo, Sragen, Senin (4/11/2019). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen pada Selasa (5/11/2019) mengambil sampel air Sungai Bengawan Solo.

Sampel air dari Sungai Bengawan Solo itu rencananya dibawa ke Laboratorium MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo untuk diuji kandungan limbah yang mencemarinya.

Air Sungai Bengawan Solo itu berwarna hitam kehijauan akibat tercemar limbah industri. “Kondisi air di Sungai Bengawan Solo di Sragen ini hampir sama dengan di Karanganyar, Solo, dan Sukoharjo. Perusahaan-perusahaan yang buang limbah itu ada di bagian hulu, tetapi Sragen ikut terkena dampaknya,” ucap Kepala DLH Sragen, Samsuri, kepada Solopos.com, Selasa.

Pakar: Ipar Seno Gede Calon Kuat Pendamping Gibran Rakabuming

Samsuri mengklaim tidak ada industri besar atau UMKM di Sragen yang membuang limbah ke Sungai Bengawan Solo. Namun, beberapa dari UMKM memang kedapatan membuang limbah ke Sungai Garuda yang merupakan anak Sungai Bengawan Solo.

Belum lama ini, BLH Sragen mengecek kondisi Sungai Garuda yang sudah tercemar limbah dari pabrik tahu dan ternak komunal.

Penganiayaan Anggota PSHT di Sukoharjo Dipicu Rebutan Lahan Parkir Burger King

“Untuk Sungai Garuda, kami sudah punya rencana strategis dalam rangka mengurangi pencemaran air pada 2021. Ini membutuhkan kerja sama dengan sejumlah instansi terkait. Kami perlu menganggarkan dana untuk membangun IPAL atau merevitalisasi IPAL yang sudah rusak. Kami berharap bantaran sungai bisa tertata lebih rapi, ada jalan dan taman,” papar Samsuri.

Sebagaimana diinformasikan, ribuan ikan sapu-sapu ditemukan mati di Sungai Bengawan Solo wilayah Sidoharjo, Sragen. Warga sekitar menduga ikan-ikan itu mati akibat Sungai Bengawan Solo tercemar limbah dari sejumlah pabrik di kawasan Sukoharjo hingga Karanganyar.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten