Tekan Angka Kematian Pasien Covid-19, Pemkab Sukoharjo Lakukan Ini Pada Manajemen RS Rujukan
RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo. (Solopos/Indah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Manajemen tata laksana penanganan Covid-19 rumah sakit atau RS Sukoharjo ditingkatkan untuk menekan angka kematian atau mortality rate pasien positif corona.

Terdapat delapan rumah sakit rujukan Covid-19 yang dioptimalkan untuk penanganan pasien positif dengan gejala di Kabupaten Makmur. Informasi yang Solopos.com himpun, Rabu (28/10/2020), angka kematian pasien positif Covid-19 Sukoharjo tergolong tinggi.

Bahkan, angka kematian empat kecamatan Sukoharjo melebihi ambang batas maksimal dari World Health Organization (WHO) yakni lima persen. Keempat daerah itu yakni Baki, Nguter, Polokarto dan Kartasura.

Jumlah Penumpang Bus Datang Ke Terminal Tirtonadi Solo Meningkat Sejak Selasa

Jumlah pasien positif yang meninggal dunia per 28 Oktober sebanyak 53 orang. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo selanjutnya mengevaluasi tata laksana manajemen RS dalam penanganan pasien positif Covid-19.

Hal ini untuk mengurangi angka kematian pasien positif corona. Ada delapan rumah sakit rujukan Covid-19 Sukoharjo yakni RSUD Ir Soekarno, RS Indriati, RS dr Oen Solo Baru, RS PKU Muhammadiyah Sukoharjo.

Lalu RS UNS, RS Nirmala Suri, RS PKU Muhammadiyah Kartasura dan RSIS Yarsis. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, mengatakan setiap rumah sakit itu memiliki berbagai fasilitas serta sarana dan prasarana (sarpras) untuk menunjang penanganan pasien Covid-19.

Kuota Sudah Penuh, Bawaslu Sukoharjo Tutup Pendaftaran Pengawas TPS

Pencegahan Komplikasi

Pasien positif Covid-19 yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit bakal menjalani terapi suportif dini dan pencegahan komplikasi.

“Dari delapan rumah sakit rujukan Covid-19, dua merupakan rumah sakit lini kedua yakni RSUD Ir Soekarno dan RS UNS,” katanya kepada Solopos.com, Rabu.

Yunia mencontohkan manajemen penanganan pasien positif Covid-19 RSUD Ir Soekarno Sukoharjo yang merupakan RS sakit berpelat merah. RS ini memiliki gedung khusus untuk merawat pasien positif corona dengan gejala.

Tracing Kasus Covid-19, Lebih Dari 10.800 Sampel Swab di Boyolali Telah Diambil

Gedung itu berlantai empat yang menyediakan puluhan bed untuk pasien positif yang menjalani rawat inap. Persoalannya, belum ada pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) khusus Covid-19.

“Permasalahan lainnya aspek sosial pasien positif yang telah menjalani isolasi mandiri dan sembuh. Hingga sekarang, masih ada stigma terhadap pasien positif yang telah sembuh dan kembali berinteraksi dengan masyarakat,” ujarnya.

Mayoritas pasien positif yang menjalani rawat inap merupakan pasien dengan gejala. Mereka memiliki penyakit penyerta atau komorbid sehingga berisiko tinggi jika terinfeksi virus corona.

Gibran Gagas Solo CreatifHub Untuk Berdayakan Anak Muda, Begini Programnya

79 Persen Pasien Punya Komorbid

Jumlah pasien positif dengan gejala dengan komorbid mencapai 79 persen. Sedangkan jumlah pasien positif dengan gejala tanpa komorbid sebesar 21 persen.

Adapun jenis penyakit penyerta pasien positif corona terbanyak yakni diabetes melitus sebanyak 38 persen, hipertensi sebanyak 22 persen, gagal ginjal 18 persen, dan jantung 9 persen.

“Pasien positif yang memiliki komorbid bisa mengakibatkan kematian. Termasuk orang lanjut usia [lansia] yang imunitas tubuhnya lemah sehingga berisiko tinggi terinfeksi Covid-19,” katanya.

Kuota Sudah Penuh, Bawaslu Sukoharjo Tutup Pendaftaran Pengawas TPS

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sukoharjo, Iskandar, mengatakan salah satu upaya menurunkan angka kematian Covid-19 adalah memasifkan pencegahan penularan Covid-19 terhadap kelompok masyarakat dengan komorbid.

Mereka harus tetap berada dalam rumah untuk meminimalkan paparan virus corona. Apabila, mereka terinfeksi Covid-19 berpotensi menderita gejala berat hingga kematian.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom