Petani mengecek kondisi sawah di Tungkluk RT 006/RW 002, Girimulyo, Jatipurno, Wonogiri, Minggu (5/5/2019). (Istimewa/Camat Jatipurno Suradi)

Solopos.com, WONOGIRI -- Tanaman padi yang hampir panen di tiga lahan seluas lebih kurang 1 hektare (ha) di Dusun Tungkluk RT 006/RW 002, Girimulyo, Jatipurno, Wonogiri, dipastikan gagal panen.

Sawah tersebut tertimbun material longsor dari tebing setinggi 8 meter-10 meter, Kamis (2/5/2019) pukul 16.00 WIB lalu. Beruntung tidak ada petani yang beraktivitas di lokasi saat longsor terjadi sehingga tidak ada korban jiwa maupun luka.

Namun, akibat peristiwa itu pemilik sawah harus menanggung kerugian lebih kurang Rp60 juta. Camat Jatipurno, Suradi, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (5/5/2019), menduga lereng dekat areal persawahan itu longsor karena ada pergerakan tanah.

Alhasil, saat terkena air hujan meski tak banyak, lereng longsor. Terlebih, lereng di lokasi tersebut curam. Terdapat tiga sawah yang terkena longsor, yakni milik Katno, Sikem, dan Sulih. Total luas lahan diperkirakan mencapai 1 ha.

Suradi bersyukur karena saat peristiwa terjadi tidak ada petani yang beraktivitas di lokasi. Namun, akibat kejadian itu pemilik sawah rugi puluhan juta rupiah karena dipastikan gagal panen dan sawah mereka rusak.

“Semalam sebelumnya terjadi hujan di Tungkluk dan sekitarnya, tapi tidak lebat dan hanya sebentar. Meski begitu lerengnya bisa longsor. Berarti kemungkinan besar tanahnya labil atau sebelumnya sudah ada pergerakan tanah. Selain menimbun sawah, material juga menimbun saluran irigasi yang mengakibatkan saluran rusak,” kata Suradi.

Dia melanjutkan kejadian di Tungkluk merupakan peristiwa kali kedua. Sebelumnya, tebing di sekitar lokasi juga longsor mengenai areal persawahan. Adanya dua kejadian itu menunjukkan tanah di lereng bukit sekitar areal persawahan tersebut labil.

Potensi longsor semakin besar karena lereng tidak terdapat pohon penguat struktur tanah. Oleh karena itu Suradi mengimbau petani ekstra berhati-hati dan selalu waspada jika terpaksa harus beraktivitas di sawah.

Jika mendeteksi sudah ada pergerakan tanah di lereng bukit misalnya, petani diminta tak beraktivitas di sawah agar terhindar dari hal-hal tak diinginkan.

“Sekarang ini petani mulai memanen padi. Akan ada banyak petani yang beraktivitas di sawah. Jadi, harus lebih berhati-hati dan selalu waspada. Stakeholders di Desa Girimulyo sudah saya minta menggencarkan imbauan kepada petani,” imbuh dia.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, meminta warga atau petani yang ingin beraktivitas di sawah di sekitar lokasi kejadian memperhatikan kondisi lereng terlebih dahulu. Jika dirasa berbahaya, lebih baik tidak beraktivitas di sawah untuk mengantisipasi hal-hal buruk terjadi.

Menurut dia, lereng bukit di lokasi rawan longsor, karena tidak menutup kemungkinan kondisi tanah lereng di bagian lain sama seperti bagian yang longsor. Dia menduga longsor terjadi karena kondisi tanahnya lembek.

“Peristiwa seperti di Jatipurno juga pernah terjadi di Golo [Puhpelem] pada 1990-an. Ada satu orang yang meninggal dunia. Petani harus ekstra waspada kalau mau beraktivitas di sawah di dekat lereng,” kata Bambang.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten