Tutup Iklan
Umat Katolik menyumbangkan kolak hasil olahan mereka sebagai menu takjil di salah satu masjid wilayah Desa Ngering dan Desa Jabung, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Minggu (19/5/2019). (Istimewa/warga Lingkungan Santo Yusup Ngering)

Solopos.com, KLATEN – Suara anak memanggil teman-temannya berangkat mengaji melalui pengeras suara https://soloraya.solopos.com/read/20190107/493/963333/masjid-al-aqsha-klaten-dilengkapi-fasilitas-gratis-terapi-ikan" title="Masjid Al Aqsha Klaten Dilengkapi Fasilitas Gratis Terapi Ikan">masjid menjadi penanda bagi sekelompok ibu dari umat Katolik yang berkumpul di pendapa rumah di tengah perkampungan Dukuh/Desa Ngering, Kecamatan Jogonalan, Minggu (19/5/2019) sore. Para ibu itu bergegas menyiapkan hasil makanan atau minuman yang sudah diolah dengan memasukkan ke kardus.

Sore itu mereka menyiapkan takjil berupa kolak dan puding. Takjil hasil olahan ibu-ibu tersebut dimasukkan ke dalam 100 gelas plastik. Setelah dimasukkan rapi ke dua kardus, perwakilan umat katolik tersebut menyumbangkannya ke ke Musala Al Darojat, Dukuh/Desa Ngering, Kecamatan Jogonalan dan Masjid Miftakhul Jannah, Dukuh Ngering, Desa Bakung, Kecamatan Jogonalan.

Sudah menjadi kebiasaan bagi ibu-ibu dari Lingkungan Santo Yusup Ngering Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi memasak dan menyumbangkan hasil masakan mereka melengkapi takjil di dua masjid tersebut. Aktivitas memasak untuk takjil dilakukan saban Minggu di Bulan Ramadan dan sudah berlangsung empat tahun terakhir.

Kegiatan memasak dimulai saban Minggu pukul 13.00 WIB dan ditargetkan bisa kelar saat terdengar suara ajakan mengaji melalui pengeras suara masjid yang menjadi penanda memasuki waktu Asar. Hidangan yang dibuat beragam selama Ramadan.

Seperti Ramadan tahun ini. Mereka sudah menyiapkan hidangan berbeda yang bakal dibuat saban Minggu. Pada pekan pertama Ramadan, hidangan berupa es buah. Pekan kedua berupa kolak, pekan ketiga berupa nasi goreng telur, dan pekan keempat berupa sup matahari. “Pemilihan menu itu berdasarkan hasil pertemuan dengan ibu-ibu Lingkungan Santo Yusup Ngering. Setelah itu dibuat kesepakatan menu yang mana dulu dibuat,” kata salah satu ibu yang ikut menyiapkan hidangan https://soloraya.solopos.com/read/20180519/493/917217/berburu-takjil-di-kampung-ramadan-masjid-mlinjon-klaten" title="Berburu Takjil di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten">takjil, Ana Rini Susilowati, 39, saat ditemui Solopos.com seusai membagikan takjil, Minggu sore.

Ibu lainnya, Yosefin Elis Indarwati, 43, mengatakan ada 10-15 ibu dari Lingkungan Santo Yusup Ngering yang terlibat menyiapkan menu takjil. Seluruh pembiayaan berasal dari uang umat lingkungan dan sudah menjadi program tahunan. “Terkadang ada yang istilahnya umat menjadi ingin menambahi menu lainnya dari biaya,” ungkap dia.

Yosefin menjelaskan aktivitas membuat takjil untuk umat Islam dilakukan untuk merawat kerukunan antarumat beragama di Dukuh Ngering. Selama ini, kerukunan antarumat beragama sudah terjalin di dukuh setempat.

Warga berbeda agama saling berbagai kebahagiaan dan berbalas ucapan selamat ketika merayakan hari besar keagamaan. Begitu pula dengan aktivitas dari umat agama lainnya di dukuh setempat yang ikut mengamankan jalannya ibadah keagamaan bagi umat lainnya. “Ikatan kerukunan terus kami jalin apalagi kami tinggal di satu wilayah. Saat Lebaran itu nanti ada wakil dari masjid yang datang ke perkumpulan kami dan mengucapkan terima kasih,” urai dia.

Romo Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Romo Emmanuel Maria Supranowo, mengatakan kegiatan umat gereja menyiapkan takjil untuk dua masjid itu menjadi contoh nyata menjaga kerukunan antarumat beragama. Aktivitas tersebut bakal terus berlanjut dan ditularkan ke wilayah lain.

Sementara itu, salah satu pengurus takjil di Musala Al Darojat, Ngatini, 42, mengatakan saban Minggu mendapat sumbangan takjil dari umat Katolik di Dukuh Ngering. “Secara sukarela menu takjil dibuat dan disumbangkan,” kata Ngatini.

Hal senada disampaikan, Sekretaris Takmis Masjid Miftakhul Jannah, Gaib Pitanto, 43. Sumbangan takjil dari umat https://soloraya.solopos.com/read/20190519/493/993201/begini-khidmatnya-umat-buddha-sambut-detik-detik-waisak-di-candi-sewu-klaten" title="Begini Khidmatnya Umat Buddha Sambut Detik-Detik Waisak Di Candi Sewu Klaten">agama lain tersebut menjadi penanda jika kerukunan di Ngering tetap terawat. “Perkara di sana sini ada ada yang bermasalah antarumat beragama, di daerah kami kerukunan tetap dijaga,” kata dia.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten