Tak Sanggup Biayai Saksi Rp30 Miliar, Tifatul Ogah Ikut Pilkada Sumut

Tak Sanggup Biayai Saksi Rp30 Miliar, Tifatul Ogah Ikut Pilkada Sumut

SOLOPOS.COM - Tifatul Sembiring saat masih menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika (Wahyu Darmawan/JIBI/Bisnis)

Absen di Pilkada Sumut, Tifatul Sembiring blak-blakan tentang biaya mahal. Untuk saksi saja, calon bisa habiskan Rp30 miliar.

Solopos.com, JAKARTA -- Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring sebenarnya masuk radar partainya sebagai sosok potensial bakal calon Gubernur Sumatra Utara. Namun, nyatanya partainya mengusung nama lain.

Walaupun lahir di Sumatra Barat, marga Sembiring di belakang namanya mengindikasikan Tifatul berdarah suku Batak Karo asal Sumut. Dia pun menggenggam kursi DPR periode 2014-2019 dari Daerah Pemilihan Sumut I.

Sebagai kader senior, Tifatul menjadi harapan PKS mencetak hattrick di Sumut setelah partai itu menang saat Pilkada Sumut 2008 dan 2013. Kasus yang menimpa kadernya, Gatot Pujo Nugroho, tidak menyurutkan keinginan Partai Dakwah menguasai provinsi tergemuk di Sumatra itu.

Sayangnya, tidak ada nama Tifatul ketika PKS mengumumkan nama jagoannya pada 27 Desember 2017. Partai itu bersama-sama dengan Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional memilih pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah. Keduanya bukan kader PKS.

Usut punya usut, terpentalnya nama Tifatul rupanya karena keinginan dia sendiri. Mantan Presiden PKS ini ciut nyali tatkala mengetahui kebutuhan dana mengarungi Pilgub Sumut 2018.

“Terus terang, saya mundur untuk Sumut karena tak sanggup lihat hitung-hitungannya,” kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPR dengan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, Selasa (13/2/2018).

Tifatul memahami betul ongkos kontestasi pilkada. Lima tahun menjadi Presiden PKS membuat dia dekat dengan soal-soal pencalonan kepala daerah. Contoh paling sahih adalah di Jawa Timur.

Di provinsi itu, terdapat sekurang-kurangnya 75.000 tempat pemungutan suara (TPS). Guna mengamankan suara, setiap kontestan paling tidak membutuhkan 2 orang saksi untuk menjaga lokasi selama 2 hari.

“Kalikan saja 75.000 TPS dengan 2 orang saksi selama 2 hari. Kalau per saksi Rp100.000 per hari maka totalnya bisa Rp30 miliar,” ujar Tifatul.

Di Jatim ada 38 kabupaten dan kota dengan jumlah pemilih 31 juta orang. Sebagai pembanding, Sumut memiliki 33 kabupaten dan kota dengan pemilih 10 juta jiwa dan sekitar 27.000 TPS. Artinya, kontestan butuh Rp10 miliar untuk membayar saksi di Sumut.

Itu baru biaya untuk membayar para saksi saat pencoblosan. Duit lebih besar tersedot untuk sosialisasi, kampanye, lembaga survei, dan pengeluaran lainnya.

Setelah mengkalkulasi, Tifatul pun mengurungkan niat mengejar posisi Sumut-1 atau Sumut-2. Apalagi, pengeluaran jumbo itu tidak mungkin impas selama 5 tahun masa jabatan. “Maju pilkada itu tak bisa bual kosong belaka. Di samping popularitas dan elektabilitas, ada isi tas juga,” katanya.

Berita Terkait

Berita Terkini

H+1 Lebaran Jalanan Wonogiri Kok Ramai, Ternyata Ini Alasannya

Arus lalu lintas di Wonogiri pada H+1 Lebaran atau hari kedua Lebaran, Jumat (14/5/2021) terpantau ramai lancar. Banyak warga yang berwisata maupun bersilaturahmi.

Israel Tewaskan 7 Warga Palestina di Tepi Barat

Tujuh orang warga Palestina meninggal dunia pada Jumat (14/5/2021) akibat aksi kekerasan pasukan Israel yang membubarkan aksi unjuk rasa mereka.

Pengrajin Jamu Gendong Asal Sukoharjo Tak Pulang Kampung, Sebelum Ramadan Sudah Kulakan Dulu

Sebagian pengrajin jamu asal Nguter Sukoharjo memilih tidak pulang ke kampung halaman saat Lebaran 2021. Mereka kulakan bahan baku jamu dalam jumlah besar untuk menambah stok jamu sebelum bulan puasa.

Ini Alasan Mantan Tetap Ingin Berteman, Terima atau Tidak?

Ada sejumlah penyebab melandasi niatan sang mantan ingin tetap berteman.

Benarkah Makan Bawang Merah Berlebihan Bikin Bau Vagina Tak Sedap?

Makan bawang merah bisa memicu bau tak sedap pada vagina.

Partai Golkar Kecam Keras Serangan Israel ke Palestina

Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto menyatakan pihaknya mengecam keras serangan tentara Israel terhadap rakyat Palestina.

Penonton Liga Inggris Bisa Sepenuhnya Datangi Stadion di Musim Ini

Pengelola Premier League Inggris berencana membuka akses bagi para penonton untuk menonton di stadion pada musim 2021- 22 ini.

Duh! Sampah Petasan Kotori Alun-Alun Pengging Boyolali

Alun-Alun Pengging Boyolali dikotori dengan keberadaan sampah. Sebagian besar sampah itu adalah serpihan-serpihan kertas bekas petasan.

Makin Brutal, Pemboman Israel Tewaskan Satu Keluarga Palestina

Pemboman oleh pasukan Israel pada Kamis (13/5/2021) malam menumpas habis seluruh anggota sebuah keluarga Palestina di wilayah utara Jalur Gaza.

Ada Larangan Mudik, Bus dan Truk yang Masuk Solo Turun Drastis

Jumlah bus dan truk yang keluar masuk Kota Solo menurun drastis selama pemberlakuan larangan perjalanan mudik oleh Kementerian Perhubungan.

Satgas Covid-19 Evaluasi Kasus Selama Libur Lebaran

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, mengatakan belum bisa memperkirakan apakah terjadi lonjakan kasus Covid-19 selama libur Lebaran.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.