Tak Yakin Peroleh Air, Ini yang Dilakukan Petani di Selogiri Wonogiri
Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/Dok)

Solopos.com, WONOGIRI -- Sebagian petani penggarap sawah pengguna air dari saluran irigasi Colo Barat di Selogiri, Wonogiri, tak yakin akan mendapatkan air yang mencukupi untuk mengairi lahan pertanian.

Lantaran itu, mereka memutuskan hanya memelihara tunas yang tumbuh dari tunggul tanaman padi secara vegetatif setelah panen atau metode singgang. Apalagi, Dam Colo Barat akan dikeringkan.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air atau GP3A Colo Barat, Wonogiri, Rusdiyanto, kepada Solopos.com, Kamis (10/9/2020), menyampaikan sebenarnya penerapan penanaman tradisional singgang bukan pilihan utama petani.

Klaster Keluarga Nusukan Solo Berawal dari Sales Paket Data Positif Covid-19

Namun, mereka terpaksa melakukannya lantaran ragu bakal mendapatkan cukup air. Menurut dia, saat ini sudah kemarau dan Colo Barat bakal ditutup sebagaimana pola tahunan selama ini.

Petani di Wonogiri khawatir tidak mendapatkan pasokan air memadai jika menanam bibit baru. Menurut penghitungan, air yang saat ini ada hanya cukup untuk 50 hari-60 hari ke depan.

Padahal, tanaman padi membutuhkan pasokan air dalam waktu lebih lama agar padi bisa panen maksimal. “Karena enggak mau mengambil risiko petani menerapkan penanaman singgang. Luasan sawah yang penanaman padinya menerapkan metode singgang lebih kurang 70 hektare [ha],” kata Rusdiyanto warga Jaten, Selogiri itu saat dihubungi.

Covid-19 di Karanganyar Tambah 8 Kasus, Paling Banyak dari Kecamatan Ini

Biasanya Ditutup Awal Oktober

Seperti diketahui, pintu Colo Barat ditutup setiap awal Oktober untuk pemeliharaan jaringan. Sawah yang mendapat pengairan dari Colo Barat terdapat di empat desa di Selogiri, meliputi Sendang Ijo, Nambangan, Jaten, dan Pule. Luasannya lebih kurang 490 ha.

Rusdiyanto menjelaskan padi yang ditanam dengan metode singgang tetap bisa panen dengan persentase 60 persen-80 persen dari pola tanam biasa atau tanam bibit baru.

Namun, hasil itu dapat diperoleh jika tanaman dipeliharan dengan baik seperti layaknya tanaman padi pada umumnya. “Kalau hanya asal-asalan hasilnya juga asal-asalan, minim. Petani kami belum punya pengetahuan yang memadai tentang singgang,” imbuh Rusdiyanto.

Tegas! Sragen Siapkan Perda Larangan Pasang Jebakan Tikus Listrik

Banyak pula petani di Selogiri, Wonogiri, yang tetap menanam padi dengan tanam bibit baru. Luasan sawah yang ditanami dengan metode konvensional lebih kurang 180 ha.

Mereka berani melakukannya karena meyakini masih bisa mendapatkan pasokan air. Selain itu, mereka tak hanya mengandalkan hujan dan air dari Colo Barat.

Mereka mendapatkan air dari sumur dalam atau sumur pantek. Para petani di Wonogiri bisa sedikit bernapas lega karena berdasar pemberitahuan resmi dari pihak terkait, Colo Barat dan Timur akan dikeringkan 11 Oktober pukul 06.00 WIB sampai 9 November pukul 06.00 WIB.

Penutupan itu mundur 10 hari dari pola selama ini, yakni 1 Oktober. Hal itu berarti sawah akan mendapat pengairan lebih lama.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom