Kategori: Solo

Tak Punya Surat Nikah, Status Kependudukan Keluarga Di Gudang Angker Jajar Solo Jadi Ruwet


Solopos.com/Ichsan Kholif Rahman

Solopos.com, SOLO -- Keluarga Agus Prayitno, sebelumnya disebut Agus Supriyanto, 35, dan Noviyanti, 36, yang tinggal di gudang angker wilayah Jajar, Laweyan, Solo, ternyata belum menikah resmi di KUA.

Mereka tidak memiliki surat nikah. Hal itu membuat data kependudukan keluarga Agus jadi ruwet. Lurah Jajar, Sri Waluya Jati Utama, mengonfirmasi pasangan Agus Prayitno dan Noviyanti belum menikah secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA).

Kini tiga anak mereka pun belum memiliki data kependudukan yang jelas. "Itu memang belum suami istri secara resmi. Agus masih satu KK dengan orang tuanya yakni di Kerten, Laweyan. Kalau Noviyanti dari Semarang tapi KK-nya masih ikut ayahnya di Batam. Itu setelah saya lacak," papar dia kepada Solopos.com, Minggu (21/6/2020).

Nekat Bawa 13 Pelayat, Mobil Pikap Kecelakaan di Pracimantoro Wonogiri

Ia menambahkan saat ini pemerintah kelurahan Jajar maupun Kerten sedang berupaya mengurus data kependudukan keluarga yang tinggal di gudang angker di Solo itu.

Ia juga segera berkoordinasi dengan instansi lain agar keluarga itu tercatat memiliki anak. Dengan begitu hak-hak anak-anak mereka terfasilitasi. Selain itu juga agar keluarga Agus bisa memperoleh bantuan dari pemerintah.

Anak Tak Punya Akta Kelahiran

"Kalau satu KK kan tidak bisa dobel, saya dapat fotokopi KK Agus. Kalau si perempuan mengakunya dari Semarang tetapi saya tanya KK-nya ikut orang tuanya di Batam. Jadi agak sulit," papar dia.

Kades Di Mojolaban Sukoharjo Positif Covid-19, Perangkat Desa Jalani Rapid Test

Sementara itu, Agus Prayitno, saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (21/6/2020), mengakui belum menikah secara resmi di KUA. Karenanya pria yang tinggal bersama keluarga di gudang angker wilayah Jajar, Solo, itu belum memiliki buku nikah.

Selain itu, ketiga anaknya juga belum memiliki akta kelahiran. Ia mengaku baru menikah siri dengan Novi. "Pemerintah sedang membantu mengurusi data kependudukan saya, agar bisa memiliki data kependudukan lengkap," ujar Agus.

Ia mengaku sudah mendengar informasi dirinya akan dinikahkan secara resmi oleh beberapa pihak. Ia memilih manut demi kepentingan anak-anaknya.

Diduga Gangguan Jiwa, Warga Sidomulyo Sragen Nyaris Bakar Rumah Sendiri

Sementara itu, ia menyadari tidak adanya data kependudukan lengkap membuat keluarganya tidak memperoleh bantuan dari pemerintah.
"Ya saya menyadari dan saya tidak mengharapkan karena saya tahu kami tidak mempunyai data kependudukan lengkap," ujar Agus.

Agus dan Novi tinggal di gudang angker wilayah Jajar, Solo itu, bersama tiga anak mereka. Paling besar berusia 8 tahun saat ini duduk di kelas satu SD di Kerten. Anak kedua berusia lima tahun sedangkan anak ke tiga berusia 1,5 tahun.

Agus mengaku sebenarnya memiliki empat anak. Namun, salah satu anaknya meninggal dunia beberapa bulan setelah ia mendiami gudang pabrik es di tanah mangkrak itu.

Tabrak Pohon Saat Naik GL Pro di Sragen, Remaja Asal Jakarta Meninggal

"Anak ketiga saya meninggal dunia karena sakit diare. Sekitar tahun 2016 ia meninggal dunia. Sempat saya mencari pertolongan medis namun tidak tertolong," papar Agus.

Tanggung Jawab Besar

Pria gondrong bertubuh besar itu menyadari tengah membawa tanggung jawab besar bagi keluarganya. Beberapa tahun terakhir dia bekerja membantu di warung angkringan tak jauh dari gudang itu.

"Yang terpenting saya bekerja, saya tinggal di sini karena faktor ekonomi. Beruntung, semenjak saya diberitakan bantuan terus datang," papar dia.

Belasan Gelandangan dan Anak Punk di Sukoharjo Terjaring Razia

Agus menyebut bantuan itu sedikit meringankan beban kebutuhan keluarga itu di gudang angker wilayah Solo itu. Namun, sebenarnya bantuan itu sudah ada jauh sebelum ia viral di media sosial. Menurutnya, ada beberapa warga sekitar yang sering membantu kehidupannya.

Sedangkan Noviyanti tidak bisa bekerja untuk saat ini meski ia tahu penghasilan Agus belum cukup untuk menghidupi tiga anaknya. Ketiga anaknya belum bisa ia tinggalkan untuk bekerja.

"Anak-anak belum bisa ditinggalkan. Jadi terpaksa saya di sini saja. Sesekali ya keluar rumah untuk mengambil air atau berjalan-jalan," papar Novi.

Share