Teknologi Finansial dan Inklusi Keuangan
Wawan Sugiyarto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Laporan Global Findex Database tahun 2017 menunjukkan 95 juta penduduk Indonesia belum memiliki akun layanan keuangan atau unbanked. Selain keterbatasan uang yang dimiliki, faktor lokasi yang jauh dan biaya pengelolaan akun yang tinggi merupakan dua sebab utama penghambat masyarakat enggan membuka akun (World Bank, 2017).

Berdasar data startupranking.com per 22 September 2020, Indonesia merupakan negara kelima terbesar di dunia atau kedua di Benua Asia di bawah India dalam hal jumlah perusahaan rintisan, yakni sebanyak 2.198 perusahaan. Salah satu perkembangan teknologi di bidang layanan keuangan yang cukup menjanjikan adalah kemunculan teknologi finansial.

Teknologi finansial (tekfin) atau financial technology (fintech) mendorong perubahan model bisnis dan layanan jasa keuangan. Tekfin menawarkan produk dan solusi baru kepada konsumen secara lebih cepat, mudah, aman, transparan, dan efisien. Apa saja faktor pendorong perkembangan tekfin?

Bagaimana perkembangan dan peran tekfin dalam mendorong peningkatan akses layanan keuangan masyarakat (inklusi keuangan)? Esai ini membahas perkembangan dan tantangan tekfin serta peran untuk meningkatkan inklusi keuangan masyarakat.

Faktor Pendorong

Pada lingkup global, perkembangan tekfin yang relatif pesat didorong oleh sejumlah faktor (KPMG, 2017b). Apa saja? Pertama, revolusi teknologi. Peluang dan kesempatan baru akan selalu tercipta seiring dengan berkembangnya teknologi yang mempermudah akses, mempercepat layanan, dan menghemat biaya dan waktu.

Hal itu antara lain terwujud dalam layanan keuangan secara mobile dan online dan penggunaan big data untuk berbagai keperluan industri. Kedua, ekspektasi konsumen yang semakin tinggi atas layanan keuangan digital sekaligus yang menawarkan pengalaman interaksi lebih baik.

Model layanan digital interface dari perusahaan teknologi seperti Apple, Google, dan Facebook mendorong konsumen berharap lebih pada layanan keuangan pada era revolusi industri 4.0. Laporan KPMG tahun 2017 menunjukkan 63,1% konsumen di seluruh dunia menggunakan produk dan layanan tekfin (KPMG, 2017a).

Ketiga, perusahaan rintisan memiliki akses yang lebih mudah ke pendanaan dan modal sehingga mempermudah untuk berinovasi dan mengembangkan produk dan model bisnis baru. Beraneka ragam jenis pendanaan tersedia ikut mendorong perkembangan tekfin. Sebagai gambaran, perusahaan ventura secara global menginvestasikan US$13,6 miliar di bisnis tekfin  pada 2016 (KPMG, 2017b).

Keempat, ketersediaan dukungan yang kuat dari pemerintah dan regulator sehingga mampu menurunkan berbagai hambatan masuk ke bisnis layanan dalam industri jasa keuangan. Peran penting pemerintah dalam pengembangan pasar tekfin adalah menciptakan lingkungan bisnis yang ramah tekfin melalui kebijakan yang progresif dan insentif yang memadai termasuk insentif pajak.

Kehadiran fintech regulatory sandboxes menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tekfin berkembang. Bagaimana di Indonesia? Salah satu perkembangan tekfin yang cukup pesat adalah tekfin peer to peer lending atau pendanaan gotong royong online.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 14 Agustus 2020 menunjukkan terdapat 157 perusahaan tekfin yang terdaftar dan berizin di Indonesia (OJK, 2020). Hal yang menggembirakan namun mengkhawatirkan dari sisi sebaran pengguna. Mengapa? Karena sebagian besar tekfin tersebut berpusat dan melayani mayoritas konsumen di Pulau Jawa.

Tantangan

Produk layanan keuangan berbasis teknologi seperti tekfin tentu memiliki sejumlah tantangan ke depan. Apa saja yang perlu diperhatikan dan bagaimana menghadapainya? Pertama, produk yang memerlukan personalisasi dan kustomisasi.

Salah satu tantangan utama bisnis layanan keuangan ke depan adalah menyinkronkan kebutuhan dan preferensi konsumen dengan solusi dan pengalaman interaksi yang disediakan ketika menggunakan layanan tersebut (PWC, 2019). Karena itulah, inovasi pengembangan tiada henti dengan memperbarui teknologi dan business model organisasi merupakan sebuah keniscayaan.

Kedua, mengelola keseimbangan interaksi manusia dengan teknologi. Survei global consumer insight PWC tahun 2019 menunjukkan bahwa mayoritas konsumen memerlukan layanan human adviser dalam mengambil keputusan keuangan yang besar (PWC, 2019).

Ketiga, cybersecurity menjadi wajib dan prioritas. Salah satu risiko utama bisnis layanan keuangan yang memadukan teknologi adalah keamanan penggunaan, kepatuhan aspek legal, dan perlindungan data privasi konsumen.

Keempat, efisiensi biaya layanan semaksimal mungkin. Tekfin semestinya fokus pada inovasi produk yang memberikan value lebih kepada konsumen. Untuk mencapai efisiensi ultimate,  simplifikasi berbagai prosedur dan proses bisnis menjadi esensial.

Survei Nasional Literasi Keuangan tahun 2019 oleh OJK menunjukkan capaian indeks literasi dan inklusi keuangan sebesar 38,03% dan 76,19%.  Capaian tersebut meningkat relatif pesat dibanding hasil survei tahun 2016 sebesar 8,33% dan 8,39%.

Terdapat hal yang mengkhawatirkan yaitu indeks literasi keuangan jauh di bawah indeks inklusi keuangan. Artinya banyak masyarakat yang mengakses layanan keuangan namun tidak memahami secara baik hak dan kewajiban sebagai konsumen.

Kehadiran tekfin diharapkan mampu meningkatkan literasi dan akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Mengapa? Karena memberikan layanan lintas lokasi dengan biaya yang lebih terjangkau.

Tekfin memungkinkan penyediaan produk dan layanan baru yang lebih murah, lebih cepat, dan lebih sederhana kepada kelompok masyarakat yang belum dapat mengakses layanan keuangan tradisional. Sebagai gambaran, selama tahun 2010 sampai 2017, terdapat 1,2 miliar penduduk dunia yang bisa mengakses layanan keuangan untuk kali pertama berkat kehadiran teknologi (World Bank, 2017).

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom