Tutup Iklan
Tak Hanya Lezat, Nasi Berkat Yang Dijual Warga Sukoharjo Ini Juga Bisa Jadi Obat Kangen
Nasi berkat yang dijual warga Sukoharjo bisa jadi obat kangen selama masa pandemi Covid-19. (Solopos/Indah Septiyaning W)

Solopos.com, SUKOHARJO — Sego atau nasi berkat seperti yang dijual pasangan suami istri Agus Widanarko, 39, dan Vivitsari, 34, di Sukoharjo tak hanya lezat.

Sego berkat itu juga bisa menjadi obat kangen. Seperti diketahui, sego berkat yang terdiri atas nasi, oseng soun, serundeng, oseng cabai, kentang, dan beberapa menu lain biasanya hanya dijumpai saat ada hajatan.

Belakangan ini karena pandemi Covid-19, hajatan dan segala bentuk kegiatan yang mengundang keramaian dilarang.

Pengin Dampingi Gibran di Pilkada Solo 2020, Wanita Cantik Ini Terus Blusukan

Akibatnya nasi berkat seperti yang dijual pasutri asal Sukoharjo itu makin jarang dijumpai. Tak mengherankan jika sego berkat itu menjadi viral belakangan ini di kalangan masyarakat Soloraya.

Sajian kuliner khas daerah ini kini banyak dijajakan secara online selama pandemi Covid-19. Termasuk Agus Widanarko dan  Vivitsari yang berjualan nasi berkat di timur RSUD Ir Soekarno Sukoharjo.

nasi berkat sukoharjo
Nasi berkat yang dijual warga Sukoharjo bisa jadi obat kangen selama masa pandemi Covid-19. (Istimewa)

Pasangan ini memilih menjual nasi berkat khas Wonogirinan. Berbungkus daun jati, sego berkat itu berisi nasi, sambel cabai hijau, bihun, sambel goreng kentang dan terik daging sapi.

Kasus Baru! Perempuan Lansia Purwosari Jadi Pasien Positif Covid-19 Ke-43 di Solo

“Sego berkat Wonogirinan ini khas ada sambel goreng kentang dan lombok hijau asli dari Wonogiri. Bungkusnya juga pakai godong jati,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (2/7/2020).

Dirumahkan Akibat Covid-19

Penjual nasi berkat di Sukoharjo itu mengatakan banyak pembeli yang rindu akan makan makanan tradisional itu. Selama pandemi corona, aktivitas masyarakat dibatasi termasuk dilarang menggelar hajatan.

Padahal biasanya saat musim mudik Lebaran lalu banyak warga perantauan yang mudik dan ingin menikmati nasi berkat. Begitu pula saat bulan Syawal banyak warga yang menggelar hajatan dan membagikan nasi berkat. Namun hal itu tidak bisa dilakukan karena larangan menggelar hajatan.

3 Kali Kalah, Begini Perjalanan Gugatan Hukum Kasus Tabrak Lari Flyover Manahan Solo

“Jadi masyarakat rindu akan nasi berkat. Ini saya rasakan saat pertama menjual nasi berkat sebulan lalu, respons pembeli sangat tinggi. Ternyata mereka pada kangen makan nasi berkat,” katanya warga Sukoharjo tersebut.

Dia pun berharap dengan menjual nasi berkat bisa menjadi berkah baik dirinya maupun pembeli. Hal ini sesuai dengan filosofi nasi berkat yang bisa memberikan berkah bagi yang memakannya.

Tak hanya berkah, nasi berkat juga rasanya nikmat jika dimakan dengan berbungkus daun jati. “Saya dan istri itu terdampak Covid-19. Kami dirumahkan sementara sejak pandemi Covid-19. Jadi kami harap nasi berkat ini menjadi berkah buat kami dan pembeli,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom

Pasang Baliho