Tak Seramai Pasar, Pengelola Wisata di Wonogiri Minta Boleh Buka
Pekerja membersihkan kotoran di kolam renang Wisata Soko Langit, Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, belum lama ini. (istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI — Pengelola tempat wisata dan pedagang kawasan alun-alun di Wonogiri meminta dibolehkan menjalankan usaha seperti sedia kala, jika pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro ke depan diperpanjang.

Potensi penularan Covid-19 di tempat wisata dinilai tidak lebih besar dari pada tempat publik lain, seperti pasar. Meski tanpa dibatasi pun, pengunjung pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang tetap minim. Sementara itu, pedagang kawasan Alun-Alun Giri Krida Bakti Wonogiri menyatakan siap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat apabila boleh berjualan di alun-alun lagi.

Pengelola Wisata Soko Langit Desa Conton, Kecamatan Bulukerto, Warsito, mengaku akan mematuhi kebijakan Pemerintah Kabupaten. Namun, dia sangat berharap Pemerintah Kabupaten segera membolehkan pengelola membuka tempat wisata. Menurut dia potensi penularan Covid-19 di tempat wisata tidak lebih besar dari pada pasar.

Baca Juga: Walah, Harga Cabai Rawit Merah di Klaten Ternyata Setara Daging Sapi

Pasar setiap hari ramai pengunjung yang berasal dari berbagai wilayah dan daerah. Interaksi antarindividu jamak terjadi lantaran terjadi transaksi jual-beli. Selama Covid-19 mewabah setahun ini pun pasar tetap aman.

Apabila tempat wisata dibuka, pengunjung diyakini tidak akan seramai di pasar. Becermin pada tingkat kunjungan Wisata Soko Langit ketika beroperasi beberapa hari, akhir November 2020 lalu, pengunjung pada hari biasa hanya belasan orang/hari dan lebih kurang 100 orang pada akhir pekan.

Sementara, Wisata Soko Langit bisa menampung lebih dari 1.000 orang. Artinya, jika tidak dibatasi pun jumlah pengunjung tetap minim sehingga protokol jaga jarak bisa dijalankan.

“Terlebih, tempat wisata alam seperti di tempat kami di ruang terbuka. Sinar matahari bisa menjangkau di semua wahana. Sedangkan pasar di suatu ruangan. Itu pun aman-aman saja,” ucap Warsito saat dihubungi Solopos.com, Kamis (4/3/2021).

Prokes Ketat

Dia memastikan akan menjalan protokol kesehatan dengan ketat jika tempat wisata boleh dibuka lagi. Sarana cuci tangan, pengukur suhu tubuh, dan perlengkapan lain sudah disiapkan. Selama tutup pun Warsito menugaskan pekerja menjaga pintu masuk agar tak ada orang yang berkunjung.

Namun, dia tetap mempersilakan pengunjung dari jauh masuk karena pertimbangan kemanusiaan. Belum lama ini ada dua orang dari Surabaya datang ke Soko Langit bersepeda motor. Petugas mempersilakan masuk tanpa membayar karena kasihan mengingat keduanya datang dari jauh.

Warsito menyampaikan harapan itu karena dari waktu ke waktu kondisi ekonominya dan pelaku usaha pariwisata lainnya semakin terpuruk selama tempat wisata belum boleh dibuka. Setahun terakhir ini dia sudah utang bank senilai lebih kurang Rp200 juta untuk membiayai pemeliharaan wahana.

Terpisah, Ketua Paguyuban Pedagang Alun-Alun Wonogiri, Supriono, mengharapkan hal sama. Masa berlaku PPKM mikro berakhir 8 Maret mendatang. Dia berharap Pemerintah Kabupaten membolehkan pedagang berjualan di sekitar alun-alun lagi, meski ke depan program pencegahan penularan Covid-19 tersebut diperpanjang.

Para pedagang kini menghadapi kondisi sulit. Penghasilan dari berjualan di tempat lain minim, sehingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari tak bisa optimal. “Pedagang sekitar alun-alun ada lebih dari 100 orang. Kami siap menjalankan protokol kesehatan jika nanti kami boleh berjualan lagi,” ulas Supriono.

Baca Juga: Kecelakaan Motor Vs Mobil di Jogonalan Klaten, 1 Orang Luka

Selama tidak berjualan di alun-alun para pedagang berjualan di lokasi lain, seperti kawasan Patung Bedol Deso, Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, persimpangan dekat Kantor Perum Jasa Tirta Wonogiri, dan sebagainya. Penghasilan mereka kurang dari 50 persen dibanding penghasilan berjualan di kawasan alun-alun setiap malam.

Pantauan Solopos.com di kawasan alun-alun, beberapa malam terakhir, ada sejumlah orang yang berada di sekitar alun-alun, termasuk pendapa. Itu tak seperti akhir 2020 hingga Januari 2021 lalu. Saat itu petugas rutin berpatroli dan berjaga di lokasi. Saat ada orang nongkrong petugas langsung memintanya pergi. Alhasil, tidak ada orang yang berada di alun-alun.



Berita Terkini Lainnya








Kolom