Tanggul Sungai Gamping Klaten Jebol, Kades: Harusnya Dibangun Permanen
Tanggul Sungai Gamping di Cawas, Klaten, kembali jebol diterjang arus air, Sabtu (15/2/2020) sore. (Istimewa/Koramil Cawas Serma Agus Setya Hartono)

Solopos.com, KLATEN – Tanggul Sungai Gamping di wilayah Desa Karangasem, Kecamatan Cawas hampir saban tahun menjadi langganan jebol. Kondisi itu kerap kali merugikan para petani.

Kepala Desa (Kades) Karangasem, Surono, mengatakan peristiwa jebolnya tanggul Sungai Gamping di Karangasem sudah terjadi secara turun temurun. Hal ini lantaran kondisi tanggul berupa tanah.

50 Bidan Diduga Ikut Aborsi Janin Pakai Bahan Kimia di Septic Tank

“Sejak saya kecil itu sudah sering jebol. Kalau di Karangasem, padi belum sampai di rumah artinya belum panen. Bisa saja ketika memasuki masa panen tanaman rusak karena ada tanggul jebol dan itu merugikan petani,” kata Surono saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (15/2/2020).

Surono menjelaskan tanggul perlu dibangun secara permanen agar peristiwa tanggul jebol di Sungai Gamping tak menjadi peristiwa tahunan ketika memasuki musim hujan. Hanya, butuh biaya besar untuk membangun tanggul permanen di sepanjang Sungai Gamping lantaran panjang alur sungai itu sekitar 3,5 km.

Terkuak! Ini Sarang Piton Jumbo di Sungai Garuda Sragen

Surono mengatakan pemerintah desa segera menyusun proposal guna mengajukan usulan pembangunan tanggul permanen di Sungai Gamping. “Kami segera menyusun proposal dan segera diusulkan ke BBWSBS. Dari BPBD juga menyusun proposal untuk diajukan ke BNPB,” tutur dia.

Terkait tanggul Sungai Gamping yang jebol pada Sabtu sore, Surono menjelaskan merupakan tanggul yang belum lama ini ditambal setelah jebol pada 31 Januari 2020 lalu. Saat itu tanggul jebol sepanjang 20 meter dengan ketinggian 4 meter dan lebar 4 meter. Tanggul tersebut sudah ditambal warga bersama sukarelawan, TNI, dan polri menggunakan karung berisi pasir diperkuat beronjong karung pasir serta anyaman bambu.

Teleskop Radio Ilmuwan Tangkap Sinyal Misterius 16 Hari Sekali

“Untuk yang jebol hari ini panjangnya itu sekitar 22 meter. Dampaknya ada sekitar 35 ha hingga 40 ha terendam luapan air sungai. Kemungkinan bisa bertambah lagi karena arus sungai masih deras,” kata Surono.

Usia tanaman padi yang terendam sekitar 56 hari dan mulai berbuah. Surono berharap air segera surut hingga tak membuat tanaman padi mati. “Dari kejadian jebolnya tanggul akhir Januari lalu, padi yang ditanam di 3 ha sawah mati. Sampai sekarang 3 ha lahan itu tidak ditanami,” jelas dia. (Taufiq Sidik Prakoso)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho