Tutup Iklan
Tanah di Taman Monumen '45 Banjarsari, Solo, kering dan merekah, Senin (14/10/2019). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Tanah di Taman Monumen '45 Banjarsari Solo mengering selama musim kemarau. Di lahan yang dikenal sebagai Taman Monjari itu terdapat rekahan dengan lebar lima hingga sepuluh sentimeter (cm).

Pengamatan solopos.com, Senin (14/10/2019) siang, rumput di sekitar rekahan itu seolah tak mau tumbuh. Rekahan itu justru tak terlihat di sekitar pepohonan yang tumbuh sumbur. Tanah juga terlihat tak merata, bergelombang mengikuti rekahan itu menjalar.

Ratusan pengunjung taman tetap beraktivitas seperti biasa demikian pula pekerja tetap menyapu untuk membersihkan taman yang terletak di Kelurahan Kestalan itu. Rekahan tanah itu selalu muncul setiap musim kemarau panjang seperti saat ini.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo, Luluk Nurhayati, Senin siang meninjau langsung lokasi rekahan bersama Pengelola Taman Monjari, Sugeng Widodo.

Bagian demi bagian rekahan mereka amati, segumpal tanah mereka amati dengan seksama sebab tanah itu berbeda dengan bagian tanah lain di Taman Monjari.

Luluk Nurhayati saat ditemui solopos.com di lokasi mengatakan tanah itu merupakan tanah asli kawasan Monjari yang berstruktur tanah liat. Tanah di bagian rekahan itu becek ketika masuk musim penghujan. Sedangkan saat kemarau panjang tanah itu merekah.

“Seharusnya tanah ini dicampur dengan pupuk organik dan kompos. Bisa juga menambah dengan resapan biopori untuk membuat tanah lebih gembur dan subur. Meskipun ini baru sebatas rencana, kalau bisa direalisasikan kenapa tidak. Kalau tanah di sekitar pohon justru tidak merekah karena akar mengikat air,” ujarnya.

Ia menambahkan wacana untuk menanam pohon baru di kawasan itu untuk mengurangi rekahan menjadi bahan kajian bersama pengelola taman. Menurutnya, tanah rekahan menjadi lokasi warga untuk beraktivitas.

Ia menyambut gembira ketika Monjari diperbolehkan untuk ditanami pohon lebih banyak.

Sementara itu, di lahan lain Taman Monjari kondisi tanahnya justru baik-baik saja. Menurutnya, selain di dua lokasi rekahan tanah di Monjari merupakan tanah uruk. Menurutnya, kondisi asli tanah di Taman Monjari lebih didominasi tanah liat atau tanah hitam.

Luluk menjelaskan setiap hari tanaman di Taman Monjari selalu disiram. Namun, kondisinya tidak memungkinkan apabila air digunakan untuk menyiram tanah hitam itu.

Pengelola Taman Monjari Solo, Sugeng Widodo, mengatakan rekahan itu muncul setiap musim kemarau dikarenakan kondisi tanah hitam pekat. Kondisi itu berbalik ketika musim penghujan, rumput tumbuh subur namun sangat becek.

Menurutnya, rekahan itu muncul Agustus lalu, sebagai pengelola ia menunggu instruksi pimpinan untuk menyelesaikan persoalan itu.

Ahli Lingkungan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Sebelas Maret Solo (UNS), Pranoto, mengatakan jenis tanah itu menyerupai jenis tanah di kawasan Mojosongo dan Kentingan Jebres Kota Solo.

Musim kemarau menyebabkan rekahan itu muncul, sehingga kondisi itu bisa membuat bangunan rumah tanpa teknologi cakar ayam dapat tidak stabil apabila rekahan itu berada di permukiman penduduk.

“Jenis tanah itu litosol, tidak subur dan kandungan humusnya sedikit. Kandungan tanah itu sedikit unsur haranya hanya cocok untuk rerumputan, jagung, dan bunga edelweis. Namun, apabila tanah seperti itu tidak ditanami tumbuhan juga berbahaya, tentunya dengan penambahan humus atau tanah yang mengandung unsur hara tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun tanah merekah namun pohon di kawasan itu subur dikarenakan ada kandungan humus namun pertumbuhan pohon-pohon itu juga kurang maksimal.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten