Tutup Iklan
Teladan Tjipto dan Misbach
Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Tokoh utama novel Aruna & Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak bernama Aruna. Latar kisahnya adalah Indonesia yang terjangkit wabah flu burung beberapa tahun lalu.

Aruna seorang epidemiologis alias juru wabah yang bekerja di nongovermental organization (NGO) alias lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bekerja sama dengan kementerian yang menangani virus Avian influenza yang mengganas di Indonesia.

Aruna mendatangi berbagai rumah sakit yang merawat pasien flu unggas dan mewawancarai pasien. Dia juga mendatangi rumah-rumah pasien untuk mengetahui apakah mereka memang tinggal dekat dengan unggas.

Ada persamaan kondisi berjangkitnya virus H5N1 itu dengan sekarang ketika virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 mewabah di mana-mana dan menjadi pandemi global. Sama-sama penyakitnya disebabkan virus yang berasal dari hewan yang naik level menjangkiti manusia.

Pemerintah dan publik yang hiruk-pikuk menghadapi kasus itu diberitakan oleh media massa secara besar-besaran. Proyek-proyek pemerintah digerakkan untuk menghadapi virus yang sangat kecil, tak terlihat oleh mata, misalnya pengadaan obat-obatan hingga vaksin.

Di novel itu Laksmi Pamuntjak juga mengungkap ada konspirasi dan korupsi dalam proyek penanganan flu burung.  Ada satu kalimat yang menarik perhatian saya, yaitu saat Aruna berdialog dengan rekannya, Farish Chaniago. Menurut Aruna, virus tak akan pernah takluk.

”Ia kecil, ia sabar, ia mengganda dalam diam. Tak ada yang menghitung umurnya, tapi ia tak pernah lupa. Suatu hari ia datang, menyerang, dan kita tidak berdaya menangkalnya,” kata Aruna.

Ternyata makhluk tidak kasatmata itu terus bergerak, menyerang, dan melumpuhkan. Diameter virus corona tipe baru penyebab Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 diperkirakan 15 nanometer atau 0,125 mikrometer.

Virus itu lincah, bisa menempel  di mana-mana. Virus corona tipe baru yang kali pertama muncul di Wuhan, Tiongkok, bisa menyebar ke seluruh dunia. Mereka tidak bergerak sendiri, hanya menempel di media yang bergerak, seperti telapak tangan manusia maupun benda-benda lain. Virus itu tidak mudah mati  kalau hanya dijemur di bawah sinar matahari, baru bisa musnah pada suhu 56 derajat Celcius ke atas.

***

Pada awal abad ke-20, wabah pes melanda berbagai daerah di Hindia Belanda. Wabah ini sama dengan yang muncul di Eropa pada abad ke-14 yang menewaskan sepertiga penduduk dunia. Wabah ini disebut Black Death karena jaringan ujung jari tangan, kaki, atau hidung pengidap penyakit itu menghitam.

Pengidap pes mengalami sesak napas, batuk, bahkan sampai keluar darah disertai muntah, demam, pusing, hingga lemas. Virus itu menyerang paru-paru, jantung, dan organ lain. Pes disebabkan oleh kutu tikus.  Diduga pes di Jawa berasal dari Burma.

Bakteri Yersinia pestis pada kutu tikus terbawa ke Jawa saat pemerintah kolonial Belanda mengimpor beras dari Burma. Beras impor yang membawa tikus berikut kutu yang mengandung bakteri itu singgah di Malang yang kemudian menular kepada manusia, lalu menyebar ke berbagai daerah.

Pada 1911,  wabah pes merenggut nyawa 2.000-an warga Malang.  Yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda adalah mengisolasi warga dan keluarganya yang terjangkit pes, kemudian memerintahkan warga memperbaiki rumah agar lebih sehat. Jadi, teknik isolasi pasien dan keluarganya ada sejak dulu untuk mencegah penularan.

Kebanyakan dokter-dokter Eropa enggan menangani pes karena takut tertular. Saat itu dokter pribumi lulusan sekolah kedokteran STOVIA sedikit jumlahnya. Dokter  Tjipto Mangunkusumo yang membuka praktik klinik swasta di Kota Solo mengajukan diri berangkat ke Malang (Balfas, 1952).

Dokter pribumi ini berada di garis depan mengobati warga. Dia masuk ke daerah wabah tanpa khawatir tertular. Dia masuk ke pelosok desa  tanpa menggunakan masker. Ia menyerahkan diri kepada nasib demi menyembuhkan warga Malang.

Dokter lain yang datang ke Malang adalah dr. Soetomo. Kerajaan Belanda memberi penghargaan Ridder in de Orde van Oranje Nassau atau bintang emas kepada dr. Tjipto. Pes akhirnya mewabah, menular ke daerah lain, termasuk di Solo, Kartasura, hingga Delanggu.

Kasus pes di Solo pecah pada 1913 dan terus berkembang beberapa waktu kemudian. Berbekal pengalaman menangani pes di Malang, dr. Tjipto menawari pemerintah kolonial Belanda untuk terlibat dalam penanganan pes di Solo. Tawaran itu ditolak.

Dia  tidak puas dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Tjipto yang memang kritis terhadap Belanda melawan dengan humor. Dia menyematkan penghargaan bintang emas dari Ratu Belanda itu di bokongnya.

Jadi, kalau serdadu Belanda menghormat Ratu Belanda yang direpresentasikan oleh bintang emas itu, mereka menghormat ke arah bokong Tjipto. Untuk mencegah penyakit yang juga disebut sampar itu berkembang, pemerintah kolonial Belanda mengisolasi pengidap, memaksa warga memperbaiki rumah yang tidak sehat, dan memburu tikus-tikus yang jadi vektor penyakit.

Warga yang tidak memiliki uang diberi pinjaman (voorschoot)  untuk memperbaiki rumah.  Banyak warga dalam keadaan miskin. Mereka tak memiliki uang untuk mengembalikan utang itu. Takashi Shiraisi dalam buku Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, menggambarkan kegelisahan penduduk itu.

Tokoh di panggung sejarah saat itu adalah Haji Misbach. Ia pengusaha, wartawan, sekaligus aktivis asal Kauman, Solo. Dia aktif di Insulinde, Sarekat Islam, dan Sidik Amanah Tablig Vatonah (SATV) yang merupakan embrio Muhammadiyah di Solo. Dia juga aktif di organisasi buruh dan petani.

Misbach memimpin Koran Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Misbach mengadvokasi warga yang terbebani utang kepada pemerintah Hindia Belanda. Misbach adalah orang dekat Tjipto. Tjipto adalah tokoh Insulinde di Solo.

Insulinde adalah organisasi lanjutan Indische Partij (IP) yang beranggotakan orang keturunan Belanda atau Eropa umumnya. Hanya di Solo, salah satunya berkat Misbach, Insulinde malah beranggotakan orang-orang Pribumi.

Istri dr. Tjipto, Ny. Vogel, adalah Ketua Insulinde Solo sedangkan Misbach menjabat Wakil Ketua. Pada 31 Maret 1918, Misbach sebagai utusan Insulinde Solo datang ke Kartasura mengorganisasi vergadering (rapat umum) dan propaganda melawan kebijakan pemerintah.

Misbach mengajak warga tak mengembalikan uang kepada pemerintah kolonial (Haroenrasjid, Alesan-Pemerintah-Membuang Ketua H.M. Misbach, Medan Moeslimin edisi No. 11/1924). Haroenrasjid menyebut advokasi Misbach terhadap warga Kartasura adalah salah satu alasan di balik penangkapan dirinya. Dia tidak diadili karena tidak ada bukti kuat namun dibuang ke Manokwari.

***

Dalam setiap wabah, dipastikan banyak korban jatuh. Pada setiap kebijakan pemerintah menangani wabah selalu ada hiruk-pikuk. Kadang-kadang  ada yang tidak tepat, ramuan yang tidak pas, hingga penanganan terlambat.

Sebuah kebijakan bisa jadi benar secara teori, namun tidak tepat dilaksanakan. Dalam bahasa Jawa ada istilah bener lan pener. Bener tetapi tidak pener juga bisa. Misalnya, yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Kebijakan memaksa warga memperbaiki rumah, menata sanitasi, menjaga kebersihan, itu secara teori benar. Kebijakan itu tidak pener, tak mempertimbangkan rasa dan perasaan warga yang miskin. Kebijakan itu malah menuai perlawanan.

Demikian pula dalam penanganan Covid-19. Kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi ini bisa jadi berlandasan kajian sebelum diputuskan. Kadang-kadang itu tidak cukup pener. Jadi, kebijakan idealnya diambil dengan mempertimbangkan berbagai hal secara komprehensif agar didukung oleh publik, bukan malah menuai perlawanan.

Semoga kebijakan pemerintah menangani Covid-19 tidak hanya bener namun juga pener. Tak ada kegaduhan dalam pelaksaannya, juga tidak ada korupsi dananya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho