Tegal Lockdown, Begini Respons Pengusaha Warteg
Warteg Ibu Tia di Jl. Klipang Raya, Sendangmulyo, Tembalang, Kota Semarang, Jateng, Jumat (9/9/2016). Setiap hari Jumat, Warteg Ibu Tia selalu memberikan makanan secara cuma-cuma alias gratis kepada pembelinya jika mendoakan warung tersebut. (Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

Solopos.com, JAKARTA - Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, menerapkan status local lockdown di wilayahnya untuk mengatasi pendemi virus corona. Pengusaha warung Tegal (warteg) di Jakarta pun bingung terkait keputusan lockdown tersebut.

Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni mengatakan keputusan Tegal lockdown itu terlalu cepat. Pihaknya juga bingung pasalnya sepengetahuan dia, yang boleh menyatakan lockdown adalah Presiden Joko Widodo.

Update! 1.046 Positif Corona di Indonesia, Ada Tambahan 3 di Jateng

"Ini mendadak ya dari Wali Kota Tegal memberlakukan apa itu lockdown. Saya secara pribadi masih bingung karena Pak Presiden sendiri, yang berkuasa, yang punya wewenang untuk melakukan lockdown RI 1. Makanya saya mencari tahu yang dimaksud lockdown wali kota itu lockdowon yang mana," ujarnya seperti dilansir detik.com, Jumat (27/3/2020).

Kota Tegal menyatakan bakal local lockdwon mulai 30 Maret 2020 hingga 30 Juli 2020 demi mencegah persebaran virus corona. Wali Kota mengatakan daerah perbatasan Tegal akan ditutup dengan MBC beton.

Saat ini, Mukroni masih menunggu perkembangan terkait lockdown yang diterapkan oleh Kota Tegal. Di sisi lain, pihaknya juga mengimbau pengusaha warteg untuk tak mudik dulu. Kowantara akan mengumumkan imbauan resmi pada pekan ini.

Salat Jumat Di Wonogiri Ditiadakan Tapi Duhur Masih Berjamaah

"Saya pribadi dan atas nama Kowantara juga kemungkinan nanti, sebentar lagi, mungkin pekan ini akan memberikan statmen ini untuk, mengimbau temen-temen di komunitas warteg nusantara untuk sementara mudiknya ditunda. Tahun ini ibaratnya enggak usaha pulang dulu lah untuk menghindari penyebaran virus corona secara meluas. Itu imbauan kami," tandasnya.

Namun, Mukroni menyebut pengusaha warteg bisa saja nekat mudik. Hal itu karena omzet mulai menurun karena corona. "Mereka di Jakarta kalau nggak ada sesuatu dapat income ibaratnya nganggur, bagaimanapun mereka akan pulang, karena biaya di Jakarta mahal. Kalau dia pulang kan biaya lebih murah, cuma masalahnya buah simalakama, kalau enggak ibunya meninggal, bapaknya meninggal," terangnya.

Dokter Indonesia Meninggal Karena Virus Corona Bertambah

Bantahan Gubernur

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, membantah Kota Tegal telah menerapkan status lockdown guna menekan persebaran virus corona atau Covid-19. Ganjar mengklaim yang terjadi di Kota Tegal tidaklah seseram yang diberitakan.

Ia sudah berkomunikasi dengan Wakil Wali Kota Tegal, Muhamad Jumadi, terkait informasi tersebut. “Saya sudah klarifikasi, sudah ada penjelasan soal itu. Intinya itu bukan lockdown, hanya isolasi terbatas agar masyarakat tidak bergerak bebas. Sampai tingkat itu saja,” ujar Ganjar Pranowo di Semarang, Jumat (27/3/2020).

Sumber: detik.com



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom