Ilustrasi money politics (Solopos-Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, SEMARANG — Partai Amanat Nasional (PAN) gagal mengirimkan satu pun wakilnya dari Jawa Tengah (Jateng) untuk duduk di kursi DPR, Senayan, pada Pemilu 2019. Padahal, di pemilu sebelumnya partai berlambang matahari putih itu mampu merebut 8 kursi DPR dari daerah pemilihan (dapil) Jateng.

Wakil Ketua DPW PAN Jateng, Agung Wisnu Kusuma, menilai kondisi itu sebagai hal yang sangat luar biasa. Kegagalan itu dianggap Agung lebih dikarenakan partainya tak kuat mengalami hantaman money politics yang luar biasa masif dari para rival.

“Kondisinya seperti itu, kami anggap itu dinamis dari 8 ke 0. Salah satu faktor yang money politics. Kita enggak siap menghadapi tsunami money politics yang ada di Jateng,” ujar Agung saat berbincang dengan Semarangpos.com di Kantor KPU Jateng, Kota Semarang, Sabtu (11/5/2019) malam.

Agung mengatakan metode money politics di Jateng sudah seperti tsunami. Hal itu dikarenakan cara-cara meraih simpati massa dengan memberikan imbalan uang di Jateng tidak lagi dilakukan dengan cara terselubung, tapi terbuka.

“Ada salah satu caleg terpilih kami di wilayah Jateng selatan mengatakan, money politics sudah sangat terbuka. Bahkan, di depan rumahnya dimasuki partai lain yang menawarkan money politics. Untungnya, dia tetap terpilih. Tapi itu membuktikan betapa terbukanya cara-cara seperti itu,” terang Agung.

Kendati demikian, Agung memastikan PAN tidak akan menggunakan cara money politics untuk menghadapi pemilu ke depan. Pihaknya mengaku akan menggunakan cara-cara yang fair untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap PAN.

“Evaluasi jelas ada. Kita akan konsentrasi lagi 5 tahun ke depan, kalau kaget dan shock enggak, tapi evaluasi tetap ada,” imbuhnya.

Selain masalah money politics, Agung mengaku kegagalan PAN di Jateng tahun ini juga disebabkan berbagai faktor. Salah satunya kesolidan PAN dalam mendukung pasangan calon (paslon) nomor urut 02 pada Pilpres 2019.

Raihan paslon 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, di Jateng yang tidak terlalu signifikan seakan sebanding dengan apa yang diraih PAN.

“Faktor lain yakni perpindahan kantor pusat BPN di Jateng [Solo]. Dengan dipindahnya markas BPN di Jateng pertarungan lokal jadi terasa. Saat di Jakarta, pertarungannya lebih nasional,” ujarnya.

http://semarang.solopos.com/">KLIK dan https://www.facebook.com/SemarangPos">LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten