Tutup Iklan
Tanpa Euforia
Suwarmin (Dokumen Solopos)

Solopos, SOLO -- Lebaran berlalu. Tanpa tangisan-tangisan yang menyentuh seusai Salat Idulfitri atau saat bertemu karib kerabat yang lama tak bertemu. Biasanya pada suasana monumental tahunan seperti itu, orang-orang teringat pada kedirian masing-masing.

Mereka mengingat kekurangan diri. Kehilangan diri. Bagi yang tahun ini kehilangan anggota keluarga, sekali lagi tangis itu pecah. Lebaran tahun ini ayahanda atau ibunda tak lagi menyertai mereka karena ayahanda atau ibunda, atau siapa pun yang terkasih, sudah berpulang.

Itulah. Lebaran tahun ini tanpa tangis-tangis itu. Mungkin hanya air mata keharuan. Pandemi Covid-19 yang membuat peluk, cium, dan segala sentuhan sebagai hubungan terlarang rasanya menjadi garis penahan keluarnya emosi yang meluap-luap.

Jabat tangan, pelukan, sekadar cipika cipiki—cium pipi kanan cium pipi kiri, entah kapan lagi diperbolehkan. Lebaran tahun ini pun tanpa gelombang manusia yang melintasi jalan pulang ke kampung halaman masing-masing alias mudik.

Tak ada lonjakan jumlah kendaraan di jalan raya, di lautan, maupun di udara. Tiket-tiket kereta api yang yang sudah dipesan jauh-jauh hari, bahkan harus dikembalikan. Mereka yang hendak pulang menengok emak dan bapak mereka, diminta putar haluan, kembali ke tempat mereka berangkat.

Sebagian ada yang nekat bersembunyi di antara tumpukan barang, demi mencuri kesempatan untuk pulang. Musim liburan pun berlalu tanpa bepergian, tanpa kesan. Pantai-pantai yang mengundang kaki untuk bermain di kecipak air tanpa sambutan. Gunung-gunung tinggi yang mengundang hasrat hati untuk mendaki tak disambut.

Museum-museum yang menawarkan kehangatan sejarah tak dikunjungi. Segala macam tempat umum, tempat bermain anak, food court yang riuh dengan kuliner, penganan, disertai alunan musik nan menghibur semuanya tak lagi sama.

Secara fisik semuanya memungkinkan, tetapi bahaya laten virus corona tipe baru membuat semuanya sebagai antara ada dan tiada. Euforia juga tak ada di bangku-bangku sekolah atau kampus. Mereka yang lulus tahun ini, mereka yang wisuda tahun ini, akan lebih mengingat masa yang mungkin tak akan berulang sepanjang usia mereka.

Siswa yang lulus tahun ini, baik sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), maupun sekolah menengah atas (SMA), dan yang sederajat, dinyatakan lulus tanpa ujian dari negara. Mereka adalah generasi rebahan yang “memakan” kuota Internet di kamar-kamar mereka, yang saling jahil dan saling menyapa dengan kawan sebaya mereka melalui media sosial.

Para analis sosial sampai khawatir, jika kondisi ini berlama-lama, anak-anak ini akan memahami konteks kehidupan sosial secara benar-benar berbeda. Tanpa sentuhan, tanpa jabat tangan, hanya bersapa di dunia maya. Itu sungguh berbeda. Bagusnya, tahun ini tak ada arak-arakan remaja tanggung yang mengusik jalanan dengan seragam SMA yang dicoret-coret. Mereka mungkin tahu diri. Buat apa merayakan kelulusan, wong mereka lulus tanpa ujian.

Sejarah Besar

Walaupun ada juga sedikit anak muda yang memaksakan diri, tapi tetap saja mereka kehilangan alasan untuk bereuforia. Bagi yang tahu, kenal, atau hobi dengan sepak bola, pasti tahu belum lama ini ada sejarah besar yang tercipta di Inggris sana.

Liverpool yang 30 tahun tidak meraih gelar juara, tahun ini akhirnya juara. Ini bukan prestasi kaleng-kaleng. The Reds, julukan klub itu, tahun lalu sebenarnya membuat prestasi lebih gemilang: juara Liga Champions. Penantian panjang 30 tahun klub yang terakhir juara pada 1990 itu membuat gelar England Premier League ini lebih bersejarah.

Mereka meraih gelar juara dengan raihan angka jauh meningalkan para pesaing. Para pemain The Reds dan Liverpudlian, julukan suporter mereka, tak bisa lagi turun ke jalan, berpesta, berjingkrak-jingkrak, menari-nari sepanjang malam sambil menyanyikan lagu kebanggaan mereka yang termasyhur itu, You Will Never Walk Alone.

Tak ada pesta seperti itu di jalanan, tak ada parade juara di bus terbuka, tak ada euforia. Para pemain di lapangan dan ofisial menyempatkan mengheningkan cipta setiap menjelang pertandingan demi menghormati mereka yang berpulang karena Covid-19.

Belakangan malah ditambah satu ritual lagi, menginjakkan satu lutut di rumput lapangan sebagai bagian penghormatan dan kampanye Black Lives Matter. Pertandingan sepak bola pun tak lagi sama. Adu skill, adu kuat, dribbling brilian, gerak tipu yang cantik, dan gol-gol spektakuler, rasanya hambar.

Tak ada tepuk tangan dan sorakan riuh dari ribuan atau dari puluhan ribu suporter. Sepak bola seperti kehilangan sebagian kemanusiaannya. Tanpa greget, tanpa euforia. Sayang sekali, tahun ini tak ada ibadah haji bagi warga muslim dari luar Arab Saudi. Mereka yang sudah merindu bertahun atau berpuluh tahun untuk datang ke Tanah Suci, tahun ini tak bisa pergi ke sana.

Entah tahun depan jika mereka ada umur. Tak ada euforia spiritual yang menjadi puncak cita-cita mereka sampai ke sumsum tulang. Pada 9 Desember 2020 nanti, akan dilangsungkan pemilihan kepala daerah atau pilkada. Tahapannya sudah dimulai pekan-pekan ini dengan mengaktifkan infrastruktur organisasi penyelenggara pilkada. Sudah pasti tak aka ada kerumunan massa yang berkampannye.

Kemanusiaan

Tak boleh lagi ada arak-arakan massa dengan segala macam tingkah polah mereka. Dan entah apa dan bagaimana yang akan terjadi jika sampai menjelang 9 Desember nanti ternyata jumlah mereka yang positif terinfeksi virus corona tipe baru ini semakin melonjak tajam. Keputusan politis, keputusan orang-orang, bahkan keputusan orang yang paling berkuasa di bumi pun pada akirnya tak akan mampu menghadang serbuan virus yang tak kasat mata ini.

Sampai dengan Minggu (28/6/20), menurut catatan worldometers.info, jumlah orang yang terinfeksi virus corona tipe baru di seluruh dunia sudah menyentuh angka 10 juta jiwa dari 214 negara di dunia. Tepatnya 10.074.567 orang terjangkit, 500.625 orang meninggal, 5.452.087 orang sembuh.

Memang wabah masih jauh dari berakhir, tetapi keputusan sudah diambil. Kita harus hidup “berdamai” dengan kondisi ini. Sebagian besar orang memilih kembali bekerja dan beraktivitas berdampingan dengan virus yang entah dibawa oleh siapa yang berada di antara mereka.

Semuanya dengan protokol kesehatan yang harus ditaati, dengan kenormalan baru atau kewarasan baru. Yang nekat masuk kantor tanpa masker artinya tidak memenuhi norma kewarasan baru itu. Segalanya akan makin berat jika semakin banyak orang tidak peduli dengan tata cara kenormalan baru ini. Orang lantas mengingat kembali ketuhanan dengan caranya masing-masing.

Orang lalu melihat kemanusiaan pada dirinya masing-masing. Ada yang mengambil pelajaran dan tetap memotivasi diri. Ada pula yang makin terpuruk, stres, dan putus harapan. Dunia memang tak sama lagi sejak penyakit ini menyebar ke seluruh penjuru dunia, melalui perantaraan manusia ke manusia.

Tak sedikit simpul kehidupan yang berguguran: sejumlah bisnis runtuh, sejumlah profesi jatuh. Sampai vaksin untuk mengobati virus ini ditemukan, dunia belum akan kembali ke bentuknya yang semula. Kita masih menunggu tanpa euforia…


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho