Tak Kuat Nanjak, Minibus Rombongan Pengantin di Sambirejo Sragen Terperosok ke Tebing
Kondisi minibus pengangkut rombongan pengantin yang terperosok ke tebing karena tidak kuat menanjak di Desa Sambi, Sambirejo, Sragen, Sabtu (28/11/2020). (Istimewa)

Solopos.com, SRAGEN – Sebuah minibus pengangkut rombongan pengantin asal Wonorejo, Desa Bumiaji, Gondang, Sragen, mengalami kecelakaan tunggal. Minibus itu tidak kuat saat melewati jalan menanjak di Dukuh Tawangsari, Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Sragen, Sabtu (28/11/2020) hingga akhirnya terperosok.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, kegiatan ijab kabul digelar di rumah pengantin wanita di Wonorejo pada Rabu (25/11/2020) lalu. Sementara kegiatan ngunduh mantu ke rumah pengantin pria di Dukuh Sunggingan, RT 011, Desa Jambeyan, Sambirejo, Sragen, digelar Sabtu.

Kecelakaan tunggal itu terjadi sekitar pukul 09.15 WIB. Pada saat itu, minibus dengan kapasitas sekitar 20 penumpang itu berangkat dari rumah pengantin wanita menuju rumah pengantin pria untuk mengikuti kegiatan ngunduh mantu.

Kisah Pria Boyolali Rekam Guguran Lava di Puncak Merapi: Bebatuan Bergetar Hebat

Diduga sang sopir minibus belum hafal dengan kondisi jalan yang menanjak tajam seusai kendaraan melintasi tikungan jalan. Lantaran tidak kuat menanjak, minibus itu tiba-tiba berjalan mundur hingga membuat para penumpang histeris.

Beruntung tidak ada kendaraan lain di belakang minibus itu. Namun, minibus itu akhirnya anjlok ke tebing talut dengan posisi bagian belakang berada di bawah.

“Alhamdulillah, semua penumpang minibus selamat. Tidak ada yang terluka. Hanya ada seorang nenek yang trauma mungkin karena benturan atau kaget. Ia kemudian diantar pulang. Penumpang lainnya masih bisa mengikuti prosesi ngunduh mantu,” ujar Sugiyono, warga Sunggingan, kepada Solopos.com.

Resmi Nikah Lagi, Wakil Bupati Karanganyar Bulan Madu di Rumah Saja

Rawan Kecelakaan

Sugiyono mengakui jalan menanjak yang menghubungkan Waduk Bayut di Jambeyan rawan terjadi kecelakaan. Pada umumnya, kecelakaan terjadi karena pengemudi kendaraan belum hafal dengan medan jalan. Ada pula faktor human error atau rem blong.

“Saya sendiri pernah mengalami kecelakaan di sana pada 1999. Karena rem motor blong, saya menabrak truk hingga saya cedera pada jari kelingking,” papar Sugiyono.

Belum lama ini, sebuah truk juga menyerempet mobil Avanza di lokasi yang sama. Seorang warga juga mengalami patah tulang setelah mengalami kecelakaan tunggal akibat rem sepeda motornya blong.

“Kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia juga pernah terjadi,” jelas Sugiyono.

Pasutri Asal Wungu Madiun Terpapar Virus Corona, Diduga Tertular Anaknya

Dalam pertemuan warga dengan Dinas Perhubungan di Balai Desa Sukorejo pada akhir September lalu juga sempat disinggung perlunya pemasangan rambu cermin cembung di tikungan jalan itu. Akan tetapi, hingga kini rencana pemasangan cermin cembung itu belum terwujud.

“Sebaiknya diberi cermin cembung supaya kalau ada kendaraan lain yang melintas dari arah berlawanan bisa terlihat. Kalau jalan dibuat lebih landai saya kira tidak memungkinkan. Selain butuh biaya besar, itu akan karena akan membuat jalan lainnya lebih curam,” terang Sugiyono.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom