Telanjur Berdiri, Bupati Yuni Minta Tugu Perguruan Silat di Sragen Dibersihkan dan Dicat Jelang HUT RI
Salah satu tugu PSHT di Dukuh Bantar, Pelemgadung, Karangmalang, Sragen. (Istimewa/Joko Piroso)

Solopos.com, SRAGEN -- Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, prihatin dengan banyaknya tugu perguruan silat di tepi jalan umum yang tidak dirawat dengan baik.

Orang nomor satu di Bumi Sukowati itu lantas meminta semua perguruan silat membersihkan tugu tersebut guna menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI.

Hal itu disampaikan Bupati Yuni saat menghadiri Silaturahmi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) dan Forum Komunikasi Perguruan Silat Sragen (FKPSS) dengan perwakilan perguruan pencak silat Sumberlawang. Pertemuan berlangsung di Balai Desa Ngandul, Kamis (6/8/2020).

Wah! PSI Ngaku Ditawari Rp1 Miliar Untuk Usung Purnomo-Anung di Pilkada Solo 2020

“Seharusnya tugu perguruan silat itu tidak boleh dibangun di tepi jalan Sragen. Baik itu jalan desa, jalan kabupaten, jalan provinsi, maupun jalan nasional. Itu aset milik negara sehingga tidak boleh sembarangan dibangun tugu,” tegas Bupati pada kesempatan itu.

Bupati menegaskan semua perguruan silat tidak boleh menambah tugu di tepi jalan umum. Pembangunan tugu hanya dibolehkan di pekarangan rumah warga atau di padepokan.

Sementara untuk ratusan tugu yang sudah telanjur berdiri di tepi jalan umum, Bupati meminta agar dirawat dengan sebaik-baiknya. “Jangan biarkan rumput tumbuh liar di sekitar tugu itu. Kalau ada banyak coretan ya dibersihkan. Silakan dicat yang bagus untuk menyambut Hari Kemerdekaan,” papar Yuni.

Purnomo-Anung Bantah Tawarkan Rp1 Miliar Ke PSI Agar Diusung Di Pilkada Solo 2020

Bupati menilai keributan antara perguruan silat yang kerap berujung perusakan tugu di Sragen biasanya bermula dari masalah pribadi. Dia mencontohkan keributan itu rata-rata bermula adanya saling senggol saat sejumlah anak muda tengah asyik berjoget di sebuah pementasan dangdut atau campursari.

Keributan

Saat pementasan itu selesai digelar, kedua pihak akhirnya mengadu ke teman sesama perguruan silat. Akhirnya, keributan antarperguruan silat pun terjadi.

“Perselisihan itu diawali masalah pribadi. Masalahnya hanya antarindividu. Mereka tidak bawa bendera perguruan silat. Tapi, akhirnya merambah ke organisasi. Ini yang tidak boleh terjadi,” bebernya.

Dam Colo Sukoharjo Ditutup Sesuai Jadwal Normal Per 1 Oktober, Petani Bersiaplah!

Sementara itu, Wakapolres Sragen, Kompol Eko Mardiyanto, menilai pergesekan antarperguruan silat biasa dipicu informasi hoaks di media sosial. Informasi yang tidak jelas itu justru membuat gaduh karena bersifat provokatif.

“Jangan mudah terpancing provokasi. Cek dulu informasi yang benar seperti apa. Jangan langsung percaya dengan informasi yang tidak jelas asal usulnya,” papar Kompol Eko.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya


Kolom