Puji Kuswati bersama empat anaknya pada 2014 silam. (Facebook-Puji Kuswati)

Solopos.com, SOLO -- Ada yang berbeda dari keluarga Dita Oeprianto sebelum terlibat dalam aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018) lalu. Senyum anak-anak di keluarga itu mendadak sirna berganti tangis dan air mata.

Kepada Channel News Asia, Hery, petugas sekuriti di kompleks perumahan Dita menceritakan momen itu. Subuh hari itu, Firman Halim, anak kedua Dita, masih terlihat menjalankan salat subuh di masjid dekat rumah mereka di Rungkut, Surabaya. Bagi Hery, Firman seperti adiknya sendiri.

Pagi itu, Hery mendengar remaja itu menangis. Dita, ayahnya, menepuk kepala dan bahunya, namun dia tetap menangis. Kebetulan, pagi itu Hery datang ke masjid dan duduk agak dekat dengan mereka. Dia pun tak sengaja mendengar Dita berbisik kepada anaknya untuk bersabar. Namun tangis Firman tak bisa berhenti.

"Saya ingin bertanya kepada ayahnya [Dita] tentang apa yang terjadi, tapi saya menahan diri. Saya tidak ingin dianggap mencampuri urusan orang lain," kata Hery dilansir Channel News Asia.

Hingga Dita, Firman, dan anak pertamanya, Yusuf Fadhil, 18, bangkit dari masjid dan pulang ke rumah, Hery melihat ada yang berbeda. Firman melihat Hery, namun untuk kali pertama pandanganya tanpa senyuman.

Ketika pulang ke rumah, Hery mendengar berita bom bunuh diri di tiga gereja yang melibatkan seluruh anggota keluarga Dita. Hery pun sadar apa yang membuat Firman menangis. "Saya merasa, saya yakin, dia tidak ingin melakukannya [bom bunuh diri]. Ini tidak benar, melibatkan anak-anak. Sata merasa sangat kehilangan," ujarnya.

Aksi penyerangan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuna dilakukan oleh Dita. Sedangkan penyerangan di GKI Wonokromo di Jl Diponegoro diduga merupakan Puji Kuswati, istri Dita, yang mengajak dua anak perempuannya masing-masing FS berusia 9 dan VR 12 tahun. Sementara itu, di Gereja Santa Maria Tak Bercela, penyerangan dilakukan oleh Yusof dan Firman.

Menurut Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, sebelum beraksi di Gereja Pantekosta, Dita yang mengemudikan mobil berisi bom mengantar istri dan dua anak perempuannya di GKI Diponegoro. Baru kemudian dia menuju Gereja Pantekosta dan melakukan aksi penyerangan dalam waktu hampir bersamaan dengan anak dan istrinya di lokasi terpisah. Sementara Yusuf dan Firman berangkat sendiri mengendarai sepeda motor.

Polisi melakukan identifikasi terhadap rumah Dita Oeprianto, terduga teroris pengeboman gereja di kawasan Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). (Antara - M Risyal Hidayat)

Keterlibatan Yusuf dan Firman dalam aksi bom bunuh diri yang dipimpin Dita juga di luar dugaan. Mereka naik motor berboncengan menuju Gereja St Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, pagi itu. Mereka memangku bom saat naik sepeda motor.

Kapolri mengatakan pelaku bom bunuh diri di Surabaya memiliki hubungan dengan jaringan teror internasional ISIS. "Ini enggak lepas dari JAT [Jamaah Ansharut Tauhid]. Jamaah yang merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia yang dipimpin oleh Aman Abdurrahman," jelasnya, Minggu (13/5/2018).

Lebih lanjut Tito mengatakan kelompok pelaku bom di Surabaya terkait dengan sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang juga berkaitan dengan ISIS. "Kemudian kelompok pelaku yang ada terkait dengan sel JAD, dia ketuanya [Dita]," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten