Taliban Larang Pria Afghanistan Cukur Jenggot hingga Selfie

Taliban kembali mengeluarkan aturan baru yang wajib dipatuhi warga negara Afghanistan. Aturan itu melarang para pria di Afghanistan bercukur jenggot.

 Ilustrasi foto selfie lelaki bercincin akik (indiaopinies.com)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi foto selfie lelaki bercincin akik (indiaopinies.com)

Solopos.com, KABUL — Taliban kembali mengeluarkan aturan baru yang wajib dipatuhi warga negara Afghanistan. Aturan itu melarang para pria di Afghanistan bercukur jenggot.

Tak hanya cukur jenggot, mereka juga dilarang memainkan musik di tempat mereka. Semua aturan itu diklaim atas dasar hukum syariat Islam.

Seperti dilansir detik dari CNN, Senin (27/9/2021), larangan itu disampaikan dalam pernyataan yang dirilis Departemen Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan yang dipimpin Taliban, yang kini berkuasa di Afghanistan. Para tukang cukur di Provinsi Helmand pun terdampak akibat larangan tersebut.

Baca Juga: Penemu Vaksin Sebut Virus Corona akan Berakhir Seperti Flu Biasa

Aturan baru ini menandai serentetan pembatasan yang diberlakukan terhadap warga Afghanistan yang didasarkan pada interpretasi Taliban terhadap hukum syariat Islam.

“Anda segera diberitahu bahwa mulai hari ini, mencukur jenggot dan memainkan musik di tempat pangkas rambut dan tempat pemandian umum dilarang keras,” demikian bunyi pernyataan otoritas setempat pada Minggu (26/9/2021) waktu setempat.

“Jika ada tempat pangkas rambut atau pemandian umum yang kedapatan mencukur jenggot siapa pun atau memainkan musik, mereka akan ditindak sesuai prinsip-prinsip syariah dan mereka tidak akan memiliki hak untuk mengeluh,” imbuh pernyataan tersebut.

Baca Juga: Hancur Akibat Pertempuran, Rekonstruksi Rumah di Gaza Dimulai Oktober

Taliban juga melarang para anggotanya untuk swafoto atau selfie, mengunggahnya di media sosial dan jalan-jalan di tempat wisata. Mereka menilai hal tersebut tak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan merusak citra Taliban.

Instruksi itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan interim Afghanistan era Taliban, Mohammad Yaqoob.

Yaqoob mengkritik beberapa anggotanya yang pergi ke kantor pemerintah, padahal tak punya urusan mendesak, tapi hanya mengambil foto selfie.

“Ini sangat tidak pantas karena semua orang mengambil ponsel dan mengambil foto di Kementerian penting dan sensitif tanpa alasan apa pun,” kata Yaqoob dikutip Reuters.

Baca Juga:  PBB Serukan Penghapusan Senjata Nuklir, Turki Malah Pengin Beli Rudal

Aturan Potong Tangan

Kelompok Taliban sebelumnya menyatakan bakal menerapkan aturan yang lebih lunak kepada warganya dibandingkan kepemimpinan mereka pada dua dekade yang lalu di Afghanistan.

Namun pernyataan itu tidak sejalan dengan fakta yang ada di lapangan. Ada banyak laporan soal perlakuan kasar dan kejam oleh Taliban sejak kelompok ini berkuasa pada pertengahan Agustus lalu, mulai dari penahanan dan penyerangan terhadap wartawan, kemudian penggunaan cambuk terhadap wanita yang ikut unjuk rasa, hingga hukuman gantung di depan umum bagi pelaku kejahatan.

Tak hanya itu, perempuan di Afghanistan juga terdampak sejumlah aturan baru yang diterapkan Taliban. Taliban tidak mengizinkan perempuan untuk melanjutkan pendidikan padahal sebelumnya mereka berjanji akan memperbolehkan perempuan bersekolah. Sejauh ini, hanya laki-laki Afghanistan yang diserukan untuk kembali bersekolah oleh Taliban.

Aturan larangan pendidikan ini sebetulnya pernah diberlakukan juga saat Taliban berkuasa antara tahun 1996 hingga 2001 silam. Saat itu, Taliban melarang perempuan untuk menempuh pendidikan dan bekerja, dan sangat membatasi hak-hak mereka.

Baca Juga: Sejarah Hari Ini : 28 September 1928, Obat Ajaib Penisilin Ditemukan

Sekarang, perempuan Afghanistan juga mendapatkan perlakuan serupa. Para perempuan bahkan tidak disertakan dalam pemerintahan baru Taliban, dan bahkan dalam beberapa kasus diperintahkan meninggalkan tempat kerja mereka.

Beberapa hari yang lalu, Taliban juga mengeluarkan pernyataan terkait penerapan hukuman kontroversial di Afghanistan yang sempat disampaikan oleh Mullah Nooruddin Turabi, yang merupakan salah satu pendiri Taliban dan pernah menjabat kepala penegakan hukum Islam saat Taliban berkuasa di Afghanistan dua dekade lalu.

Pria yang kini berusia 60 tahun itu memperingatkan dunia untuk tidak mencampuri Taliban yang menjadi penguasa baru Afghanistan. “Tidak ada yang memberitahu kami seperti apa hukum kami seharusnya. Kami akan mengikuti Islam dan membuat hukum kami berdasarkan Quran,” tegasnya.

Baca Juga: Bandara Dibuka, Afghanistan Siap Bekerja Sama dengan Semua Maskapai

Turabi mengungkapkan alasan penerapan kembali hukuman berat sesuai interpretasi Taliban terhadap hukum Islam itu. “Memotong tangan sangat diperlukan untuk keamanan,” cetus Turabi.

Turabi menegaskan bahwa para hakim, termasuk hakim wanita, akan mengadili kasus-kasusnya. Pondasi hukum Afghanistan, sebut Turabi, tetap Quran. Dia menegaskan hukuman yang sama akan diterapkan kembali.

Kendati demikian, Turabi menyatakan bahwa kabinet pemerintahan Taliban masih mempelajari apakah hukuman semacam itu akan dilakukan di depan umum seperti di masa lalu. Turabi juga menyatakan pemerintahan Taliban akan ‘mengembangkan sebuah kebijakan’ terkait itu.


Berita Terkait

Berita Terkini

Lukisan Picasso Terjual Hampir Rp1,5 Triliun dalam Lelang di Las Vegas

Sebanyak 11 karya seni Pablo Picasso yang telah dipajang di sebuah hotel Las Vegas selama lebih dari dua dekade telah terjual Rp1,5 triliun.

Erdogan akan Usir 10 Dubes Negara-Negara Barat, Termasuk AS

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengungkapkan bahwa ia telah memerintahkan Kementerian Luar Negeri untuk menyatakan 10 duta besar negara-negara Barat.

China akan Hapus PR dan Bimbel Berlebihan yang Membebani Siswa

China telah mengeluarkan undang-undang pendidikan baru yang bertujuan mengurangi tekanan pekerjaan rumah yang berlebihan dan bimbingan belajar intensif setelah sekolah.

Protes Rumah Direkam Google, Khairul: Kompleks Saya Jalan Buntu

Khairul mengatakan surat itu berupa dukungan Google untuk melaksanakan GSV dalam rangka Asian Games 2018.

Satpol PP di Aceh Bantah Siksa Anjing hingga Mati

Anjing tersebut kemudian berusaha memberikan perlawanan ketika akan ditangkap petugas.

Tragedi Rumah Runtuh Kalideres, Korban: Jaga Diri, Adik Lu Gue Bawa

Andriawan tak menyangka bila ucapan ibunya itu merupakan yang terakhir untuknya.

Akun FB Tersangka Korupsi Unggah Keluhan, KPK Razia Sel Tahanan

Andi Putra membuat surat pernyataan. Isinya, yakni dirinya memastikan tidak menulis pesan status di akun tersebut.

Sejarah Hari Ini : 25 Oktober 2010, Gempa dan Tsunami Terjang Mentawai

Beragam peristiwa penting terjadi pada 25 Oktober selengkapnya terangkum dalam Sejarah Hari Ini.

Ustaz Yusuf Mansur Doakan Golkar Menang Pemilu, Ini Alasannya

Ustaz Yusuf Mansur memang memiliki hubungan baik dengan Partai Golkar sebab dahulu kakeknya merupakan kader Golkar.

Menteri BUMN: Garuda Harus Fokus Penerbangan Domestik!

Berdasarkan data Garuda Indonesia, diketahui penumpang tujuan domestik mendominasi sebanyak 78 persen dengan pendapatan mencapai Rp1.400 triliun.

Pakai Pelat Nomor Khusus, Rachel Vennya Telat Bayar Pajak

Polisi mengungkap data Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) bahwa mobil Rachel Vennya sudah telat membayar pajak selama dua bulan.

"Kemenag Hadiah untuk NU" Tuai Kontroversi, PBNU: Menag Tak Bijaksana

Menag Yaqut mengatakan Kemenag merupakan hadiah negara untuk NU bukan untuk umat islam sehingga dapat memanfaatkan dalam jabatan di instansi.

Elektabilitas Ditanggapi Sinis DPP PDIP, Ganjar Pranowo: Survei Apa?

Ganjar justru memberikan apresiasi kepada koleganya di PDIP yang juga kerap muncul di sejumlah survei, Tri Rismaharini. 

Pengamat Sebut Prabowo Capres Pilihan Milenial

Posisi Menteri Pertahanan di kabinet Jokowi juga ikut mengenalkan Prabowo kepada generasi muda.

Soal "Kemenag Hadiah untuk NU", Muhammadiyah Takkan Komplain

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti menyebut seharusnya Menteri Agama berlaku adil kepada seluruh ormas.

Pindah Agama Sukmawati Peristiwa Personal, Jangan Direspons Berlebihan

Sukmawati memutuskan pindah Hindu karena ingin kembali ke agama leluhurnya.