Tak Boleh Buka Saat Libur Panjang, Pengelola Wisata Wonogiri Gigit Jari
Wisata Waduk Gajah Mungkur Wonogiri ditutup sejak Maret lalu. Foto diambil belum lama ini. (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI — Pengelola tempat wisata di Wonogiri gigit jari pada masa libur panjang, 28-31 Oktober 2020 ini. Pasalnya, Pemkab belum membolehkan tempat wisata dibuka hingga waktu yang belum ditentukan.

Seperti diketahui, pemerintah daerah lain sudah membolehkan tempat wisata dibuka, seperti Karanganyar, Klaten, Solo, dan lainnya. Wisatawan berbondong-bondong ke berbagai objek wisata di daerah tersebut pada momen libur panjang ini.

Namun, lain halnya dengan Wonogiri. Pemkab masih melarang pengelola membuka tempat wisata. Aturan larangan itu terbit sejak Maret atau saat Covid-19 mulai mewabah di Wonogiri.

Muncul Lagi Klaster Perkantoran Di Karanganyar, 11 Orang Positif Covid-19

Pantauan Solopos.com di tempat wisata unggulan Wonogiri, Wisata Waduk Gajah Mungkur atau WGM, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, hari pertama libur panjang, Rabu (26/10/2020), gerbang di sisi barat dan timur tertutup rapat. Di pintu terdapat MMT berisi informasi bahwa tempat wisata tersebut tutup total. Wisata WGM dikelola Pemkab.

Wisata lain yang juga dikelola Pemkab, seperti Pantai Sembukan, Paranggupito; Air Terjun Giri Manik, Slogohimo; Museum Karst, Pracimantoro; Goa Putri Kencana, Pracimantoro; dan wisata religi Kahyangan, Tirtomoyo. Semua tutup sejak Pemkab melarang pengelola membukanya untuk mencegah penularan Covid-19. Wisata unggulan yang dikelola desa, seperti Watu Cenik dan Puncak Joglo, Sendang, juga tutup.

Kepala UPTD Pengelolaan Wisata Wonogiri, Pardianto, mengatakan pihaknya belum akan membuka tempat wisata sebelum diizinkan. Dia meyakini apabila momen libur panjang ini sudah buka, Wisata WGM dan wisata yang dikelola Pemkab Wonogiri lainnya dapat meraup pendapatan cukup besar.

Dia mencontohkan tingkat kunjungan di Wisata WGM. Pada momen liburan di kondisi normal, pengunjung bisa mencapai lebih dari 2.000 orang/hari atau naik empat kali lipat dari hari biasa. Harga tiket masuk hari biasa Rp10.000/orang dan pada akhir pekan Rp14.00.00/orang.

Pendapatan

Dengan patokan jumlah pengunjung 2.000 orang dan harga tiket Rp10.000/orang, pendapatan dari tiket saja mencapai Rp20 juta/hari. Pendapatan itu belum termasuk dari tiket wahana, seperti jelajah waduk menggunakan perahu, permainan anak, dan sebagainya. Tiket wahana minimal Rp5.000/orang.

“Tapi mau bagaimana lagi. Kami harus menutup tempat wisata. Meski ditutup, tetap ada pengeluaran ratusan juta rupiah karena kami harus merawat sarana prasarana, memberi makan satwa, dan membayar gaji karyawan. Kami tak mengurangi karyawan. Di Wisata WGM ada 35 karyawan di wisata lain ada 15 karyawan,” kata Pardianto kepada Solopos.com, Jumat (30/10/2020).

Terpisah, Kepala Desa Sendang, Sukamto, menginformasikan hingga Jumat tempat wisata di desanya masih tutup untuk umum. Pengelola hanya melayani jika ada pihak yang studi banding atau latihan paralayang/gantole untuk persiapan kejuaraan. Dia tak mempermasalahkannya meski kehilangan potensi pendapatan yang cukup besar.

Begini Alur Pemungutan Suara di TPS Pilkada Solo 2020 dengan Protokol Kesehatan

Pada kondisi normal, ratusan orang mengunjungi Watu Cenik dan Puncak Joglo setiap hari. Pada akhir pekan atau momen libur panjang lebih banyak lagi. Lelaki yang akrab disapa Kamto itu menegaskan Pemerintah Desa Sendang dan BUM Desa Sendang Pinilih selaku pengelola mematuhi kebijakan Pemkab. Dia meyakini Pemkab memiliki pertimbangan matang dalam mengambil kebijakan.

“Kebijakan ini [pelarangan tempat wisata dibuka] dibuat tentu agar tidak ada klaster [penularan Covid-19] di tempat wisata. Ini demi keselamatan bersama. Kami taat aturan,” ujar Kades.

Pengelola wisata alam dan edukasi, Dam Gajah, Sidoharjo, Agus Setiyono, menginformasikan hal sama. Tempat wisata yang dikelolanya masih tutup. Pihaknya akan membuka jika Pemkab sudah membolehkan.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom