Tutup Iklan
ilustrasi Siswa SD. (Dok)

Solopos.com, SOLO — Sejumlah siswa SD di Solo mengaku jarang bahkan tak pernah membaca buku sehingga mereka sebal dan kesulitan saat harus membaca teks panjang.

Salah satunya siswa Kelas VI Sekolah Dasar Negeri (https://soloraya.solopos.com/read/20181112/489/952219/pelatihan-jurnalistik-siswa-sd-diminta-wawancara-pkl">SDN) Serengan 2 Solo, Nadia Octaviana. Ia enggan membaca soal yang teksnya panjang karena soal tersebut bertele–tele.

“Saya lebih suka membaca teks pendek. Soal dengan teks panjang terkadang tidak langsung pada poin permasalahannya. Sudah panjang, harus diulang berkali kali membacanya,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di https://soloraya.solopos.com/read/20190209/489/970719/sd-smp-swasta-di-solo-tidak-ikut-ppdb-online">SDN Serengan 2, Kamis (23/5/2019). Ia mengaku tak pernah membaca buku jika tidak disuruh guru atau orang tua saat berada di rumah. “Jarang banget baca buku. Isinya [buku] cuma teks, tidak ada gambarnya. Saya lebih suka baca buku yang banyak gambarnya,” ujar dia.

Sementara itu, siswa Kelas VIII SMP Batik Solo, Ratnasari, mengaku jarang sekali membaca buku dengan teks panjang. “Enggak pernah sama sekali. Saya mengerjakan soal dengan teks panjang hanya membaca dua paragrafnya,” ujar dia.

Menurut Ratnasari, teks panjang terlalu rumit. Banyak soal dengan teks panjang mempunyai jawaban yang hampir sama. Dia pernah mencoba membaca soal secara keseluruhan dari sebuah teks panjang. Namun, jawabannya hampir sama. “Sejak saat itu aku malas membaca buku. Paling kalau ada tugas, saya bisa cari melalui Google,” ujarnya.

Soal dengan jenis Higher Order Thinking Skill (HOTS) sering kali memunculkan teks panjang. Ratnasari sebal sekali saat harus mengerjakan soal HOTS. “Hampir bacaan teksnya setengah halaman kertas, terus jawabannya ada di tengah– tengah. Tapi, aku pernah enggak baca soalnya. Langsung aja aku jawab,” ujar dia.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Solo (DPKS), Joko Riyanto, menyebut daya baca https://semarang.solopos.com/read/20160517/515/720433/ujian-nasional-2016-2-siswa-sd-salatiga-tak-bisa-ujian-serentak">anak usia sekolah sangat rendah kendati minat baca mereka cukup tinggi. Malahan minat membaca media sosial di kalangan anak usia sekolah di Indonesia cukup tinggi.

“Nah, itu tidak diimbangi dengan daya baca buku yang sarat ilmu. Padahal membaca di Internet kurang fokus karena banyaknya iklan atau godaan membuka info lain yang tak ada kaitannya dengan materi,” kata dia.

Fenomena tersebut, kata dia, menyedihkan lantaran energi membaca siswa seharusnya dapat disalurkan untuk membaca buku yang menambah kecerdasan. Terlebih tidak semua informasi yang beredar di Internet benar. Joko berharap pemerintah dapat mengembangkan perpustakaan online yang mudah diakses siapa saja.

Ihwal pendidikan karakter, Joko mengingatkan pentingnya membiasakan budi pekerti yang baik sejak di lingkungan keluarga. Anak adalah mesin peniru yang baik sehingga pendidikan karakter paling mendasar berasal dari keluarga.

Untuk lingkungan sekolah, Joko meminta guru menyediakan buku budi pekerti bagi para siswa. Buku tersebut berisi rekam jejak perkembangan anak di sekolah. Sebaliknya buku budi pekerti disediakan mulai tingkat pendidikan dasar. Dengan demikian pembinaan karakter dapat berlanjut saat jenjang pendidikan lebih tinggi.

“Melalui pendidikan karakter, perilaku siswa bisa terpantau, prestasi dimaksimalkan, kelemahan diperbaiki, serta kenakalan anak bisa dicegah,” kata Joko.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten