Tanah di Taman Monumen '45 Banjarsari, Solo, kering dan merekah, Senin (14/10/2019). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Rekahan tanah di sebelah timur Taman Monumen '45 Banjarsari (Monjari) Solo selebar 5-10 sentimeter (cm) berangsur-angsur menutup setelah hujan mengguyur beberapa waktu terakhir.

Sebelumnya, tanah merekah di taman itu menyebabkan kursi-kursi taman dari cor turut terbelah.

Pantauan solopos.com di lokasi, Senin (9/12/2019) siang, di dua bagian lahan yang muncul rekahan tanah sejak Agustus lalu kini mulai tumbuhi rumput-rumput liar. Pepohonan yang semula meranggas mulai berwarna hijau.

Meski belum seluruhnya rekahan tanah di Taman Monjari Solo menutup, kondisi tanah jauh lebih baik dibandingkan dua bulan lalu. Sehingga, anak-anak yang bermain di kawasan itu tak perlu khawatir terjatuh akibat tersandung rekahan tanah berkedalaman sekitar 10 cm.

Ahli Lingkungan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Pranoto, saat dihubungi solopos.com menjelaskan semula tanah yang merekah berjenis tanah litosol itu kekurangan kandungan air.

“Saat musim kemarau tanah itu tidak subur serta kurang unsur hara dan hanya cocok ditanami beberapa jenis tumbuhan seperti jagung dan rerumputan. Tanah semacam itu identik dengan tanah wilayah Mojosongo dan Kentingan, Jebres. Apabila merekah di permukiman penduduk sangat berbahaya bagi konstruksi bangunan,” ujarnya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan DLH Kota Solo, Luluk Nurhayati, mengatakan rekahan tanah merupakan fenomena musiman di Taman Monjari saat kemarau panjang. Menurutnya, tanah akan terus menutup seiring turunnya hujan.

“Semoga segera turun hujan lagi, tanah di Taman Monjari dapat segera menutup,” ujarnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten