Takut Di-Blacklist, Sekolah di Jogja Bikin Perjanjian dengan Siswa Pendaftar SNMPTN
Logo SNMPTN (Dok/JIBI/Solopos)

Panitia SNMPTN bikin aturan ketat.

Solopos.com, JOGJA--Sejumlah sekolah membuat komitmen dengan para siswanya yang mendaftar melalui jalur Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) agar bersedia menerima jika lolos seleksi di pilihan pertama. Komitmen itu dibuat agar sekolah tidak terkena sanksi berupa blacklist (masuk daftar hitam) jika ada siswa yang sudah diterima namun justru tidak diambil kesempatannya.

Kepala SMKN 3 Kota Jogja Bujang Sabri memaklumi panitia membuat aturan yang ketat dalam melakukan verifikasi SNMPTN. Ia tidak menolak dengan konsekuensi sanksi dari panitia jika ada yang tidak sesuai ketentuan. Salah satu faktor yang menjadi antisipasinya adalah komitmen siswa untuk tetap menerima dan mendaftar ulang jika lolos seleksi. Oleh karena itu, pihaknya membuat komitmen dengan siswa untuk konsisten dengan pilihannya saat menentukan mendaftar SNMPTN.

"Kami membuat komitmen dengan siswa, kalau sudah membuat pilihan jurusan, apalagi pilihan pertama wajib hukumnya untuk diambil. Karena perguruan tinggi menekankam kalau tidak diambil, tahun berikutnya sekolah itu akan mendapat sanksi, blacklist," terangnya kepada Harianjogja.com, Rabu (17/1/2018).

Ia sudah menyampaikan kepada siswa agar memilih jurusan yang paling sesuai dengan minatnya. Dengan dibuat komitmen itu, selama ini setiap pendaftar dari SMKN 3 Jogja tidak ada yang mengundurkan diri. Komitmen itu sekaligus sebagai bentuk latihan bagi siswa, karena sekolah tidak hanya melakukan transfer ilmu tetapi juga mengedepankan karakter.

"Baiknya memang diterima, kan warga Jogja tempat kuliahnya di Jogja. Kalau sudah diterima mengundurkan diri itu menutup kesempatan orang lain," tegasnya.

Meski kesempatan persentase hanya 50%, namun pihaknya akan mendaftarkan seluruh siswa kelas XII yang berjumlah 500 anak dan proses upload untuk pendaftaran secara daring sudah mulai dilakukan. Pihaknya membentuk tim khusus melakukan pendampingan dalam proses SNMPTN dan SBMPTN. Ia berharap, jika terjadi perubahan Panlok sebaiknya segera menginformasikan. Selain itu, setiap PTN harus mengantisipasi dengan cepat jika laman pendaftaran tidak bisa diakses.

Terpisah Kepala SMAN 1 Pakem Kristya Mintarja menyatakan hal yang sama, pihaknya menekankan komitmen siswa agar menerima yang menjadi pilihannya. Akan tetapi, komitmen itu tidak bisa sepenuhnya dilakukan. "Karena begini, ada yang mendaftar dua, satu SNMPTN dan satu sekolah kedinasan dan diterima kedua-duanya kan anak jelas memilih kedinasan. Akhirnya memang sekolah yang jadi korban, karena di periode berikutnya terjadi pengurangan kuota," ungkapnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom