Tutup Iklan

Tedak Siten, Tradisi Jawa yang Kian Meredup

Tedak Siten adalah bahasa simbolik yang mengajarkan tentang kearifan hidup, seperti bagaimana hubungan manusia, alam dan Tuhan secara harmoni.

 Prosesi Tedak Siten (Instagram/@digitalcutcreation)

SOLOPOS.COM - Prosesi Tedak Siten (Instagram/@digitalcutcreation)

Solopos.com, KUDUS — Bagi sebagian masyarakat Jawa mungkin sudah tidak mengenal tradisi Tedak Sinten, namun di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tradisi ini masih dilestarikan. Dilansir dari Detik.com, Selasa (19/10/2021), seperti yang dilakukan warga Desa Pedawang RT 3/RW 3, Kecamatan Bae, yang melakukan prosesi ini untuk seorang anak bernama Alika Naila Putri, putri pasangan Jama’ah dan Solichatun.

Pria itu mengaku bahwa dia memang sengaja melangsungkan prosesi Tedak Sinten yang mengundang puluhan anak-anak di kampungnya. Tujuan diadakannya tradisi ini adalah mengenalkan anak-anak dengan budaya Jawa tempo dulu.

Dia menuturkan bahwa semasa masih kecil, banyak warga yang mengasakan tradisi ini, Bahkan dia sering menghadiri prosesi adat Jawa tersebut di rumah tetangganya. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut mulai jarang dilakukan lagi.

Baca Juga:Pinjol Ilegal Bunga Rp100.000/Hari, Nagih Pakai Foto Porno

Tedak Sinten juga dikenal sebagai upacara turun tanah. ‘Tedak’ berarti turun dan ‘Siten’ berarasal dari kata ‘Siti’ yang berarti tanah. Prosesi ini juga bertujuan supaya anak tumbuh menjadi anak yang  mandiri.

Dalam prosesi tersebut, seorang anak ditempatkan di dalam kurungan dan didudukan.  Sedangkan dalam kurungan itu terdapat yang, buku dan pensil yang nantinya dipilih oleh sang anak. Barang yang dipilih adalah profesi yang dipercaya akan digeluti sang anak di masa yang akan datang. Dalam prosesi ini juga dilibatkan seorang sesepuh yang nantinya mendoakan agar kedepannya sang anak benar-benar menggeluti prosesi yang dipilih dengan baik.

Sementara itu, pemerhati budaya dari IAIN Kudus, Nur Said mengatakan bahwa hingga saat ini tidak banyak warga Kabupaten Kudus yang menyelenggarakan tradisi ini. Dia juga menjelaskan bahwa Tedak Siten adalah tradisi Jawa yang praktisnya dilakukan di banyak daerah.

Baca Juga:Sedih! SKTM Ditolak, Pasutri di Brebes Tak Bisa Ambil Bayi di RS

Pertanyaannya, sejak kapan tradisi ini ada? Said menuturkan bahwa Tedak Siten ada sejak nenek moyang. Dia menerangkan bahwa semua proses ritual tradisi Jawa, termasuk Tedak Siten adalah bahasa simbolik yang mengajarkan tentang kearifan hidup, seperti bagaimana hubungan manusia, alam dan Tuhan secara harmoni.

Rangkaian Prosesi Tedak Siten

Dihimpun dari berbagai sumber, Tedak Siten biasanya digelar saat anak berusia tujuh atau delapan bulan. Tradisi ini dilaksanakan sebagai penghormatan kepada bumi, tempat anak belajar menginjakan kaki.  Acara ini dimulai dengan menapaki jadah tujuh warna. Jadah merupakan olahan beras ketan dicampur dengan parutan kelapa muda. Tujuh warna tersebut di antaranya ada hitam, kuning, hijau, biru, merah, putih dan jingga yang masing-masing warna memiliki makna.

Prosesi selanjutnya adalah naik tangga. Tangga tradisional dibuat dari tebu jenis arjuna dengan dihiasi kertas warna warni. Ritual tersebut melambangkan harapan agar si bayi memiliki sifat ksatria layaknya arjuna. Tebu dalam Bahasa Jawa adalah kependekan dari ‘antebing kalbu’ yang berarti bermakna kemantapan hati.

Baca Juga: Begini Awal Terungkapnya Perbuatan Bejat Pelatih Voli di Demak

Kemudian barulah anak dimasukan ke dalam kurungan bambu yang didalamnya terdapat barang-barang yang nantinya akan dipilih sesuai kehendak sang anak dan barang yang dipilih dipercaya menjadi profesi yang akan digeluti di masa depannya.

Rangkaian prosesi tedhak siten diakhiri dengan memandikan bayi ke dalam air bunga setaman lalu dipakaikan baju baru. Prosesi pemakaian baju baru inipun dengan menyediakan tujuh baju yang pada akhirnya baju ketujuh yang akan dia pakai.

Hal ini menyimbolkan pengharapan agar bayi selalu sehat, membawa nama harum bagi keluarga, hidup layak, makmur dan berguna bagi lingkungannya.


Berita Terkait

Espos Plus

Mengenal Prawirodigdoyo, Sosok Penunggang Kuda di Simpang 4 Karanggede

+ PLUS Mengenal Prawirodigdoyo, Sosok Penunggang Kuda di Simpang 4 Karanggede

Kebanyakan warga salah kaprah dengan menganggap patung penunggang kuda di simpang empat Karanggede Boyolali adalah Pangeran Diponegoro, padahal sosok penunggang kuda itu adalah Raden Tumenggung Prawirodigdoyo.

Berita Terkini

Innalillahi! Bus Rombongan Warga Toroh Grobogan Nyemplung ke Sungai

Bus rombongan warga Desa Genengadal, Kecamatan Toroh terguling dan masuk sungai di Desa Jeketro, Kecamatan Gubug, Grobogan.

Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran Bus Sudiro di Tol Semarang-Solo

Bus PO Sudiro Tungga Jaya jurusan Jakarta-Yogyakarta mengalami kebakaran di tol Semarang-Solo, Bergas, Kabupaten Semarang.

Angkut 30 Penumpang, Bus Sudiro Tunggal Kebakaran di Tol Semarang-Solo

Gangguan mesin menyebabkan bus PO Sudiro Tunggal mengalami kebakaran saat melintasi tol Semarang-Solo, tepatnya di Kabupaten Semarang.

PLN Bagikan Gerobak Molis kepada UKM Jateng, Dorong Produktivitas Usaha

PLN memberikan bantuan gerobak motor listrik (molis) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kepada pelaku UKM di Jateng untuk meningkatkan produktivitas usaha.

Polres Kudus Gerebek Tempat Produksi Minuman Keras Jenis Arak

Jajaran Polres Kudus menggerebek tempat produksi minuman keras atau miras di sebuah gudang, di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

Sidak Wali Kota Semarang Viral, Warganet Ramai Ikutan Usul Ini

Unggahan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat melakukan sidak di Kantor Kelurahan Bulusan, di akun instagram pribadinya mendadak viral.

Sejarah Vihara Buddhagaya Semarang

Vihara Buddhagaya di Semarang, Jawa Tengah, memiliki sejarah panjang karena didirikan sejak 500 tahun lalu, tepatnya saat keruntuhan Majapahit.

Indahnya Sunrise di Taman Posong Lereng Sindoro Temanggung

Wilayah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memiliki pesona wisata alam yang indah dan masih baru seperti Taman Posong.

Wisata Makam Apung di Pantai Sayung, Tak Tersentuh Air Laut

Demak memiliki objek wisata religi berupa makam apung milik Mbah Mudzakir yang konon tidak pernah terendam air laut meski terjadi gelombang tinggi.

Tragedi Berdarah! 5 Warga Slawi Tewas Diracun Dukun Pengganda Uang

Kisah tragis kali ini tentang tragedi berdarah yang merenggut lima nyawa warga Slawi akibat ulah dukun pengganda uang.

Banyak Tambang Ilegal di Merapi Rusak Lingkungan, Ganjar Pranowo Pusing

Gubernur Ganjar Pranowo meminta pemerintah pusat tidak sembarangan menerbitkan izin usaha penambangan karena banyak yang merusak lingkungan dan membuatnya pusing.

Kontroversi Gelar Kartini, Mestinya R. Ay Bukan RA, Begini Ceritanya

Gelar RA yang disematkan kepada Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita di Indonesia kurang tepat, karena dalam budaya Jawa gelar Kartini mestinya R.Ay.

Wisata Seru ke Wonosobo: Romantis, Eksotis & Magis

Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, memiliki sederet objek wisata alam yang romantis, eksotis, dan magis.

Daun Talas asal Jateng Diminati Pasar Luar Negeri, Ini Manfaatnya

Komoditas pertanian dan perkebunan asal Jawa Tengah atau Jateng, daun talas beneng, mulai diminati pasar luar negeri salah satunya Australia.

Angin Kencang Terjang Parakan Temanggung, Belasan Rumah Rusak

Bencana angin kencang atau puting beliung menerjang belasan rumah warga di Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah (Jateng).