Pj. Kades Pule, Agus Haryanto: Para petani mengikuti penyuluhan pertanian di salah satu ruang Kantor Desa Pule, Selogiri, Wonogiri, Rabu (20/3/201)./Istimewa

Solopos.com, WONOGIRI—Tanaman padi seluas 40 hektare (ha) di Pule, Selogiri, Wonogiri terserang penyakit blas atau penyakit akibat jamur. Hal itu karena petani menggunakan jenis benih padi berbeda-beda yang tak kuat terhadap serangan penyakit.

Atas kondisi itu, pemerintah desa (pemdes) setempat menggelar penyuluhan pertanian bagi petani sebagai persiapan menghadapi musim tanam II. Penyuluhan digelar di salah satu ruang di Kantor Desa Pule, Rabu (20/3/2019). Acara yang menghadirkan dua penyuluh pertanian kecamatan, yakni Sugito dan Selfi, ini diikuti 60 petani dari delapan dusun.

Penjabat (Pj) Kepala Desa (Kades) Pule, Agus Haryanto, mengatakan tanaman padi yang terserang penyakit blas terdapat di enam dari delapan dusun di Desa Pule. Enam dusun itu di antaranya Pule (Poktan Semeru), Ngledok (Poktan Handayani), Sayangan (Poktan Ras), dan Jetak (Poktan Tirtosari) masing-masing seluas lebih kurang 5 ha. Sementara di Gemutren (Poktan Margo Utomo) dan Marekan (Poktan Pelita) masing-masing seluas lebih kurang 10 ha.

Menurut Agus, luasan itu cukup besar jika dibandingkan total luas sawah di Pule 281,89 ha. Para petani telah mengobati tanaman padi mereka secara serentak. Kini kondisinya membaik dan diprediksi bisa panen pada April mendatang.

“Kalau tanaman terkena penyakit tentu akan mengurangi hasil produksi. Waktu saya menggelar pertemuan dengan warga, awal Maret lalu, banyak petani yang mengeluhkannya. Atas aspirasi tersebut saya berinisiatif menggelar penyuluhan pertanian buat para petani, agar mereka mendapat pemahaman yang benar mengenai cara mencegah dan mengobati penyakit blas,” kata Agus saat dihubungi Espos.

Dia melanjutkan berdasar pemaparan penyuluh, tanaman padi terkena penyakit blas karena benih yang digunakan berbeda-beda. Ada yang tahan terhadap penyakit dan ada pula yang tidak tahan penyakit. Akan lebih baik jika petani menggunakan benih padi yang seragam, unggul, dan tahan terhadap serangan penyakit, seperti inpari 32 atau inpari 42. Agus menyebut selama ini petani masih menggunakan prinsip pakulinan. Mereka menanam benih padi yang tak unggul karena merasa sudah terbiasa.

Terpisah, Ketua Poktan Ngudi Makmur, Ngricik, Pule, Suwardi, mengapresiasi respons pemdes atas permasalahan yang dihadapi para petani. Dengan mengikuti penyuluhan, petani bisa memperbarui pengetahuan, khususnya cara mencegah dan mengobati penyakit blas. Saat penyuluhan, penyuluh menekankan agar petani menggunakan benih padi yang unggul. Hal itu bisa menjadi pilihan bagi petani.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten